Familiar dengan semboyan di atas? Betul, itu saya ambil dari semboyan kepolisian negeri ini.
Tapi sayang sekali semboyan yang mulia ini kadang dinodai oleh oknum2 polisi sendiri. Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat kepada lembaga kepolisian, ijinkan saya berbagi pengalaman nggak menyenangkan dengan sebagian oknum tersebut.
Hari Sabtu kemarin, selesai menghadiri acara Coin Collecting Day di Kedai Kopitiam Jalan Sabang, saya dan istri pulang menuju Pondok Kelapa melewati Jalan Sutan Syahrir (antara Bundaran HI dan Taman Menteng). Karena lampu lalulintas di perempatan sedang menyala hijau dan kendaraan di kiri-kanan masih berhenti, saya yang kebetulan saat itu adalah satu2nya pengguna jalan yang menuju ke arah taman mentengpun terus jalan.
Nggak lama setelah melewati perempatan, dari pinggir jalan yang gelap muncul seorang anggota polisi lalulintas menghentikan motor saya. Seorang lagi hanya duduk di sepeda motor dan memperhatikan.
Polisi yang menghentikan saya tadi menghampiri dan tiba2 menuduh, “Kalau lampu merah ya berhenti, mas”.
Kaget dengan tuduhan itu, sayapun menolak dikatakan demikian. Gimana nggak menolak, sampai saat saya berhenti di situ kendaraan dari arah kiri dan kanan bahkan masih belum jalan.
Sempat terjadi adu argumen antara saya dan polisi itu karena kami dianggap berbohong, sampai akhirnya istri saya ikut nggak terima dituduh seperti itu dan spontan berkata, “Astaghfirullah… bulan puasa, pak!”.
Merasa gertakannya nggak mempan, polisi tadi meminta saya menunjukkan surat2 sambil memeriksa kelengkapan motor saya. Karena tidak merasa menemukan hal2 yang bisa menjerat saya dengan pasal pelanggaran lalulitas apapun, polisi itu membiarkan saya meneruskan perjalanan, tanpa sedikitpun meminta maaf karena telah salah tuduh dan mengganggu perjalanan saya.
Dengan apa yang baru saja saya alami, rasanya sulit sekali untuk tidak berpikiran negatif. Termasuk pikiran negatif bahwa oknum polisi tersebut sengaja menjebak pengguna jalan dengan mencari2 alasan untuk menghentikan kendaraan dan akhirnya mencari2 kesalahan. Maafkan saya. Saya hanya berharap tidak ada lagi oknum polisi lalu lintas yang dengan seenaknya main tuduh terhadap pengguna jalan demi tujuan apapun.
Tentunya kita semua berharap agar setiap anggota kepolisian mampu mengemban semboyannya dengan sepenuh hati dengan nggak menunjukan sikap2 yang nggak terpuji.





10 responses so far ↓
chemud // September 16, 2009 at 3:19 am |
hati-hati om..
bisa jadi ituh polisi gadungan..
untung tdk terjadi apa”..
hedi // September 16, 2009 at 11:53 am |
rasa-rasanya itu reserse atau polisi gadungan, bukan polantas. Sebab mereka ga akan pernah ngejar kita dengan boncengan.
gum: saya ndak dikejar, mas. tapi dicegat di tempat sepi dan disuruh ngaku nerobos lampu merah
-GoenRock- // September 16, 2009 at 12:37 pm |
Wah, polisine gak entuk THR po ya?
pinkparis // September 16, 2009 at 2:06 pm |
agree with -GoenRock-, kayaknya dia lagi cari THR (duh, jadi ikutan berburuk sangka)
g0d3r // September 16, 2009 at 3:12 pm |
sepak ae wis…..
ferdhie // September 17, 2009 at 4:34 am |
polisi juga manusia, maklum aja..
minta aja surat tilang yg biru , tinggal bayar, beres
dilla // September 17, 2009 at 9:23 am |
matanya lagi kelilipen kali mas..
jadi salah liat..
*komen opo iki*
:lol:
belajar membuat blog // September 23, 2009 at 10:07 pm |
biasae kalo polantas ikat pinggangnya warna putih (setau saya gitu) kalo iket pinggang warna laen biasanya ga bawa surat tilang karena bukan polantas.
mohon dikoreksi kalo salah :D
titiw // September 25, 2009 at 10:10 pm |
ANJRIT ngeselin abis. Aku aja yg cuma ngebaca ceritanya spanning banget. Apalagi situ. Wajar kalo istri mas Gum bilang gitu. Mungkin masih diperbolehkan ngomong “Astagfiruloh.. bulan puasa Pak!” Sambil jewer kuping si polis. D’oh.
galz25 // September 30, 2009 at 4:02 pm |
hmmm…..buat ku tidak mengayomi, tdk merasa terlindungi dan dilayani…bukannya takut juga, ilfeel aja gituh dengan mereka gak tau knp ya. krg respek. walaupun banyak sih yg baik siiih….hmmm i stilli prefer respect with army..
om….minal aidzin yaaaaw maaf lahir batin…kapan main ke rmh sm mbak intan…eh tante..hihi