Pengalaman pahit yang pernah dialami keluarga Aryo terjadi juga di keluarga saya.
Sore ini saya mendapat telpon dari Ibu di Malang yang cerita bahwa dirinya hampir saja menjadi korban penipuan lewat telepon.
Seseorang yang mengaku petugas polisi lalu lintas menelpon ke rumah dan mengabarkan bahwa salah satu anggota keluarga saya mengalami kecelakaan dan sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit. Ibu yang nggak pernah dapat pengalaman seperti ini langsung percaya, padahal dari awal sudah muncul kejanggalan.
Seperti ini kira2 pecakapan antara ibu (yang saat itu berada di rumah ditemani kakak kedua saya) dan pelakuĀ yang diceritakannya tadi.
“Anak ibu yang di rumah siapa?”, tanya pelaku.
“Pipit, pak”, jawab Ibu saya.
“Anak ibu kecelakaan dan saat ini kondisinya kritis di rumah sakit Saiful Anwar”, pelaku mencoba meyakinkan ibu.
“Nggak mungkin pak, ini anaknya sedang bikin kue di rumah.”
Saya yakin saat itu si pelaku (yang nggak ngerti betul kondisi keluarga saya) sebetulnya sudah lumayan keder karena hampir ketahuan. Tapi sayangnya ibu lantas mengira yang kecelakaan adalah Mbak Lusi, kakak pertama saya.
Dalam keadaan panik dan kalut, ibu disuruh mencatat informasi dimana kakak saya dirawat, siapa dokter yang menangani, berikut nomer ponsel dokter tersebut.
Mbak Pipit sempat mengingatkan ibu tentang modus penipuan semacam ini. Dia lantas mengambil alih telpon dan mulai berbicara dengan pelaku yang kembali menegaskan untuk menghubungi nomer ponsel yang tadi diberikan, lalu menutup telepon.
Masih dalam kondisi kalut, ibu mencoba menghubungi suadara yang bekerja di rumah sakit tersebut untuk melihat kondisi Mbak Lusi (saat itu ibu masih percaya bahwa Mbak Lusi memang jadi korban kecelakaan), sementara Mbak Pipit mencoba menguhubungi Mbak Lusi lewat ponsel.
Tahu bahwa dua nomer Mbak Lusi nggak bisa dihubungi, ibu makin panik. Sampai akhirnya Mbak Pipit bisa menghubungi nomer ke tiga.
“Bu, iki lho Mbak Lusi”, kata Mbak Pipit sambil menyerahkan ponsel ke ibu.
Karena masih percaya bahwa kakak saya sedang dirawat di rumah sakit, ibu mengira yang berbicara di telpon adalah teman dekat Mbak Lusi yang kebetulan namanya juga Lusi.
“Lusi… Lusi yo’opo kondisine?!”, tanya ibu sambil menangis histeris.
“Iki aku, bu’e!”, Mbak Lusi meyakinkan ibu lewat telpon dan akhirnya ibu tersadar.
Saat itu juga Mbak Lusi yang sedang rapat dengan atasannya disuruh pulang ke rumah. Meski sudah jelas bahwa dirinya ditipu, ibu tetap bersikeras ingin melihat langsung bahwa kakak saya baik2 saja.
Nomer yang diberikan pelaku ternyata nggak bisa dihubungi. Kemungkinan besar dia mendengar saat Mbak Pipit memperingatkan ibu tentang modus penipuan semacam ini. Kalau saja pancingannya berhasil, bisa jadi pelaku akan membiarkan dirinya dihubungi via ponsel dan meminta sejumlah uang untuk ditransfer sebagai biaya pengobatan, atau semacamnya.
Sayangnya kakak saya sudah nggak menyimpan nomer itu. Padahal tadinya, entah gimana caranya, mau saya coba laporkan ke operator seluler atau bahkan polisi.
Tapi kami tetap bersyukur karena ternyata nggak ada anggota keluarga yang mengalami musibah. Dan hal ini jadi pelajaran berharga buat ibu yang memang terlalu mudah percaya kepada orang asing.
***
Penipuan semacam ini biasanya dilakukan dengan sebelumnya melakukan riset untuk mendapatkan nomer2 ponsel para anggota keluarga. Pada kejadian lain, seperti yang dialami keluarganya Aryo, pelaku berusaha meyakinkan salah satu anggota keluarga calon korban untuk mematikan ponselnya. Tujuannya agar pihak keluarga kesulitan menghubungi dan mengkonfirmasi berita yang disampaikan pelaku.
Sebenarnya tidak sulit untuk menghindar dari modus penipuan macam ini. Berikut beberapa tips dari saya.
- Jangan terlalu mudah percaya pada orang asing yang berusaha meyakinkan anda lewat telpon tentang anggota keluarga yang mengalami kecelakaan, bahwa anda mendapatkan hadiah dan sebagainya. Acuhkan peringatan mematikan ponsel dengan alasan virus, mengganggu penyelidikan polisi dan semacamnya.
- Kalau anda memang harus mematikan ponsel, beritahukan hal ini kepada pihak keluarga. Sebisa mungkin berikan juga nomer alternatif yang bisa dihubungi.
- Saat mengalami kejadian seperti ini, gali sebanyak2nya informasi yang bisa didapatkan dari pelaku seperti nomer ponsel yang digunakan, darimana dia mendapatkan nomer anda dan semacamnya. Kalau mengaku dari sebuah instansi, tanyakan nama, pangkat, jabatan dan tempat dia bekerja. Lakukan cross-check berdasarkan data2 tersebut.
- Selalu pamit dan kabarkan posisi anda saat di luar rumah kepada pihak keluarga. Jangan biarkan mereka cemas karena tidak ada kabar dari anda.
Mudah2an menjadi pelajaran buat kita semua. Tetap waspada!
venus-rita-venus
dian tjahajoe
excelso. ya, yg paling keren di kanan itu saya :D








