Dalam bahasa Jawa, sejatinya jedhing berarti kolam air sebagai tempat mandi (dan mencuci) atau bak mandi. Namun dalam perkembangannya, di beberapa daerah istilah ini mulai digunakan untuk menyebut kloset, toilet atau kamar mandi.
Kenapa saya membahas tentang toilet? Karena seperti juga di postingan yang lama, selalu ada cerita dibalik pengalaman menggunakan jedhing, terutama di tempat kerja.
Di tempat kerja saya, toilet tersedia di tiap lantai (termasuk di lantai 2, ruangan saya). Namun kondisi tiap toilet beda2 dan sialnya toilet lantai 2 yang paling mengenaskan. Kran wastafel nggak keluar airnya, dispenser sabun cair nggak berfungsi, urinal pria juga nggak ada airnya sehingga kalau mau kencing harus harus bondho (bermodal) gelas plastik untuk nyiram dan nyuci anu.
Beberapa hari yang lalu toilet ini dibongkar, mungkin karena sudah banyak keluhan dari penggunanya. Dan sialnya saya nggak tau.
Suatu pagi, seperti biasa, saya yang sejak awal sudah jadi pengguna tetap kloset di kantor mendadak kebelet buang hajat (gede!). Maka larilah saya ke toilet. Tapi belum lagi sampai di depan pintu, si mas janitor ngasih tau kalau toilet sedang dibongkar.
Dengan sisa2 tenaga, saya lari ke lantai 1 hanya untuk mendapati klosetnya sedang dipakai. Nggak mikir panjang, saya lari naik ke lantai 3. Sialnya keadaannya sama. Ngantri, malah :|
Sudah kebayang gimana ‘panik’-nya saya? OK, lanjut.
Saya sudah hampir lari ke lantai 4, tapi segera memutuskan untuk kembali ke lantai 1 saja, berharap klosetnya sudah kosong. Tapi baru sampai lantai 2, saya ketemu mas janitor lain yang ngasih tau kalau di lantai ini ada toilet satu lagi. Letaknya dekat lift, malah katanya lebih bersih.
KOK SAYA BARU TAU YAA??
Benar saja. Sesampainya di TKP saya mendapati toilet yang lebih beradab dengan kloset yang…. KOSONG! *jingkrak2*
—
Itu kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian hari ini nggak kalah menjengkelkan dan bikin malu.
Selesai makan siang, panggilan alam itu kembali datang. Dengan berlari2 kecil (syaalala…) saya menuju toilet dekat lift yang bersih itu. Kosong! *nyengir*. Tapi begitu masuk ke klosetnya, ember untuk nampung airnya nggak ada :|
Saya ke ruang janitor di sebelah untuk nanya. Si mas janitor bilang dengan logat betawinya,
“ooh, embernye? lagi dipake di ruangan sonoh. ACnye bocor, jadi buat nampung. bentar ye, saya ambilin.”
:|
Saya sedang nunggu dengan harap2 cemas ketika tiba2 dari lorong yang sunyi senyap itu saya mendengar suara menggelegar si mas janitor teriak ke temannya,
“EMBER NYANG TADI MANE? ADA YANG MAU BER*K TUH..”
Kontan saya misuh2 dalam hati. @&#$!!!
Salah tingkah dan mati gaya, saya buru2 berdiri di depan lift, berlagak nunggu liftnya kebuka. Dan saya nggak mau ambil pusing ngecek siapa aja yang celingukan nyari orang yang dimaksud si mas janitor durjana itu.
Nggak lama, dia datang membawa ember yang dimaksud. Kotor, karena bekas nampung air dari AC yang bocor.
“Kotor nih, pak. Saya cuci du…”
Belum selesai si mas mingkem, ember udah saya rebut dan berlari ke kloset.
—
Moral of the kloset story:
Di Indonesia, jedhing/toilet selalu dianaktirikan, terutama di kantor2 pemerintahan dan tempat2 umum. Kenapa? Karena nggak ada undang2 khusus perjedhingan yang bisa melindungi dan mengayomi para pengguna jedhing.
Jadi, mari kita dukung gerakan Revolusi Jedhing.
Demi Jedhing yang lebih baik!
Merdeka!









