Entah bagaimana sejarahnya sehingga ada yang mengisikan ‘Swasta’ dalam kolom jenis pekerjaan pada formulir isian data pribadi. Hasilnya bisa kita lihat pada KTP, SIM, Kartu Keluarga, Anda sebut saja.
Maksudnya mungkin kependekan dari ‘Pegawai Swasta’. Tapi bukankah itu aneh, karena berarti sah-sah saja mencantumkan ‘Negeri’ sebagai kependekan dari Pegawai Negeri? Lagipula ‘Swasta’ ini biasanya juga mewakili profesi yang jelas-jelas independen (tidak terikat pada suatu instansi) sehingga pelakunya tidak bisa disebut pegawai/karyawan.
Menurut saya, kebiasaan lama ini muncul karena profesi macam Fulltime Blogger, Sowftware Developer, Professional WordPress Themes Designer, Content Writer, Blogging Service Owner, atau Movie Director belum lazim muncul dalam daftar profesi di data kependudukan tingkat kecamatan. Sehingga daripada repot harus menjelaskan, maka diisi saja ’swasta’. Beres. Hehehe, saya bercanda kok.
Tapi biar bagaimanapun, kolom pekerjaan seharusnya memang diisi dengan kata benda seperti dosen, polisi, kyai, laskar, pakar, atau salah satu yang saya sebutkan di atas tadi. Lazim atau tidak lazim.
Sedangkan swasta adalah kata sifat yang berarti ‘bukan milik pemerintah’. Agar menjadi kata benda, dia harus menjelaskan sesuatu. Contohnya ya itu tadi, Pegawai Swasta, Dosen Swasta, apapun lah, yang merupakan versi ‘non-pemerintah’ dari profesi berembel-embel ‘negeri’.
Lalu menurut Anda, apakah Mahasiswa dan Ibu Rumah Tangga bisa dimasukkan dalam kolom pekerjaan?









