Kulo Tiyang Sae

Entries tagged as ‘linguistic’

Google’s Lost in Translation

April 15, 2009 · 15 Comments

googletranslate_logoWalaupun belum 100% akurat dan bahkan cenderung ngawur, kemampuan semantik Google Translate patut diacungi jempol. Mampu mengenali banyak kata dan ungkapan dalam banyak bahasa, itu bukan main2.

Kesulitannya menurut saya lebih disebabkan karena penggunaan dialek kedaerahan, singkatan2, istilah2 yang nggak baku kayak gini, susunan kalimat yang nggak mengikuti kaidah bahasa, ato bahasa2 gawol. Dan sepertinya karena itulah hasil terjemahan Bahasa Indonesia-Inggris dengan Google Translate jadi sering ngawur.

Iseng2 saya coba masukin url postingan saya tentang penipuan lewat telepon kemarin ke dalam Google Translate. Buat yang belum pernah baca versi aslinya (dalam Bahasa Indonesia nggak baku), mungkin akan kesulitan memahami hasil terjemahan ini.

googletranslate

Ini adalah beberapa potongan hasil terjemahan postingan tersebut.

“This afternoon I get a call from the mother in Malang that the story himself almost become victims of fraud via phone.”

Mungkin karena saya nggak secara eksplisit menyebut ‘ibu saya’, jadinya Google menerjemahkannya menjadi ‘the mother’. Oke lah, tapi gimana ceritanya ada ‘himself’ di situ?

“Like this kira2 pecakapan between mother (who at that time in the house I accompanied the two brothers) and actors who diceritakannya earlier.”

Pengulangan kata yang disingkat dengan angka 2 dan sebuah typo telah sukses membingungkan mesin penterjemahnya dan meninggalkan bentuk aslinya “as is” :D

“Son of a mother at home who?”, A perpetrator.

Kalimat aslinya sendiri memang sudah nggak baku, jadi nggak heran kalo terjemahannya juga aneh begini :D

“Nggak may pack, these children are at home make cakes.”

‘Nggak mungkin pak’ jadi ‘Nggak may pack’?? No komen deh =)).

Saya sih yakin Google akan tetap mengembangkan kemampuan semantiknya hingga dapat mengatasi masalah2 di atas. Tapi untuk sementara terima sajalah hasil terjemahan Google apa adanya, walaupun kadang membuat perut geli :D

Sisanya bisa anda baca sendiri. Masih banyak terjadi salah interpretasi yang disebabkan oleh penggunaan kata atau susunan kalimat yang nggak baku, bahkan karena ada beberapa kata yang memang belum dikenali.

Coba baca2 juga hasil terjemahan komen2nya. Ada yang kayak gini segala:

Hopefully the fraudster fraudster-safe world akherat deh.. :|

=))

Categories: posts
Tagged: , ,

Pekerjaan Swasta

September 25, 2008 · 17 Comments

Entah bagaimana sejarahnya sehingga ada yang mengisikan ‘Swasta’ dalam kolom jenis pekerjaan pada formulir isian data pribadi. Hasilnya bisa kita lihat pada KTP, SIM, Kartu Keluarga, Anda sebut saja.

Maksudnya mungkin kependekan dari ‘Pegawai Swasta’. Tapi bukankah itu aneh, karena berarti sah-sah saja mencantumkan ‘Negeri’ sebagai kependekan dari Pegawai Negeri? Lagipula ‘Swasta’ ini biasanya juga mewakili profesi yang jelas-jelas independen (tidak terikat pada suatu instansi) sehingga pelakunya tidak bisa disebut pegawai/karyawan.

Menurut saya, kebiasaan lama ini muncul karena profesi macam Fulltime Blogger, Sowftware Developer, Professional WordPress Themes Designer, Content Writer, Blogging Service Owner, atau Movie Director belum lazim muncul dalam daftar profesi di data kependudukan tingkat kecamatan. Sehingga daripada repot harus menjelaskan, maka diisi saja ’swasta’. Beres. Hehehe, saya bercanda kok.

Tapi biar bagaimanapun, kolom pekerjaan seharusnya memang diisi dengan kata benda seperti dosen, polisi, kyai, laskar, pakar, atau salah satu yang saya sebutkan di atas tadi. Lazim atau tidak lazim.

Sedangkan swasta adalah kata sifat yang berarti ‘bukan milik pemerintah’. Agar menjadi kata benda, dia harus menjelaskan sesuatu. Contohnya ya itu tadi, Pegawai Swasta, Dosen Swasta, apapun lah, yang merupakan versi ‘non-pemerintah’ dari profesi berembel-embel ‘negeri’.

Lalu menurut Anda, apakah Mahasiswa dan Ibu Rumah Tangga bisa dimasukkan dalam kolom pekerjaan?

Categories: linguistics · posts
Tagged: ,

Pe-er yang Tertunda

May 5, 2008 · 11 Comments

Jaah… pe-er dari mbak kulkas ini udah basi kayaknya. Tapi seperti halnya dulu, tiap kali guru saya nanyain pe-er, saya selalu jawab, “wah, buku saya ketinggalan. besok ya, bu…”.

Jadi, mbak kulkas, saya baru bawa bukunya hari ini.

I’m passionate about..
Bersih2 to-do list.

I mostly say…
1. dhus!
Dus, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kotak dr kertas tebal (karton); dos; kardus. Sebagian orang memaknainya sebagai terjemahan dari kata Bahasa Inggris thus, yang artinya kurang lebih adalah sehingga.

Tapi di Malang, dhus lebih dikenal sebagai kependekan dari wedhus. Ya, wedhus yang artinya kambing itu, sebuah bentuk personifikasi spesies Capra aegagrus hircus yang kerap diucapkan sebagai bentuk kekesalan terhadap sesuatu/seseorang. Cocok diucapkan dalam kondisi shit happens.

Alternatifnya adalah dhes! yang berasal dari kata bedhes (monyet, red).

2. Wek ik!!
Sampai saat ini saya belum dapat padanan kata yang pas untuk ungkapan ini. Contoh penggunaannya dalam percakapan sehari2 kira2 seperti ini:

- dalam bentuk negatif,
“bayaran ulan iki mundur seminggu” (gajian bulan ini mundur seminggu)
“wek ik!! sing genah ae!!” (gila!! yang bener aja!!)

+ dalam bentuk positif,
“eh, deloken kameraku. tas tuku iki” (eh, liat deh kameraku. baru beli nih)
“weeek iik!! mbois rek!!” (giila!! keren, coy!!)

Meskipun dalam contoh diatas wek ik selalu diterjemahkan sebagai gila, dia tidak bisa digunakan dalam contoh kalimat berikut,
“awas!! ono wong wek ik!!” (awas!! ada orang gila!!).
Karena fungsinya memang hanya sebagai ungkapan terhadap sesuatu yang tidak biasa (baik maupun buruk).

Semakin panjang pengucapan weeek dan semakin pendek pengucapan ik akan memberikan penekanan yang lebih. Contoh,
“weeeeeekk ik!!!” (giiiiiiilaaaaaa!!!)
Dan pelafalan huruf w yang mendekati lafal v, akan lebih mendramatisir suasana. Contoh,
“VHEEEEEEE IKKK!!” (GHIIIILAAAAA!!).
Sekali lagi, saya belum dapat padanan kata yang pas.

I’ve just finished reading…
My latest post, right before i posted it.

Before I die, I really want to…
Wah, berat ini. Nggak bakalan cukup kalo mau ditulis di sini :p. Tapi yang jelas, di samping hal2 religius, saya pingin banget punya kafe bronis.

I love to listen to…
Her voice ^^
Untuk urusan musik, predictable kok. Anything jazzy lah pokoknya.

My friends like me because of…
Mungkin fakta bahwa saya bukan Roy Suryo, dan saya punya blog :))

Tapi jujur, saya nggak tau ‘apanya saya’ yang bikin temen2 saya suka. Eh, maksud saya, saya nggak tau kenapa temen2 saya pada suka, gitu.

Hmm… masa sih mereka suka saya? As long as they dont hate me, that’d be OK :)

I’ve learned last year that…
I really need glasses :))

Jadi begitulah. Maaf baru sempat dikerjain sekarang m(_ _)m.

O iya, posting ini juga menepis anggapan sebagian kalangan yang bilang saya menghilang.

Categories: java · linguistics · posts
Tagged: ,

Sleeping Policeman

March 22, 2008 · 12 Comments

kfeespeedbumps.jpg

Dulu saya pikir istilah sleeping police yang dipakai untuk menterjemahkan polisi tidur ke dalam Bahasa Inggris itu cuma guyonan, semacam walking-walking, my body is not delicious, no what-what, atau little-little sih I can.

Istilah polisi tidur dalam Bahasa Inggis yang banyak saya temui ya speed bump, seperti definisi thefreedictionary.com

“An artificial ridge set crosswise into the surface of a street, parking lot, or driveway to make the operators of vehicles decrease speed.”

Definisinya sesuai dengan fungsi polisi tidur di Indonesia, untuk memperlambat laju kendaraan.

Tentang istilah speed bump yang ternyata juga dikenal dengan sleeping policeman, saya taunya dari kampanye sebuah produk kopi kemasan di sini. Coba Anda perbesar gambarnya. Penjelasan tentang maksud kampanye itu ada di sebelah kanan bawah.

“Everyone who’s ever driven over a sleeping policeman too fast knows what it feels like : it really shakes you and then you are more wide awake and pay attention to the road. This is also the effect you get after drinking k-fee : you’ll be wide awake within seconds.”

Coba cari2 sumber lain, ternyata istilah ini memang lumayan lazim dipakai, setidaknya dalam bentuk yang nggak baku.

Jadi penasaran. Kira2 istilah bangjo (abang ijo/lampu merah/traffic light) ada versi bahasa inggrisnya juga nggak ya?
Red Green? Hehehe…

Categories: linguistics
Tagged:

I’m so hungry, I could eat a horse

March 12, 2008 · 30 Comments

Di salah satu postingan terdahulu saya menggunakan perumpamaan dalam bahasa inggris, “I’m so hungry, I could eat a horse”. Laper banget, sampe kuda aja dimakan. Artinya sih jelas : berada dalam kondisi laper akut. Mendekati gizi buruk lah, kira2 :D

Masalahnya, kenapa ‘kuda’? Kenapa bukan kambing, sapi, kerbau, atau yang lain?

Banyak yg bilang, ini berkaitan dengan jumlahnya. Jadi kira2 memahaminya gini: saking lapernya, saya bisa ngabisin daging satu ekor kuda. Kebayang dong gede kuda segimana. Ya, jadi ini memang hiperbolis di kuantitasnya. Tapi kemudian muncul pertanyaan, kalau memang saking lapernya kuda aja dimakan (karena kuda itu gede), kenapa nggak bikin perumpamaan dengan hewan yg lain? Sapi, misalnya, yang jelas2 ukuran tubuhnya lebih gede.

Ada lagi pendapat kedua, yg menganggap ini berkaitan dengan norma kesopanan atau kebiasaan. Sebagian kalangan menganggap kuda bukan hewan konsumsi. Daging kuda dianggap menjijikkan, atau setidaknya kita jarang berfikir tentang ‘kuda sebagai menu makan malam’. Bayangin deh kalau ada anak kecil nanya, “Mamaa… makan malamnya apaaa?”. Trus si Mama menjawab, “Daging kuda rica-rica sayaang…”. Nggak lucu, kan? Jadi ini menggambarkan kondisi yang saking lapernya, makanan nggak lazim seperti kuda sekalipun bakalan dilahap.

Pendapat kedua ini didukung dengan kemiripan idiom di daerah Spanyol sana, yang menggunakan a bull instead of a horse. Alasannya kurang lebih sama. Karena sulit ditangkep (yaa eyaaa laaaahhh…), dan dagingnya nggak enak. Hmm… lebih kasian lagi ini menurut saya. Bayangin ada yg bilang gini, “Laper banget. Kalo di dunia ini yang bisa dimakan cuma tinggal 1 banteng, gua kejar deh…”. Kasian amat, mesti ngejar dulu :))

Bisa juga alasannya gabungan dari dua pendapat diatas : kuda itu mewakili figur makanan nggak lazim yang jumlahnya banyak.

Lain lagi dengan anggapan ketiga yang melihat hal santap-menyantap kuda berkumis ini (hai kuda™ ^^) sebagai sebuah usaha terakhir. Pendapat ini lebih populer dulu (duluuuu banget, waktu saya belom lahir) dalam konteks kuda sebagai alat transportasi. Bayangin Anda harus menempuh perjalanan jauh dengan berkuda tanpa bekal yg cukup. Di tengah perjalan saat Anda hampir mati kelaparan, usaha terakhir yg bisa Anda lakukan untuk tetap bertahan hidup ya dengan memakan tunggangan Anda itu. Ingat!! Ini jaman dulu, sebelum ada Honda Tiger atau Suzuki Thunder. Jadi jangan bayangkan Ada ngerakoti tangki motor.

Saya sendiri lebih sreg dengan pendapat ketiga ini. Lebih masuk akal menurut saya, ketimbang hubungannya dengan jumlahnya maupun unsur tabunya dalam masyarakat.

Semoga bermanfaat :)

ps : ada juga variasi perumpamaan ini :
“I’m so hungry I could eat a horse and chase the rider”
salah si penunggangnya apa, coba? :))

sumber : internet <— saya suka cara penulisan sumber seperti ini

Categories: linguistics
Tagged: