Kulo Tiyang Sae

Entries tagged as ‘jazz’

CD Melody Gardot dari WartaJazz.com

July 21, 2009 · 9 Comments

Dua-tiga hari belakangan ini saya selalu sibuk nanyain orang rumah apakah ada paket buat saya atau nggak, dan selalu dijawab ‘nggak’.

Yang ditunggu? Ini dia. Nama saya ada di situ sebagai salah satu dari 20 orang yang berhak mendapatkan CD Melody Gardot yang My One and Only Thrill geratis :D

Akhirnya tadi sore paket itu datang. Dan yang ada di benak saya adalah, ‘Wow! My very first original jazz CD’ :))

wartajazz_melody_gardot

Tapi begonya, saya tadi menjatuhkan paket ini sebelum sempat membukanya. Hasilnya seperti yang bisa anda lihat, ada retakan manis yang menghiasi case bagian depan CD Orijinal itu *toyor2 kepala sendiri*

Ah, tapi saya tetep senang kok. Album yang selama ini cuma saya denger versi mp3 bajakannya, sekarang saya miliki CD Orijinalnya.

Makasih selangit buat wartajazz.com. Keep Jazzin’ !

*nyengir kuda*

Salah satu potongan lirik dari lagu “If The Stars Were Mine”

If the birds were mine
I’d tell you what I’d do
I’d teach the birds such lovely words and make them sing for you

:)

Categories: musics
Tagged: , ,

Free Java Jazz Ticket, Here I Come!

March 6, 2009 · 8 Comments

Bermodalkan hasil print screen google maps yang dikopi ke hape, akhirnya sukses juga saya bawa motor ke kantornya Maveric Indonesia buat ngambil tiket Java Jazz Festival untuk tanggal 7 besok. Jauh ternyata, Pondok Kelapa ke Kebayoran Baru euy. Tiket ini hadiah blog contest yang diadain sama AXIS kemarin. Nggak nyangka sebetulnya postingan dadakan itu kepilih jadi salah satu pemenang.

Saya ketemu dengan Adit, Ney dan Hanny dari Maverick. Ngobrol sejenak tentang awal mula saya suka jazz, sampai akhirnya saya disuruh nyanyi! Tobat, deh. Tapi nggak apa2 deh, demi Java Jazz saya rela diapain aja :))

Jadi inilah yang saya bawa pulang tadi :D

javajazzticket

Tadinya saya mau sekalian bawa koleksi coin di rumah buat dikasihin ke Hanny untuk ikutan program Coin A Chance-nya, karena saya nggak pernah bisa ikutan dateng ke Coin Collecting Day. Cuma karena tadi nggak yakin bisa ketemu dia, jadinya saya batalin. But still she gave me a sticker :D

coinachance

“Thanks. Coinnya besok di venue ya.”

Nice to see you all, guys. Thanks to AXIS for the ticket and the wristband. I’ll see you there tomorrow. (bye)

——

Postingan2 lain yang menjadi pemenang AXIS JAVA JAZZ Blogging Contest
- Ichanx
- Ladybug
Sementara baru 2 itu yang terendus oleh saya. Updated soon. Kalo inget :p

Categories: posts
Tagged: , , , , , , ,

Kepunahan Media

August 21, 2008 · 15 Comments

Hingga saat ini kita mungkin sudah sering menyaksikan kepunahan suatu media, baik cetak maupun elektronik (apapun formatnya). Dampaknya jelas akan sangat terasa bagi audience setianya.

Berheti beroperasinya sebuah media bisa jadi diakibatkan oleh banyak hal. Pemberedelan semena2 oleh penguasa, masalah hukum, terhambat masalah dana, pergantian pemilik, atau mungkin karena pergantian format.

Radio 999 CNJ DJakarta Tamat Riwayatnya

Apapun alasannya, berhenti beroperasinya Radio 999 CNJ DJakarta tentu menyisakan duka mendalam bagi para pecinta jazz, seperti saya. Isu berganti format benar2 susah diterima, di tengah atmosfir jazz yang mulai segar di negeri ini.

Saya mendapat kabar sedih ini dari wartajazz, situs berita jazz indonesia. Kabarnya, hari ini adalah hari terakhir CNJ siaran.

Lebih sedih lagi (hampir menitikkan air mata, beneran!) membaca email perpisahan dari redaksi CNJ, seperti yg saya kutip dari wartajazz berikut ini:

Salam Perpisahan

5 tahun kita bersama…
5 tahun kami telah menemani anda…
5 tahun adalah masa masa indah…
Dimana kemerdekaan jazz dan
indahnya musik klasik coba dibangkitkan

Kini kami mengundurkan diri dari media dengar anda
Akankah kita bersua lagi?
Hanya Tuhan yang tahu…

Terimakasih tak terhingga
Kepada teman teman yang sudah bersama 999FM CNJ Djakarta
untuk segala perhatian, kerjasama,  partisipasi, support
dan kedekatan yang tidak akan mungkin terlupakan…

999 CNJ Djakarta team:

Benny Sofwan
Indrawan Ibonk
Iken Margaretha
Ratna Cahya
Rachmat Basuki (Kiky)
M. Farhan Alam
Shandy Triyana
Sunny

Saya dan CNJ

Cerita perkenalan saya dengan CNJ berawal pertengahan 2005 lalu waktu saya masih kerja di Tangerang. Meskipun sudah nggak kerasan kerja di sana, salah satu alasan saya berat meninggalkan Tangerang ya CNJ itu. Seumur hidup baru sekali itu saya menemukan stasiun radio yang selama 24 jam nonstop menyuguhkan musik2 klasik dan jazz, tanpa iklan. Sedih, karena saya tau persis, di Malang belum ada stasiun yg mengkhususkan eksis di jalur jazz.

Karena itu, tiap kali ada kesempatan ke Jakarta saya selalu menyempatkan diri untuk mampir ke frekuensi CNJ.

Selamatkan CNJ

Anyone, kalau ada apapun yg bisa dilakukan untuk menyelamatkan CNJ dimana saya bisa berpartisipasi (petisi online, misalnya), saya benar2 bersedia ikutan.

Save CNJ, save jazz in this country.

– gum

Categories: musics
Tagged: , , , ,

Me at Jazz For Media

June 22, 2008 · 15 Comments

Akhirnya bisa juga saya ikutan nonton Jazz di Pool Sidenya Hotel Santika Malang. Selama ini saya memang selalu absen dari event reguler Friday is Jazz Day mereka. Makanya di event Jazz For Media (JFM) Jumat malam kemarin saya bela2in untuk bisa datang.

Datang sendirian ke JFM, saya bener2 clueless. Nggak ngerti mesti nyapa siapa dan duduk di mana. Celingak-celinguk nyari orang2 MJF juga nggak ketemu, soalnya yg dateng rata2 memang orang2 dari media. Iya, saya memang sendirian kemarin malam. Gara2 Jin Kura2 ini sedang nggak bisa diganggu dengan mainan barunya.

Bermodal nekat dan muka yg ditebel2in, dengan sok pede saya deketin mbak2 resepsionis buat nanya gimana caranya supaya saya bisa masuk ke area pool side. Saya bilang ke si mbak kalo saya dari MJF, which means bukan orang media, bukan undangan.

Tapi yg ada saya malah disuruh ngisi daftar hadir dan dapet kaos, yg mestinya hanya buat orang2 media. Iih, si mbak nggak tau MJF ya? Maka jadilah saya masuk dan duduk manis di area pool side bersama para undangan. Yah… namanya rejeki emang nggak kemana ya ^^;;

Sesuai namanya, acara malem itu diadakan di pinggir kolam. Stage di satu sisi, dan kursi penonton di sisi lainnya. Pantulan cahaya dari kolam menciptakan lighting alami. Keren!

Event ini selain sebagai apresiasi penyelenggara buat media, bisa dibilang juga sebagai ajang unjuk gigi jazzer2 malang di depan insan2 media. Selain Farbig yg udah lumayan senior dan banyak dikenal (ehm… jangan lupa honor promosi ya, Win :D), ada juga Abigail Rythm, Narwastu Queen Quintet (or N-Quint, thanks to Wina for the update), Batik Band, dan juga temen2 jazzer muda dari Jakarta, Hilman and Friends (eh, bener gini ya namanya?).

Ini pertama kalinya saya lihat penampilan Abigail Rythm. Aliran fusion yang mereka pilih bener2 bikin band dengan tiga personel ini bebas bereksperimen. Dan mungkin kebebasan berkesperimen itu juga yg bikin band ini belum ada vokalisnya. Kalaupun ada yang nyanyi paling cuma featuring aja, seperti kemarin waktu mereka jazzify ‘Kamu Harus Cepat Pulang’-nya Slank. Well, saya memang belum begitu bisa menikmati jazz2 eksperimental. But still I must say they sure have talents.


selingan poto saya, biar gak bosen liat text :D

Setelah beberapa lagu, empat cewek yg tergabung dalam N-Quint bergabung dengan Abigail Rythm. Mereka bawain beberapa lagu jazz yang diantaranya adalah ‘New York New York’-nya Frank Sinatra. Hmm… kalo mau diseriusin, N-Quint sebenernya bisa aja jadi Jazz Vocal Group pertama di Malang atau bahkan di Indonesia. Good looking, dengan vokal keren2. Kurang apa, coba? Denger2 mereka ini dari sekolah vokal yang sama, dan “Narwastu” diambil dari nama sekolah vokal mereka. Bener ya? Ada yang tau?

Next adalah Batik Band. Band yg personelnya rata2 (ato semuanya?) mahasiswa Brawijaya ini sepertinya lebih banyak bawain lagu2 jazz yang lebih baru. Vokalis cowoknya, kalo saya bilang sih, punya vokal mirip2 Tompi. Sayang kemaren jadi lead vokal hanya di satu lagu. Sedangkan Dita, vokal ceweknya, adalah personel N-Quint yg juga sebelumnya sempat perform bareng sama Abigail Rythm.

Ada yg spesial di JFM kemarin. Malang kedatangan rekan2 jazzer muda dari Jakarta. Hilman and Friends adalah musisi2 jazz yg masih muda2 banget, kecuali drummernya, Dedi, yang satu angakatan sama saya waktu SMA. Iya, Dedi memang asli Malang. Setelah sempat gabung dengan Sevenvibes sampe ke ajang Dream Band, dia mutusin untuk lebih konsen di jazz dan hijrah ke Cibubur. Dan saat perform di JMF kemarin, gebukan drumnya tambah manteb.

Kemunculan mereka malam itu bener2 membuktikan bahwa Jazz bukan hanya musik untuk orang tua. Hilman, contohnya. Keyboardis yg mengidolakan Chic Corea ini mampu menujukkan bakatnya di usia yg belum genap 20 tahun. Kurang muda? Saxophonis mereka malah nggak bisa ikutan hadir karena sedang nunggu hasil ujian kelulusan SMP.

Bersama mereka juga ada Natasha, mantan penyanyi cilik yang sekarang… well… nggak cilik lagi. Denger2 Natasha ini orang tuanya juga dari Malang. Di usianya yg juga masih belasan tahun, Natasha sudah punya vokal yg keren. Nggak heran karena dia adalah salah satu asuhan Elfa Secioria. Tapi somehow, saya pribadi menilai warna vokalnya kurang pas di jazz. But still, performancenya memukau. Young and energic.

Dan jujur, saya terpana liat mereka bawain “Come With Me”-nya Tania Maria.

ralat : caption salah satu foto di atas seharusnya Narwastu Quintet, bukan Narwastu Queen.
mohon maap, saya males ngedit potonya lagi :D

Melihat Malang dipenuhi dengan Jazzer muda, sepertinya sebagian besar mimpi Jazzer senior yg menginginkan Jazz menjadi musik yg dapat menghapus gap antar generasi sudah terwujud. Tidak hanya muda, mereka juga penuh bakat. Dan dengan sambutan luar biasa juga dari para pecintanya, sepertinya ini adalah sinyal bagi para sponsor untuk mengadakan event Jazz dengan skala lebih luas lagi di Malang.

There… saya udah bikin liputannya, jadi termasuk orang media dong. Berarti kaosnya emang tetep boleh saya bawa, kan? :D

Categories: posts
Tagged: , , ,

Thursday Nite Jazz With Farbig

April 17, 2008 · 16 Comments

Bermula dari informasi yg dikirim Wina, vokalis Farbig Band, tentang jadwal perform mereka di Cinemax Sawojajar tiap Kamis malam, saya sama Isdah menggalang persatuan dan kesatuan untuk ikutan mencicipi The Colors of Farbig tadi malam.

Event ini sebenernya sudah lumayan lama digelar. Namanya Ezzy Cozzy Jazzy (ECJ), awalnya cuma ada tiap Jumat Malam dengan hanya menampilkan Trafik Band. Tapi mulai beberapa minggu ini ECJ juga menampilkan Farbig tiap Kamis Malam. Dan karena Malang Jazz Forum sudah mulai terbentuk (yeah!), sepertinya ECJ juga bakal jadi ajang kopdar rutin penikmat jazz di Malang.

Malam itu lumayan rame, nggak seperti kedatangan perdana saya (tssahh… kayak tamu penting) di event ini tempo hari. Beberapa kalangan yang saat itu hadir diantaranya dari … um… maaf, saya lupa. Pokoknya banyak :D

Enjoyed the show so much lah pokoknya, brought a wide smile on my face. Bukan cuma saya sih. Mas Meru yang belakangan akhirnya ikutan gabung juga sepertinya sependapat.

The Band

Saya pertama kali lihat mereka waktu ada event Malang Jazz Regeneration akhir 2006 kemarin. Review tentang mereka yang pernah saya buat, tanpa sengaja diendus sama Wina, kemudian di-print dan disebarkan pula (!!) :)). Itu sudah lebih dari setahun yang lalu, tapi baru tadi malam itu akhirnya bisa ketemuan sama personel dan manajemen mereka.

Dan dunia ini ternyata memang nggak lebar2 amat. Agung, yang manajemen Farbig dan sekaligus adeknya Wina (bener ya, Win?) ternyata kenal baik sama orang kantor saya di Jakarta. Halah…

The Music

Jah… saya spikles lah pokoknya. Mereka itu bossas bisa, swing bisa. Yang jelas lagu pesenan saya, Desafinado, mereka bawain dalam versi bahasa inggris dengan manis. Selain itu, hasil nge-jamz mereka dengan beberapa musisi lain (saya lupa siapa aja) menghasilkan Antonio’s Song yang sarat dengan aksi unjuk kebolehan.

Ada lagi Yang Terlupakan -nya Iwan Fals ala Farbig (jazzy, pastinya). Dan sebagai penutup, lagu Siapa Dia [1] versi Big Band! Impressive!!

The Community

Ya, embrio komunitas jazz yang solid di Malang memang sudah mulai terbentuk. Malang Jazz Forum (MJF) namanya. Sebagai langkah awal, mereka mulai publikasi lewat blog ini. Menyusul kemudian mailing list dan berbagai kegiatan lainnya.

Waktu ngobrol dengan Wina tadi malam, salah satu mimpi MJF adalah memasyarakatkan jazz di Malang, supaya musik ini nggak dianggap hanya milik sebagian kalangan. Caranya? Dengan menampilkan jazz di tempat2 yang tidak melulu eksklusif. Jazz on the street, jazz goes to campus dan jazz goes to school adalah beberapa ide yang waktu itu sempat terpikirkan.

Jadi adek2 mahasiswa dan pelajar, tunggu saatnya nanti ya. Dimana kalian akhirnya ditakdirkan untuk berkenalan dengan musik2 bermutu dan mulai meninggalkan sontrek2 sinetron :))

The Place

Warung Cinemax punya tempat yang lumayan luas untuk event live music seperti ini. Apalagi setelah tata letak panggungnya dipindah (dulu seingat saya belum di tempat yang sekarang, shg terkesan sempit). Banyak pilihan tempat yang mereka sediakan. Di depan stage, di pendopo utama, lesehan, tinggal sesuaikan dengan selera Anda.

Nggak suka live music? Anda bisa nonton HBO di layar lebar mereka. Ya, asal Anda nggak merasa aneh aja nonton film di tengah2 acara live music :p

Sayangnya, saya kurang terkesan dengan kopinya. Menurut saya mereka harus menaruh perhatian lebih untuk yang satu ini. Karena a good music nearly incomplete without a good coffee.

O iya, di toilet saya melihat tulisan ‘jangan buang apapun ke kloset’ tanpa menemukan kloset satupun. Apa saya salah masuk ya? :p

Jaah… overall saya terhibur. Thanks to Wina dan Farbig, MJF, tentunya juga penyelenggara. Berkat kalian, saya jadi… punya bahan postingan :))

[1] Lupa penyanyi aslinya. Tapi tahun 80an, ini jadi music theme acara kuis dengan judul yang sama di TVRI (nyata kan jadulnya?).

Categories: musics · places · rekomendasi
Tagged: ,