Kulo Tiyang Sae

Pe-er yang Tertunda

May 5, 2008 · 11 Comments

Jaah… pe-er dari mbak kulkas ini udah basi kayaknya. Tapi seperti halnya dulu, tiap kali guru saya nanyain pe-er, saya selalu jawab, “wah, buku saya ketinggalan. besok ya, bu…”.

Jadi, mbak kulkas, saya baru bawa bukunya hari ini.

I’m passionate about..
Bersih2 to-do list.

I mostly say…
1. dhus!
Dus, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kotak dr kertas tebal (karton); dos; kardus. Sebagian orang memaknainya sebagai terjemahan dari kata Bahasa Inggris thus, yang artinya kurang lebih adalah sehingga.

Tapi di Malang, dhus lebih dikenal sebagai kependekan dari wedhus. Ya, wedhus yang artinya kambing itu, sebuah bentuk personifikasi spesies Capra aegagrus hircus yang kerap diucapkan sebagai bentuk kekesalan terhadap sesuatu/seseorang. Cocok diucapkan dalam kondisi shit happens.

Alternatifnya adalah dhes! yang berasal dari kata bedhes (monyet, red).

2. Wek ik!!
Sampai saat ini saya belum dapat padanan kata yang pas untuk ungkapan ini. Contoh penggunaannya dalam percakapan sehari2 kira2 seperti ini:

- dalam bentuk negatif,
“bayaran ulan iki mundur seminggu” (gajian bulan ini mundur seminggu)
“wek ik!! sing genah ae!!” (gila!! yang bener aja!!)

+ dalam bentuk positif,
“eh, deloken kameraku. tas tuku iki” (eh, liat deh kameraku. baru beli nih)
“weeek iik!! mbois rek!!” (giila!! keren, coy!!)

Meskipun dalam contoh diatas wek ik selalu diterjemahkan sebagai gila, dia tidak bisa digunakan dalam contoh kalimat berikut,
“awas!! ono wong wek ik!!” (awas!! ada orang gila!!).
Karena fungsinya memang hanya sebagai ungkapan terhadap sesuatu yang tidak biasa (baik maupun buruk).

Semakin panjang pengucapan weeek dan semakin pendek pengucapan ik akan memberikan penekanan yang lebih. Contoh,
“weeeeeekk ik!!!” (giiiiiiilaaaaaa!!!)
Dan pelafalan huruf w yang mendekati lafal v, akan lebih mendramatisir suasana. Contoh,
“VHEEEEEEE IKKK!!” (GHIIIILAAAAA!!).
Sekali lagi, saya belum dapat padanan kata yang pas.

I’ve just finished reading…
My latest post, right before i posted it.

Before I die, I really want to…
Wah, berat ini. Nggak bakalan cukup kalo mau ditulis di sini :p. Tapi yang jelas, di samping hal2 religius, saya pingin banget punya kafe bronis.

I love to listen to…
Her voice ^^
Untuk urusan musik, predictable kok. Anything jazzy lah pokoknya.

My friends like me because of…
Mungkin fakta bahwa saya bukan Roy Suryo, dan saya punya blog :))

Tapi jujur, saya nggak tau ‘apanya saya’ yang bikin temen2 saya suka. Eh, maksud saya, saya nggak tau kenapa temen2 saya pada suka, gitu.

Hmm… masa sih mereka suka saya? As long as they dont hate me, that’d be OK :)

I’ve learned last year that…
I really need glasses :))

Jadi begitulah. Maaf baru sempat dikerjain sekarang m(_ _)m.

O iya, posting ini juga menepis anggapan sebagian kalangan yang bilang saya menghilang.

Categories: java · linguistics · posts
Tagged: ,

11 responses so far ↓

  • venus // May 5, 2008 at 2:07 pm | Reply

    so you’re back. hm. glad to see you back :D

    Gum: ah… thank you, mbok. bromo brought my passion for blogging back :D

  • ika // May 5, 2008 at 2:08 pm | Reply

    haha akhirna dibikin jg pr na. btw ngilang sediluk yo rak popo,ngeblog trs kan ono bosene. sing pnting bar hiatus metu maneh,hehe

    Gum: hu uh. tapi saya hampir keenakan hiatus lho :D

  • sluman slumun slamet // May 5, 2008 at 5:03 pm | Reply

    hahahahahahahhaha
    akhire mecungul jugah….

    Gum: iyo, kang. pancen sempat mendelep

  • Aryo Sanjaya // May 6, 2008 at 2:10 am | Reply

    berikut ini morfologi dari kata wek ik:

    wek ik <- wencik <- jancik <- jancuk <- diancuk

    -pemerhati kata

    Gum: keliru sampeyan. wek ik sama jan**k berasal dari akar kata yang berbeda. ayo kapan2 kita seminarkan
    - praktisi

  • edy // May 6, 2008 at 4:33 am | Reply

    yak pr-nya bagus…

  • Aryo Sanjaya // May 6, 2008 at 7:06 am | Reply

    Ayo wes, kita bikin seminar dengan topik:
    “Menggali akar kata weik dan jan***cuk dengan multi-perspektif dan kaitannya dalam budaya terkini”

    btw, lek arek-arek KE gumun, biasane omong misale:
    jancik, akehe!

    podo kan karo ‘wek ik’?

    iku engko dibahas ndek sesi pertama

  • sluman slumun slamet // May 8, 2008 at 7:15 am | Reply

    Jancuk semakin membudaya, bkn hanya di ngalam dan suroboyo.

    Gum: setahu saya, makna kata jan**k di malang itu belum seramah di surabaya, mas. sampeyan belum bisa mengumbar kata itu di sini. belum waktunya. iklim di malang belum terlalu panas untuk itu.

    Lha cahandong jg dah kena sindrom jancukisme. Jancukarta, sebutan baru buat kota laknat.
    Btw, saya termasuk pengguna kata cuk, dhus, su, thel, leng. Sebuah kata perekat silaturahmi. Kang, kalo aku di malang, mojok yuk…

    Gum: ya monggo saya dikabari jauh-jauhari biar bisa sisihkan waktu diantara jadwal syuting saya.

  • Nazieb // May 8, 2008 at 9:47 am | Reply

    Hoh!! Tapi setidaknya ndak seperti di Jancukarta, yang malah Jancuk sendiri kalah populer dibanding pisuhan lainnya.. (bagi warga aseli maksud sayah. Kalo orang Jawa sih, cak cuk cak cuk terus :D )

  • rlyna // May 8, 2008 at 12:27 pm | Reply

    jadi kapan seminarnyah?

  • Jauhari // May 14, 2008 at 2:18 am | Reply

    Jadi intinya GuM Jan**k?????

    *kabur…..

  • Elys Welt // May 14, 2008 at 7:27 am | Reply

    kayak anak sekolahan saja dapat pe er :D

Leave a Comment