Kulo Tiyang Sae

Entries tagged as ‘mjf’

Me at Jazz For Media

June 22, 2008 · 15 Comments

Akhirnya bisa juga saya ikutan nonton Jazz di Pool Sidenya Hotel Santika Malang. Selama ini saya memang selalu absen dari event reguler Friday is Jazz Day mereka. Makanya di event Jazz For Media (JFM) Jumat malam kemarin saya bela2in untuk bisa datang.

Datang sendirian ke JFM, saya bener2 clueless. Nggak ngerti mesti nyapa siapa dan duduk di mana. Celingak-celinguk nyari orang2 MJF juga nggak ketemu, soalnya yg dateng rata2 memang orang2 dari media. Iya, saya memang sendirian kemarin malam. Gara2 Jin Kura2 ini sedang nggak bisa diganggu dengan mainan barunya.

Bermodal nekat dan muka yg ditebel2in, dengan sok pede saya deketin mbak2 resepsionis buat nanya gimana caranya supaya saya bisa masuk ke area pool side. Saya bilang ke si mbak kalo saya dari MJF, which means bukan orang media, bukan undangan.

Tapi yg ada saya malah disuruh ngisi daftar hadir dan dapet kaos, yg mestinya hanya buat orang2 media. Iih, si mbak nggak tau MJF ya? Maka jadilah saya masuk dan duduk manis di area pool side bersama para undangan. Yah… namanya rejeki emang nggak kemana ya ^^;;

Sesuai namanya, acara malem itu diadakan di pinggir kolam. Stage di satu sisi, dan kursi penonton di sisi lainnya. Pantulan cahaya dari kolam menciptakan lighting alami. Keren!

Event ini selain sebagai apresiasi penyelenggara buat media, bisa dibilang juga sebagai ajang unjuk gigi jazzer2 malang di depan insan2 media. Selain Farbig yg udah lumayan senior dan banyak dikenal (ehm… jangan lupa honor promosi ya, Win :D), ada juga Abigail Rythm, Narwastu Queen Quintet (or N-Quint, thanks to Wina for the update), Batik Band, dan juga temen2 jazzer muda dari Jakarta, Hilman and Friends (eh, bener gini ya namanya?).

Ini pertama kalinya saya lihat penampilan Abigail Rythm. Aliran fusion yang mereka pilih bener2 bikin band dengan tiga personel ini bebas bereksperimen. Dan mungkin kebebasan berkesperimen itu juga yg bikin band ini belum ada vokalisnya. Kalaupun ada yang nyanyi paling cuma featuring aja, seperti kemarin waktu mereka jazzify ‘Kamu Harus Cepat Pulang’-nya Slank. Well, saya memang belum begitu bisa menikmati jazz2 eksperimental. But still I must say they sure have talents.


selingan poto saya, biar gak bosen liat text :D

Setelah beberapa lagu, empat cewek yg tergabung dalam N-Quint bergabung dengan Abigail Rythm. Mereka bawain beberapa lagu jazz yang diantaranya adalah ‘New York New York’-nya Frank Sinatra. Hmm… kalo mau diseriusin, N-Quint sebenernya bisa aja jadi Jazz Vocal Group pertama di Malang atau bahkan di Indonesia. Good looking, dengan vokal keren2. Kurang apa, coba? Denger2 mereka ini dari sekolah vokal yang sama, dan “Narwastu” diambil dari nama sekolah vokal mereka. Bener ya? Ada yang tau?

Next adalah Batik Band. Band yg personelnya rata2 (ato semuanya?) mahasiswa Brawijaya ini sepertinya lebih banyak bawain lagu2 jazz yang lebih baru. Vokalis cowoknya, kalo saya bilang sih, punya vokal mirip2 Tompi. Sayang kemaren jadi lead vokal hanya di satu lagu. Sedangkan Dita, vokal ceweknya, adalah personel N-Quint yg juga sebelumnya sempat perform bareng sama Abigail Rythm.

Ada yg spesial di JFM kemarin. Malang kedatangan rekan2 jazzer muda dari Jakarta. Hilman and Friends adalah musisi2 jazz yg masih muda2 banget, kecuali drummernya, Dedi, yang satu angakatan sama saya waktu SMA. Iya, Dedi memang asli Malang. Setelah sempat gabung dengan Sevenvibes sampe ke ajang Dream Band, dia mutusin untuk lebih konsen di jazz dan hijrah ke Cibubur. Dan saat perform di JMF kemarin, gebukan drumnya tambah manteb.

Kemunculan mereka malam itu bener2 membuktikan bahwa Jazz bukan hanya musik untuk orang tua. Hilman, contohnya. Keyboardis yg mengidolakan Chic Corea ini mampu menujukkan bakatnya di usia yg belum genap 20 tahun. Kurang muda? Saxophonis mereka malah nggak bisa ikutan hadir karena sedang nunggu hasil ujian kelulusan SMP.

Bersama mereka juga ada Natasha, mantan penyanyi cilik yang sekarang… well… nggak cilik lagi. Denger2 Natasha ini orang tuanya juga dari Malang. Di usianya yg juga masih belasan tahun, Natasha sudah punya vokal yg keren. Nggak heran karena dia adalah salah satu asuhan Elfa Secioria. Tapi somehow, saya pribadi menilai warna vokalnya kurang pas di jazz. But still, performancenya memukau. Young and energic.

Dan jujur, saya terpana liat mereka bawain “Come With Me”-nya Tania Maria.

ralat : caption salah satu foto di atas seharusnya Narwastu Quintet, bukan Narwastu Queen.
mohon maap, saya males ngedit potonya lagi :D

Melihat Malang dipenuhi dengan Jazzer muda, sepertinya sebagian besar mimpi Jazzer senior yg menginginkan Jazz menjadi musik yg dapat menghapus gap antar generasi sudah terwujud. Tidak hanya muda, mereka juga penuh bakat. Dan dengan sambutan luar biasa juga dari para pecintanya, sepertinya ini adalah sinyal bagi para sponsor untuk mengadakan event Jazz dengan skala lebih luas lagi di Malang.

There… saya udah bikin liputannya, jadi termasuk orang media dong. Berarti kaosnya emang tetep boleh saya bawa, kan? :D

Categories: posts
Tagged: , , ,

Thursday Nite Jazz With Farbig

April 17, 2008 · 16 Comments

Bermula dari informasi yg dikirim Wina, vokalis Farbig Band, tentang jadwal perform mereka di Cinemax Sawojajar tiap Kamis malam, saya sama Isdah menggalang persatuan dan kesatuan untuk ikutan mencicipi The Colors of Farbig tadi malam.

Event ini sebenernya sudah lumayan lama digelar. Namanya Ezzy Cozzy Jazzy (ECJ), awalnya cuma ada tiap Jumat Malam dengan hanya menampilkan Trafik Band. Tapi mulai beberapa minggu ini ECJ juga menampilkan Farbig tiap Kamis Malam. Dan karena Malang Jazz Forum sudah mulai terbentuk (yeah!), sepertinya ECJ juga bakal jadi ajang kopdar rutin penikmat jazz di Malang.

Malam itu lumayan rame, nggak seperti kedatangan perdana saya (tssahh… kayak tamu penting) di event ini tempo hari. Beberapa kalangan yang saat itu hadir diantaranya dari … um… maaf, saya lupa. Pokoknya banyak :D

Enjoyed the show so much lah pokoknya, brought a wide smile on my face. Bukan cuma saya sih. Mas Meru yang belakangan akhirnya ikutan gabung juga sepertinya sependapat.

The Band

Saya pertama kali lihat mereka waktu ada event Malang Jazz Regeneration akhir 2006 kemarin. Review tentang mereka yang pernah saya buat, tanpa sengaja diendus sama Wina, kemudian di-print dan disebarkan pula (!!) :)). Itu sudah lebih dari setahun yang lalu, tapi baru tadi malam itu akhirnya bisa ketemuan sama personel dan manajemen mereka.

Dan dunia ini ternyata memang nggak lebar2 amat. Agung, yang manajemen Farbig dan sekaligus adeknya Wina (bener ya, Win?) ternyata kenal baik sama orang kantor saya di Jakarta. Halah…

The Music

Jah… saya spikles lah pokoknya. Mereka itu bossas bisa, swing bisa. Yang jelas lagu pesenan saya, Desafinado, mereka bawain dalam versi bahasa inggris dengan manis. Selain itu, hasil nge-jamz mereka dengan beberapa musisi lain (saya lupa siapa aja) menghasilkan Antonio’s Song yang sarat dengan aksi unjuk kebolehan.

Ada lagi Yang Terlupakan -nya Iwan Fals ala Farbig (jazzy, pastinya). Dan sebagai penutup, lagu Siapa Dia [1] versi Big Band! Impressive!!

The Community

Ya, embrio komunitas jazz yang solid di Malang memang sudah mulai terbentuk. Malang Jazz Forum (MJF) namanya. Sebagai langkah awal, mereka mulai publikasi lewat blog ini. Menyusul kemudian mailing list dan berbagai kegiatan lainnya.

Waktu ngobrol dengan Wina tadi malam, salah satu mimpi MJF adalah memasyarakatkan jazz di Malang, supaya musik ini nggak dianggap hanya milik sebagian kalangan. Caranya? Dengan menampilkan jazz di tempat2 yang tidak melulu eksklusif. Jazz on the street, jazz goes to campus dan jazz goes to school adalah beberapa ide yang waktu itu sempat terpikirkan.

Jadi adek2 mahasiswa dan pelajar, tunggu saatnya nanti ya. Dimana kalian akhirnya ditakdirkan untuk berkenalan dengan musik2 bermutu dan mulai meninggalkan sontrek2 sinetron :))

The Place

Warung Cinemax punya tempat yang lumayan luas untuk event live music seperti ini. Apalagi setelah tata letak panggungnya dipindah (dulu seingat saya belum di tempat yang sekarang, shg terkesan sempit). Banyak pilihan tempat yang mereka sediakan. Di depan stage, di pendopo utama, lesehan, tinggal sesuaikan dengan selera Anda.

Nggak suka live music? Anda bisa nonton HBO di layar lebar mereka. Ya, asal Anda nggak merasa aneh aja nonton film di tengah2 acara live music :p

Sayangnya, saya kurang terkesan dengan kopinya. Menurut saya mereka harus menaruh perhatian lebih untuk yang satu ini. Karena a good music nearly incomplete without a good coffee.

O iya, di toilet saya melihat tulisan ‘jangan buang apapun ke kloset’ tanpa menemukan kloset satupun. Apa saya salah masuk ya? :p

Jaah… overall saya terhibur. Thanks to Wina dan Farbig, MJF, tentunya juga penyelenggara. Berkat kalian, saya jadi… punya bahan postingan :))

[1] Lupa penyanyi aslinya. Tapi tahun 80an, ini jadi music theme acara kuis dengan judul yang sama di TVRI (nyata kan jadulnya?).

Categories: musics · places · rekomendasi
Tagged: ,