Kulo Tiyang Sae

Entries tagged as ‘malang’

Hati-hati Penipuan Lewat Telepon

March 30, 2009 · 32 Comments

Pengalaman pahit yang pernah dialami keluarga Aryo terjadi juga di keluarga saya.

Sore ini saya mendapat telpon dari Ibu di Malang yang cerita bahwa dirinya hampir saja menjadi korban penipuan lewat telepon.

Seseorang yang mengaku petugas polisi lalu lintas menelpon ke rumah dan mengabarkan bahwa salah satu anggota keluarga saya mengalami kecelakaan dan sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit. Ibu yang nggak pernah dapat pengalaman seperti ini langsung percaya, padahal dari awal sudah muncul kejanggalan.

Seperti ini kira2 pecakapan antara ibu (yang saat itu berada di rumah ditemani kakak kedua saya) dan pelakuĀ  yang diceritakannya tadi.

“Anak ibu yang di rumah siapa?”, tanya pelaku.

“Pipit, pak”, jawab Ibu saya.

“Anak ibu kecelakaan dan saat ini kondisinya kritis di rumah sakit Saiful Anwar”, pelaku mencoba meyakinkan ibu.

“Nggak mungkin pak, ini anaknya sedang bikin kue di rumah.”

Saya yakin saat itu si pelaku (yang nggak ngerti betul kondisi keluarga saya) sebetulnya sudah lumayan keder karena hampir ketahuan. Tapi sayangnya ibu lantas mengira yang kecelakaan adalah Mbak Lusi, kakak pertama saya.

Dalam keadaan panik dan kalut, ibu disuruh mencatat informasi dimana kakak saya dirawat, siapa dokter yang menangani, berikut nomer ponsel dokter tersebut.

Mbak Pipit sempat mengingatkan ibu tentang modus penipuan semacam ini. Dia lantas mengambil alih telpon dan mulai berbicara dengan pelaku yang kembali menegaskan untuk menghubungi nomer ponsel yang tadi diberikan, lalu menutup telepon.

Masih dalam kondisi kalut, ibu mencoba menghubungi suadara yang bekerja di rumah sakit tersebut untuk melihat kondisi Mbak Lusi (saat itu ibu masih percaya bahwa Mbak Lusi memang jadi korban kecelakaan), sementara Mbak Pipit mencoba menguhubungi Mbak Lusi lewat ponsel.

Tahu bahwa dua nomer Mbak Lusi nggak bisa dihubungi, ibu makin panik. Sampai akhirnya Mbak Pipit bisa menghubungi nomer ke tiga.

“Bu, iki lho Mbak Lusi”, kata Mbak Pipit sambil menyerahkan ponsel ke ibu.

Karena masih percaya bahwa kakak saya sedang dirawat di rumah sakit, ibu mengira yang berbicara di telpon adalah teman dekat Mbak Lusi yang kebetulan namanya juga Lusi.

“Lusi… Lusi yo’opo kondisine?!”, tanya ibu sambil menangis histeris.

“Iki aku, bu’e!”, Mbak Lusi meyakinkan ibu lewat telpon dan akhirnya ibu tersadar.

Saat itu juga Mbak Lusi yang sedang rapat dengan atasannya disuruh pulang ke rumah. Meski sudah jelas bahwa dirinya ditipu, ibu tetap bersikeras ingin melihat langsung bahwa kakak saya baik2 saja.

Nomer yang diberikan pelaku ternyata nggak bisa dihubungi. Kemungkinan besar dia mendengar saat Mbak Pipit memperingatkan ibu tentang modus penipuan semacam ini. Kalau saja pancingannya berhasil, bisa jadi pelaku akan membiarkan dirinya dihubungi via ponsel dan meminta sejumlah uang untuk ditransfer sebagai biaya pengobatan, atau semacamnya.

Sayangnya kakak saya sudah nggak menyimpan nomer itu. Padahal tadinya, entah gimana caranya, mau saya coba laporkan ke operator seluler atau bahkan polisi.

Tapi kami tetap bersyukur karena ternyata nggak ada anggota keluarga yang mengalami musibah. Dan hal ini jadi pelajaran berharga buat ibu yang memang terlalu mudah percaya kepada orang asing.

***

Penipuan semacam ini biasanya dilakukan dengan sebelumnya melakukan riset untuk mendapatkan nomer2 ponsel para anggota keluarga. Pada kejadian lain, seperti yang dialami keluarganya Aryo, pelaku berusaha meyakinkan salah satu anggota keluarga calon korban untuk mematikan ponselnya. Tujuannya agar pihak keluarga kesulitan menghubungi dan mengkonfirmasi berita yang disampaikan pelaku.

Sebenarnya tidak sulit untuk menghindar dari modus penipuan macam ini. Berikut beberapa tips dari saya.

  • Jangan terlalu mudah percaya pada orang asing yang berusaha meyakinkan anda lewat telpon tentang anggota keluarga yang mengalami kecelakaan, bahwa anda mendapatkan hadiah dan sebagainya. Acuhkan peringatan mematikan ponsel dengan alasan virus, mengganggu penyelidikan polisi dan semacamnya.
  • Kalau anda memang harus mematikan ponsel, beritahukan hal ini kepada pihak keluarga. Sebisa mungkin berikan juga nomer alternatif yang bisa dihubungi.
  • Saat mengalami kejadian seperti ini, gali sebanyak2nya informasi yang bisa didapatkan dari pelaku seperti nomer ponsel yang digunakan, darimana dia mendapatkan nomer anda dan semacamnya. Kalau mengaku dari sebuah instansi, tanyakan nama, pangkat, jabatan dan tempat dia bekerja. Lakukan cross-check berdasarkan data2 tersebut.
  • Selalu pamit dan kabarkan posisi anda saat di luar rumah kepada pihak keluarga. Jangan biarkan mereka cemas karena tidak ada kabar dari anda.

Mudah2an menjadi pelajaran buat kita semua. Tetap waspada!

Categories: posts
Tagged: ,

Simbok Goes to Malang

July 8, 2008 · 12 Comments

Saking kebeletnya pengen ketemu orang keren kayak saya, Simbok sampe bela-belain dateng ke Malang.
*ditabok simbok*

Langsung aja saya ajak ketemuan sama Venus asli (he, ndi blogmu??), dan Ritanya. Akhirnya, kesampaian juga obsesi saya mempertemukan 2 Venus ini :))

Maka terdamparlah kami di Cinemax Sawojajar. Ini tempat saya biasanya nonton Jazz hari Kamis ato Jumat. Karena waktu itu Simbok dateng hari minggu, jadi yang ada cuma pertunjukan kibod tunggal. Tapi sukurlah pengisi acaranya berhalangan hadir :))

Sayang oknum2 Globbers yang saya hubungi batal hadir, meskipun saya juga sudah pasang woro2 di milis.

Untungnya kami masih bisa ketemuan dengan Dian yang jangkung dan tinggi semampai itu meskipun dia nggak bisa dateng ke lokasi. Rame2 kami datang ke tempat kerjanya, tepat sebelum dia menyelesaikan tanggung jawabnya ngurusi netter di salah satu warnet di Malang.

venus-rita-venus

Lepas jam kerja, Dian dengan ditemani oleh temannya yang pendiam dan baik hati serta tidak sombong itu kami ajak nongkrong di Pulosari.

Oh iya, Dian ini ternyata punya ketertarikan khusus dengan jagung. Yang keliatan di foto itu baru dua jagung bakar yang dia habisin. Padahal dia pesen lebih dari 5!!
*diuber dian pake golok*

dian tjahajoe

The next day, ketemuan lagi dengan oknum Globbers lainnya yang waktu itu cuma diwakili oleh juragan themes terkemuka dari Malang dan rekannya yg punya ketertarikan khusus dengan hal2 berkaitan dengan… ah, sudahlah :D

excelso. ya, yg paling keren di kanan itu saya :D

Maap kalo skrinsutnya seadanya. Soalnya fotografer yg diharapkan hadir ternyata absen :D

Makasih banyak buat Simbok yg sudah sempat mampir ke Malang. Hati2 mbok. Salah satu oknum Globbers ada yang lepas dari pengawasan dan menantimu di sana ;))

O iya, berkaitan dengan beberapa insiden di jalan tempo hari, mari kita kampanyekan gerakan “Dahulukan Blogger di Jalan Raya” :))

Categories: places · posts
Tagged: , , ,

Me at Jazz For Media

June 22, 2008 · 15 Comments

Akhirnya bisa juga saya ikutan nonton Jazz di Pool Sidenya Hotel Santika Malang. Selama ini saya memang selalu absen dari event reguler Friday is Jazz Day mereka. Makanya di event Jazz For Media (JFM) Jumat malam kemarin saya bela2in untuk bisa datang.

Datang sendirian ke JFM, saya bener2 clueless. Nggak ngerti mesti nyapa siapa dan duduk di mana. Celingak-celinguk nyari orang2 MJF juga nggak ketemu, soalnya yg dateng rata2 memang orang2 dari media. Iya, saya memang sendirian kemarin malam. Gara2 Jin Kura2 ini sedang nggak bisa diganggu dengan mainan barunya.

Bermodal nekat dan muka yg ditebel2in, dengan sok pede saya deketin mbak2 resepsionis buat nanya gimana caranya supaya saya bisa masuk ke area pool side. Saya bilang ke si mbak kalo saya dari MJF, which means bukan orang media, bukan undangan.

Tapi yg ada saya malah disuruh ngisi daftar hadir dan dapet kaos, yg mestinya hanya buat orang2 media. Iih, si mbak nggak tau MJF ya? Maka jadilah saya masuk dan duduk manis di area pool side bersama para undangan. Yah… namanya rejeki emang nggak kemana ya ^^;;

Sesuai namanya, acara malem itu diadakan di pinggir kolam. Stage di satu sisi, dan kursi penonton di sisi lainnya. Pantulan cahaya dari kolam menciptakan lighting alami. Keren!

Event ini selain sebagai apresiasi penyelenggara buat media, bisa dibilang juga sebagai ajang unjuk gigi jazzer2 malang di depan insan2 media. Selain Farbig yg udah lumayan senior dan banyak dikenal (ehm… jangan lupa honor promosi ya, Win :D), ada juga Abigail Rythm, Narwastu Queen Quintet (or N-Quint, thanks to Wina for the update), Batik Band, dan juga temen2 jazzer muda dari Jakarta, Hilman and Friends (eh, bener gini ya namanya?).

Ini pertama kalinya saya lihat penampilan Abigail Rythm. Aliran fusion yang mereka pilih bener2 bikin band dengan tiga personel ini bebas bereksperimen. Dan mungkin kebebasan berkesperimen itu juga yg bikin band ini belum ada vokalisnya. Kalaupun ada yang nyanyi paling cuma featuring aja, seperti kemarin waktu mereka jazzify ‘Kamu Harus Cepat Pulang’-nya Slank. Well, saya memang belum begitu bisa menikmati jazz2 eksperimental. But still I must say they sure have talents.


selingan poto saya, biar gak bosen liat text :D

Setelah beberapa lagu, empat cewek yg tergabung dalam N-Quint bergabung dengan Abigail Rythm. Mereka bawain beberapa lagu jazz yang diantaranya adalah ‘New York New York’-nya Frank Sinatra. Hmm… kalo mau diseriusin, N-Quint sebenernya bisa aja jadi Jazz Vocal Group pertama di Malang atau bahkan di Indonesia. Good looking, dengan vokal keren2. Kurang apa, coba? Denger2 mereka ini dari sekolah vokal yang sama, dan “Narwastu” diambil dari nama sekolah vokal mereka. Bener ya? Ada yang tau?

Next adalah Batik Band. Band yg personelnya rata2 (ato semuanya?) mahasiswa Brawijaya ini sepertinya lebih banyak bawain lagu2 jazz yang lebih baru. Vokalis cowoknya, kalo saya bilang sih, punya vokal mirip2 Tompi. Sayang kemaren jadi lead vokal hanya di satu lagu. Sedangkan Dita, vokal ceweknya, adalah personel N-Quint yg juga sebelumnya sempat perform bareng sama Abigail Rythm.

Ada yg spesial di JFM kemarin. Malang kedatangan rekan2 jazzer muda dari Jakarta. Hilman and Friends adalah musisi2 jazz yg masih muda2 banget, kecuali drummernya, Dedi, yang satu angakatan sama saya waktu SMA. Iya, Dedi memang asli Malang. Setelah sempat gabung dengan Sevenvibes sampe ke ajang Dream Band, dia mutusin untuk lebih konsen di jazz dan hijrah ke Cibubur. Dan saat perform di JMF kemarin, gebukan drumnya tambah manteb.

Kemunculan mereka malam itu bener2 membuktikan bahwa Jazz bukan hanya musik untuk orang tua. Hilman, contohnya. Keyboardis yg mengidolakan Chic Corea ini mampu menujukkan bakatnya di usia yg belum genap 20 tahun. Kurang muda? Saxophonis mereka malah nggak bisa ikutan hadir karena sedang nunggu hasil ujian kelulusan SMP.

Bersama mereka juga ada Natasha, mantan penyanyi cilik yang sekarang… well… nggak cilik lagi. Denger2 Natasha ini orang tuanya juga dari Malang. Di usianya yg juga masih belasan tahun, Natasha sudah punya vokal yg keren. Nggak heran karena dia adalah salah satu asuhan Elfa Secioria. Tapi somehow, saya pribadi menilai warna vokalnya kurang pas di jazz. But still, performancenya memukau. Young and energic.

Dan jujur, saya terpana liat mereka bawain “Come With Me”-nya Tania Maria.

ralat : caption salah satu foto di atas seharusnya Narwastu Quintet, bukan Narwastu Queen.
mohon maap, saya males ngedit potonya lagi :D

Melihat Malang dipenuhi dengan Jazzer muda, sepertinya sebagian besar mimpi Jazzer senior yg menginginkan Jazz menjadi musik yg dapat menghapus gap antar generasi sudah terwujud. Tidak hanya muda, mereka juga penuh bakat. Dan dengan sambutan luar biasa juga dari para pecintanya, sepertinya ini adalah sinyal bagi para sponsor untuk mengadakan event Jazz dengan skala lebih luas lagi di Malang.

There… saya udah bikin liputannya, jadi termasuk orang media dong. Berarti kaosnya emang tetep boleh saya bawa, kan? :D

Categories: posts
Tagged: , , ,

Night Photo Hunting

April 17, 2008 · 12 Comments

Sementara posting foto dulu. Masih belum sempat blogwalking dan nulis, termasuk ngerjain PR dari mbak kulkas ini.

Ini hasil hunting saya sama Doni hari minggu tengah malam kemarin.

Foto pertama ini adalah kawasan Jalan Ijen.

this photo on my flickr

Foto kedua adalah Gedung Balai Kota Malang, diambil pukul 2 dini hari. Sebetulnya mau ambil foto tugu dengan lampu warna-warninya. Sayang kami datang terlalu malam (atau pagi?). Lampu di tugu sudah dimatikan sekitar jam 10 malam, sepertinya.

this photo on my flickr

Ada satu foto lagi yang jadi sasaran kami malam (atau pagi?) itu, patung di depan Stasiun Kereta Malang Kota Baru. Lampu yang menghiasinya makin memunculkan warna emas patung itu. Tapi lagi2 kami datang terlalu malam (atau pagi?) dan lampu sudah dimatikan…

Technical Information :
Camera: Canon
Model: Canon DIGITAL IXUS 75
ISO: 80
Exposure: 5.0 sec
Aperture: f/2.8
Focal Length: 5.8mm
Flash Used: No
Latitude: n/a
Longitude: n/a

itu kata picasa sih. saya sendiri gak mudeng :p

Categories: photography
Tagged: ,

SAMSAT Malang Nggak Lucu

March 10, 2008 · 18 Comments

Saya nggak menutup mata terhadap kemajuan2 SAMSAT Malang dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Layanan SAMSAT Link, menghilangnya calo di kawasan parkir, dan yang terbaru, SAMSAT Drive Thru, merupakan prestasi SAMSAT yang patut dibanggakan. Tapi ada beberapa aspek yang menurut saya masih harus banyak dibenahi.

Gini ceritanya.

Karena plat nomer saya rusak, untuk sementara saya terpaksa menggunakan plat nomer nggak resmi. Karena itu, Hari Senin kemarin saya ke SAMSAT untuk mengurus pembuatan plat resmi yang baru. Dibantu seorang petugas di loket informasi, saya mendatangi bagian pembuatan plat di bagian belakang SAMSAT.

Tapi saya mendapatkan jawaban yang sama sekali nggak lucu:
SAMSAT kehabisan bahan baku plat.

Heh??

Bukannya hal seperti ini (kehabisan bahan) harusnya sudah diantisipasi, mengingat banyaknya jumlah kendaraan bermotor sekarang? Kenapa bisa sampai kehabisan?

Oke lah, mungkin demand memang sedang tinggi. Tapi setidaknya saya perlu tahu kapan SAMSAT siap dengan bahan bakunya, kan? Supaya saya bisa datang lagi.

“Wah, kalo itu saya juga nggak bisa memastikan, mas…”

Lho… lho… Lha ini koordinasi antara bagian pengadaan bahan dengan bagian produksi gimana sih? Kok hal seperti ini sampai bisa terjadi?

Nggak puas dengan jawaban petugas di bagian pembuatan plat, saya ngadu ke bagian informasi. Jawabannya sama.

“Kita sudah mengantisipasi, tapi masih kehabisan.”

Duh, ngenes. Saya cuma bisa nyengir bego. Masih nggak habis pikir gimana lembaga seperti SAMSAT yang sudah meraih ISO-berapa-saya-nggak-ngerti, bisa kehabisan bahan baku plat, dan lebih buruknya lagi, nggak bisa memberi kepastian kapan bisa siap produksi lagi.

“Berarti kalau nanti saya ditilang karena menggunakan plat nggak resmi, resiko saya, gitu?”

Dan jawaban tanpa solusi berikutnya lebih nggak lucu lagi,

“Ya, sekali lagi kami mohon maaf, mas. Kami nggak bisa berbuat apa2.”

Woo… apa kira2 bapak2 petugas di lapangan yang nilang saya nanti mau dengan senang hati, lapang dada, dan tersenyum manis menerima alasan “SAMSAT kehabisan plat”? Ndak to?

Ngene ae, SAT. Digenti triplek ae maren. Yo’opo?

What a joke…

*another tri-lingual post*

Categories: posts
Tagged: , ,