Kulo Tiyang Sae

Entries tagged as ‘jakarta’

Anuan Jakarta

March 19, 2009 · 18 Comments

Sore tadi Simbok tiba2 sms saya, ngajak ketemuan di Plaza Semanggi bareng Goenrock dan yang lainnya. Kesempatan, pikir saya, untuk bisa ketemuan sama KoJakers.

Baru bisa berangkat jam 7 malam karena nyonya udah keburu pulang waktu saya sms soal ini. Kalau bisa ngasih tau lebih awal, mungkin tadi saya bisa sekalian jemput nyonya sebelum ke Plaza Semanggi.

O iya, perlu dicatat, yang kami lakukan tadi bukan kopdar, tapi anuan. Karena saru tampaknya untuk mengucapkan ‘that K word’ :))

anuan

Jadi inilah peserta anuan tadi (kiri-kanan): Omith, Simbok Venus and Precils, Oki, Suprie, Nyonya, Saya, Goen, Chic (Joey ikutan dateng, tapi pas sedang nggak di situ), Epat.

img_5258_resize_resize

Dan dengan beranuannya kami dengan para KoJakers itu, lengkap sudah persyaratan untuk diterima jadi member milis KoJak. Goen langsung meng-invite saya dan nyonya saat itu juga.

It’s fun to have some new friends, online or offline. Makasih semuanya. Terutama Simbok yang rela bertaksi ria dari/ke lokasi, dan Goen yang udah invite saya dan nyonya ke milis.

Categories: posts
Tagged: , , , , ,

Katepe oh katepe

December 16, 2008 · 18 Comments

Setelah pindah ke Jakarta dan resmi menjadi warga gelap selama beberapa minggu di sini (tanpa KTP dan nggak terdaftar di KK manapun), hari ini saya mulai ngurus KTP ke kelurahan dan kecamatan dengan bekal surat pengantar dari RT/RW di tempat tinggal nyonya.

Di kantor kelurahan cuma diminta nyumbang PMI dua ribu perak. Padahal kalo di Malang, pasti ditodong dengan kata2 “biaya administrasi seikhlasnya, mas.” :))

Gini deh, yang namanya biaya administrasi RESMI, harusnya sudah ada ketentuannya kan? Maksud saya besar biaya dan alokasinya. Jadi kalau ’seikhlasnya’, ya Anda pikir sendiri ;)

Beres urusan di kelurahan, saya ke kantor kecamatan yang bau pesing itu. Nah, di sini yang bikin saya lumayan jengkel. Ternyata ada dokumen yang harus difotokopi dulu sebelum dibawa ke kecamatan dan petugas di kelurahan tadi sama sekali nggak ngasih tau. Akibatnya, saya mesti cari2 tempat fotokopi yang ternyata lumayan jauh dari kantor kecamatan.

Setelah menyerahkan hasil fotokopian, ibu2 petugas di kecamatan nanya ke saya, “Aslinya mana, mas?”

“Malang, bu”, kata saya sambil cengar-cengir. Ah, petugas kecamatan di sini lumayan baik, masih mau ngajak ngobrol basa-basi. Yah, setidaknya bikin kejengkelan saya terhadap kepesingan tadi lumayan luntur.

Tapi ternyata saya salah. Karena setelah itu si ibu akhirnya bilang, “Bukaaan, itu dokumen aslinya tadi manaa??”

eh… kecut… tengsin, buang muka sejauh2nya.

Urusan di kecamatan akhirnya beres dengan biaya duabelas ribu. Sepuluh ribu adalah denda karena saya terlambat ngurusnya, dan dua ribu lagi(-lagi) untuk dana PMI. Yeah! Dan sayapun disuruh balik ke kelurahan.

Di kelurahan, dokumen masuk, kasih foto selembar, no additional fee. Beres. Keren!

“Oke, mas. Berkasnya sudah lengkap semua”, kata si bapak. Sukurlah, kata saya dalam hati. “Tinggal nunggu sampai katepenya jadi ya”, tambahnya.

“Kapan, pak?”, tanya saya berbinar2.

“Juni 2009″

*pingsan*

skcp_crop

silakan diklik untuk ukuran penuhnya.

Yah, setidaknya saya jadi ikut antusias nunggu pilpress 2009 nanti. Bukan karena saya kegatelan pingin nyoblos. Tapi saat itu katepe saya jadi.

Anda yang punya pengalaman sebagai petugas kelurahan/kecamatan di Jakarta, atau malah yang pernah jadi pendatang kayak saya, mohon seikhlasnya sharing di kolom komen, dong. Enam bulan itu wajar nggak sih untuk sekedar nunggu katepe jadi?

Categories: jakarta
Tagged: , ,

Kepunahan Media

August 21, 2008 · 15 Comments

Hingga saat ini kita mungkin sudah sering menyaksikan kepunahan suatu media, baik cetak maupun elektronik (apapun formatnya). Dampaknya jelas akan sangat terasa bagi audience setianya.

Berheti beroperasinya sebuah media bisa jadi diakibatkan oleh banyak hal. Pemberedelan semena2 oleh penguasa, masalah hukum, terhambat masalah dana, pergantian pemilik, atau mungkin karena pergantian format.

Radio 999 CNJ DJakarta Tamat Riwayatnya

Apapun alasannya, berhenti beroperasinya Radio 999 CNJ DJakarta tentu menyisakan duka mendalam bagi para pecinta jazz, seperti saya. Isu berganti format benar2 susah diterima, di tengah atmosfir jazz yang mulai segar di negeri ini.

Saya mendapat kabar sedih ini dari wartajazz, situs berita jazz indonesia. Kabarnya, hari ini adalah hari terakhir CNJ siaran.

Lebih sedih lagi (hampir menitikkan air mata, beneran!) membaca email perpisahan dari redaksi CNJ, seperti yg saya kutip dari wartajazz berikut ini:

Salam Perpisahan

5 tahun kita bersama…
5 tahun kami telah menemani anda…
5 tahun adalah masa masa indah…
Dimana kemerdekaan jazz dan
indahnya musik klasik coba dibangkitkan

Kini kami mengundurkan diri dari media dengar anda
Akankah kita bersua lagi?
Hanya Tuhan yang tahu…

Terimakasih tak terhingga
Kepada teman teman yang sudah bersama 999FM CNJ Djakarta
untuk segala perhatian, kerjasama,  partisipasi, support
dan kedekatan yang tidak akan mungkin terlupakan…

999 CNJ Djakarta team:

Benny Sofwan
Indrawan Ibonk
Iken Margaretha
Ratna Cahya
Rachmat Basuki (Kiky)
M. Farhan Alam
Shandy Triyana
Sunny

Saya dan CNJ

Cerita perkenalan saya dengan CNJ berawal pertengahan 2005 lalu waktu saya masih kerja di Tangerang. Meskipun sudah nggak kerasan kerja di sana, salah satu alasan saya berat meninggalkan Tangerang ya CNJ itu. Seumur hidup baru sekali itu saya menemukan stasiun radio yang selama 24 jam nonstop menyuguhkan musik2 klasik dan jazz, tanpa iklan. Sedih, karena saya tau persis, di Malang belum ada stasiun yg mengkhususkan eksis di jalur jazz.

Karena itu, tiap kali ada kesempatan ke Jakarta saya selalu menyempatkan diri untuk mampir ke frekuensi CNJ.

Selamatkan CNJ

Anyone, kalau ada apapun yg bisa dilakukan untuk menyelamatkan CNJ dimana saya bisa berpartisipasi (petisi online, misalnya), saya benar2 bersedia ikutan.

Save CNJ, save jazz in this country.

– gum

Categories: musics
Tagged: , , , ,

Uncaptured Moments, at a Glance

July 21, 2008 · 19 Comments

Ya2, memang kebiasaan buruk saya meninggalkan blog begitu saja setelah satu-dua postingan, sampai dua kali disentil seperti ini. Abis mau gimana lagi? Karena satu dan lain hal, banyak momen yang terlewat dan nggak terukir di sini. RSS Reader juga udah lama nggak saya buka.

Jadi ceritanya sekarang saya mau nge-rapel momen2 beberapa minggu kemarin.

Gum Goes to Jakarta (GGTJ *halah*)

Pertengahan bulan kemarin saya ke Jakarta buat ketemuan sama Intan, setelah sekian bulan hanya bisa bertukar suara lewat esia yg bermasalah itu. Kebetulan tanggal 11 kemarin adalah hari terakhirnya di kantor lama. Jadi sekalian nemenin dia perpisahan, gitu.

Yang sempat bikin sebel, saya dimanfaatin sama kantor untuk sekalian meeting di Jakarta. Mumpung saya di sana, katanya. Tapi terbayar, kok. Tiket pesawat Jakarta-Malang ditanggung kantor *besok2 lagi ya boss*.

Tapi perjalanan dengan pesawat kali ini sudah nggak bikin saya deg2an lagi. Soalnya saya sekarang lebih trauma naik taksi burung biru. Gimana nggak? Di jalan tol keluar dari bandara, supirnya ketiduran!! Asli ini!! Tidur yang merem gitu. Sampe hampir nabrak sedan Lexus kinyis-kinyis di depan.

Buat yg kebetulan naik taksi ini dengan nomer lambung EB 1773, titip salam buat supirnya ya :D

Mas Goen, ternyata kita kaum senasib yang cuma beda tampang ya. Masih kerenan saya gitu maksudnya *ngumpet*.

Oh iya. Kali ini, thanks to Edwin, kita sempat foto2 dengan kamera yang lebih beradab di tangan yang tepat pula.

Yep, dua mahluk kucel di atas itu Intan dan saya.

Eh, pulang pergi Jakarta-Malang kemarin saya kebarengan orang2 tipi terus. Dari Malang kebarengan Squad Arema. Pulangnya kebarengan Andi Malarangeng dan rombongnya rombongan. Trus di Bandara Abdurrahman Saleh ketemu juga sama Ari Dagink. Ada apa ini? Apakah pertanda saya akan terkenal? :D

*buat simbok: maap belum sempat mampir yaa*

Niece’s First Day At School

“Ooom, aku tadi belajar nyanyiii…”

Hari itu saya baru aja dateng dari Jakarta. Baru aja nyampe rumah dan sedang ngobrol sama Bapak saat tiba2 malaikat kecil ini berteriak girang dan nubruk saya dari belakang, lengkap dengan seragam TK dan tas punggungnya. Ya, itu adalah hari pertamanya di sekolah.

Sambil saya pangku, saya tanya dia, “Adek nyanyi apa tadi?”. “Nggak tau”, jawabnya. Hihihi…

“Aku udah sekolah, jadi udah nggak boleh ngompol lagi kata bu guru”. Yah, semoga ^^;;

Mahluk mungil itu sekarang sudah sekolah :)

Saya Masuk Malem Lagi

Sejak hari ini saya resmi masuk malem lagi, mengulang kehidupan sebagai mahluk nocturnal seperti dulu. Padahal kondisi sedang nggak fit. Flu yang sudah berlangsung lebih dari seminggu menyisakan batuk yang berkepanjangan. Semoga besok sembuh, soalnya mau ada acara nonton bareng sama orang2 kantor. Nggak seru kan kalo saya jadi pengisi suara di bioskop.

Hehe, masuk malem lagi. Apakah kinerja saya akan membaik atau memburuk? Apakah blog ini akan makin sering saya rawat atau justru makin sering sepi? Apakah koleksi jazz saya akan bertambah (*)? Kita liat aja nanti *uhuk*.

Maka sekianlah postingan saya yang banjir link dan miskin bobot kali ini. Buat yang sudah nyentil saya untuk update, terima kasih ya. It’s really nice to know that some people out there still waiting any news from you :)

(*) koleksi jazz saya yang bergiga2 itu saya dapat selama masuk malam dulu :p

Categories: posts
Tagged: , , , ,

The First Visit

November 27, 2007 · Leave a Comment

It was 23rd of November.

I was there, for her b’day.

No, we didn’t stare at the moon from the same place.

We didn’t spend our time together on rainy days.

But still, it means a lot to us.

And there’ll be time for us to be togeher again.

Happy birthday, dear.

Categories: posts
Tagged: ,