Kulo Tiyang Sae

Entries tagged as ‘slice of life’

Revolusi Jedhing

August 12, 2009 · 18 Comments

Dalam bahasa Jawa, sejatinya jedhing berarti kolam air sebagai tempat mandi (dan mencuci) atau bak mandi. Namun dalam perkembangannya, di beberapa daerah istilah ini mulai digunakan untuk menyebut kloset, toilet atau kamar mandi.

Kenapa saya membahas tentang toilet? Karena seperti juga di postingan yang lama, selalu ada cerita dibalik pengalaman menggunakan jedhing, terutama di tempat kerja.

Di tempat kerja saya, toilet tersedia di tiap lantai (termasuk di lantai 2, ruangan saya). Namun kondisi tiap toilet beda2 dan sialnya toilet lantai 2 yang paling mengenaskan. Kran wastafel nggak keluar airnya, dispenser sabun cair nggak berfungsi, urinal pria juga nggak ada airnya sehingga kalau mau kencing harus harus bondho (bermodal) gelas plastik untuk nyiram dan nyuci anu.

Beberapa hari yang lalu toilet ini dibongkar, mungkin karena sudah banyak keluhan dari penggunanya. Dan sialnya saya nggak tau.

Suatu pagi, seperti biasa, saya yang sejak awal sudah jadi pengguna tetap kloset di kantor mendadak kebelet buang hajat (gede!). Maka larilah saya ke toilet. Tapi belum lagi sampai di depan pintu, si mas janitor ngasih tau kalau toilet sedang dibongkar.

Dengan sisa2 tenaga, saya lari ke lantai 1 hanya untuk mendapati klosetnya sedang dipakai. Nggak mikir panjang, saya lari naik ke lantai 3. Sialnya keadaannya sama. Ngantri, malah :|

Sudah kebayang gimana ‘panik’-nya saya? OK, lanjut.

Saya sudah hampir lari ke lantai 4, tapi segera memutuskan untuk kembali ke lantai 1 saja, berharap klosetnya sudah kosong. Tapi baru sampai lantai 2, saya ketemu mas janitor lain yang ngasih tau kalau di lantai ini ada toilet satu lagi. Letaknya dekat lift, malah katanya lebih bersih.

KOK SAYA BARU TAU YAA??

Benar saja. Sesampainya di TKP saya mendapati toilet yang lebih beradab dengan kloset yang…. KOSONG! *jingkrak2*

Itu kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian hari ini nggak kalah menjengkelkan dan bikin malu.

Selesai makan siang, panggilan alam itu kembali datang. Dengan berlari2 kecil (syaalala…) saya menuju toilet dekat lift yang bersih itu. Kosong! *nyengir*. Tapi begitu masuk ke klosetnya, ember untuk nampung airnya nggak ada :|

Saya ke ruang janitor di sebelah untuk nanya. Si mas janitor bilang dengan logat betawinya,

“ooh, embernye? lagi dipake di ruangan sonoh. ACnye bocor, jadi buat nampung. bentar ye, saya ambilin.”

:|

Saya sedang nunggu dengan harap2 cemas ketika tiba2 dari lorong yang sunyi senyap itu saya mendengar suara menggelegar si mas janitor teriak ke temannya,

“EMBER NYANG TADI MANE? ADA YANG MAU BER*K TUH..”

Kontan saya misuh2 dalam hati. @&#$!!!

Salah tingkah dan mati gaya, saya buru2 berdiri di depan lift, berlagak nunggu liftnya kebuka. Dan saya nggak mau ambil pusing ngecek siapa aja yang celingukan nyari orang yang dimaksud si mas janitor durjana itu.

Nggak lama, dia datang membawa ember yang dimaksud. Kotor, karena bekas nampung air dari AC yang bocor.

“Kotor nih, pak. Saya cuci du…”

Belum selesai si mas mingkem, ember udah saya rebut dan berlari ke kloset.

Moral of the kloset story:

Di Indonesia, jedhing/toilet selalu dianaktirikan, terutama di kantor2 pemerintahan dan tempat2 umum. Kenapa? Karena nggak ada undang2 khusus perjedhingan yang bisa melindungi dan mengayomi para pengguna jedhing.

Jadi, mari kita dukung gerakan Revolusi Jedhing.

Demi Jedhing yang lebih baik!

Merdeka!

Categories: work-related
Tagged: , , , , ,

Fitur Anti-theft di HP Samsung

June 18, 2009 · 16 Comments

Hi, everyone. It’s me again :)

Udah lama nggak update blog. Tapi kejadian barusan bikin saya tergelitik buat nulis lagi.

Ini tentang fitur pelacak di hp Samsung. Entah seri apa saja yang mendukung fitur ini, tapi yang jelas hp CDMA saya terdahulu  (SCH-S299) sudah mendukungnya.

Tentang bagaimana saya bisa tau fitur ini, sebenarnya lebih karena nggak sengaja. Tadi pagi saya dapet SMS dari nomer yang nggak saya kenal dengan isi:

“Mobile Tracker”
Please keep this message.
Sender: Gum

Jelas saya bingung. Hp ini saya kirim ke malang beberapa hari yang lalu karena mau dibeli sama mbak saya. Tapi sepertinya dia nggak akan iseng ngirim sms nggak jelas begitu. Penasaran, saya coba telpon ke nomer GSMnya.

Turns out, hape itu memang udah nyampe ke malang dan dia barusan masang SIM Card baru. Nomernya juga sama dengan pengirim SMS tadi. Tapi dia nggak ngerasa ngirim SMS ke siapapun.

Setelah googling, saya baru ngerti kalau Samsung punya fitur pelacak yang akan aktif saat hp berganti SIM Card. Namanya Mobile Tracker.

Cara kerjanya, user ‘mendaftarkan’ nomer hp alternatif di hp tersebut. Saat hp berganti tangan dan SIM Cardnya diganti, dia akan mengirimkan notifikasi ke nomer alternatif user tadi. Dengan begitu pemegang hp nggak akan sadar kalau nomernya sudah diketahui oleh pemilik asli hp tersebut.

Kalau kasusnya adalah kehilangan atau pencurian, pilihan selanjutnya terserah anda. Call/text the thief/founder and politely asking the phone back (with/without reward), atau melaporkannya ke operator seluler dan polisi.

Fitur ini sederhana tapi menurut saya cukup cerdik, karena hanya memanfaatkan teknologi SMS. Sepertinya sampai sekarang saya belum menemukan fitur serupa di hp lain. Kalaupun ada, mungkin sudah kelewat canggih dengan teknologi yang lebih baru.

Kalau anda pemakai hp Samsung, saya menyarankan untuk segera mengaktifkan fitur ini sebelum anda menyesal saat hp anda raib. Kalau bukan, mungkin anda bisa bagi2 tips anti-theft di kolom komentar :)

Categories: posts
Tagged: , , , ,

Hati-hati Penipuan Lewat Telepon

March 30, 2009 · 32 Comments

Pengalaman pahit yang pernah dialami keluarga Aryo terjadi juga di keluarga saya.

Sore ini saya mendapat telpon dari Ibu di Malang yang cerita bahwa dirinya hampir saja menjadi korban penipuan lewat telepon.

Seseorang yang mengaku petugas polisi lalu lintas menelpon ke rumah dan mengabarkan bahwa salah satu anggota keluarga saya mengalami kecelakaan dan sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit. Ibu yang nggak pernah dapat pengalaman seperti ini langsung percaya, padahal dari awal sudah muncul kejanggalan.

Seperti ini kira2 pecakapan antara ibu (yang saat itu berada di rumah ditemani kakak kedua saya) dan pelaku  yang diceritakannya tadi.

“Anak ibu yang di rumah siapa?”, tanya pelaku.

“Pipit, pak”, jawab Ibu saya.

“Anak ibu kecelakaan dan saat ini kondisinya kritis di rumah sakit Saiful Anwar”, pelaku mencoba meyakinkan ibu.

“Nggak mungkin pak, ini anaknya sedang bikin kue di rumah.”

Saya yakin saat itu si pelaku (yang nggak ngerti betul kondisi keluarga saya) sebetulnya sudah lumayan keder karena hampir ketahuan. Tapi sayangnya ibu lantas mengira yang kecelakaan adalah Mbak Lusi, kakak pertama saya.

Dalam keadaan panik dan kalut, ibu disuruh mencatat informasi dimana kakak saya dirawat, siapa dokter yang menangani, berikut nomer ponsel dokter tersebut.

Mbak Pipit sempat mengingatkan ibu tentang modus penipuan semacam ini. Dia lantas mengambil alih telpon dan mulai berbicara dengan pelaku yang kembali menegaskan untuk menghubungi nomer ponsel yang tadi diberikan, lalu menutup telepon.

Masih dalam kondisi kalut, ibu mencoba menghubungi suadara yang bekerja di rumah sakit tersebut untuk melihat kondisi Mbak Lusi (saat itu ibu masih percaya bahwa Mbak Lusi memang jadi korban kecelakaan), sementara Mbak Pipit mencoba menguhubungi Mbak Lusi lewat ponsel.

Tahu bahwa dua nomer Mbak Lusi nggak bisa dihubungi, ibu makin panik. Sampai akhirnya Mbak Pipit bisa menghubungi nomer ke tiga.

“Bu, iki lho Mbak Lusi”, kata Mbak Pipit sambil menyerahkan ponsel ke ibu.

Karena masih percaya bahwa kakak saya sedang dirawat di rumah sakit, ibu mengira yang berbicara di telpon adalah teman dekat Mbak Lusi yang kebetulan namanya juga Lusi.

“Lusi… Lusi yo’opo kondisine?!”, tanya ibu sambil menangis histeris.

“Iki aku, bu’e!”, Mbak Lusi meyakinkan ibu lewat telpon dan akhirnya ibu tersadar.

Saat itu juga Mbak Lusi yang sedang rapat dengan atasannya disuruh pulang ke rumah. Meski sudah jelas bahwa dirinya ditipu, ibu tetap bersikeras ingin melihat langsung bahwa kakak saya baik2 saja.

Nomer yang diberikan pelaku ternyata nggak bisa dihubungi. Kemungkinan besar dia mendengar saat Mbak Pipit memperingatkan ibu tentang modus penipuan semacam ini. Kalau saja pancingannya berhasil, bisa jadi pelaku akan membiarkan dirinya dihubungi via ponsel dan meminta sejumlah uang untuk ditransfer sebagai biaya pengobatan, atau semacamnya.

Sayangnya kakak saya sudah nggak menyimpan nomer itu. Padahal tadinya, entah gimana caranya, mau saya coba laporkan ke operator seluler atau bahkan polisi.

Tapi kami tetap bersyukur karena ternyata nggak ada anggota keluarga yang mengalami musibah. Dan hal ini jadi pelajaran berharga buat ibu yang memang terlalu mudah percaya kepada orang asing.

***

Penipuan semacam ini biasanya dilakukan dengan sebelumnya melakukan riset untuk mendapatkan nomer2 ponsel para anggota keluarga. Pada kejadian lain, seperti yang dialami keluarganya Aryo, pelaku berusaha meyakinkan salah satu anggota keluarga calon korban untuk mematikan ponselnya. Tujuannya agar pihak keluarga kesulitan menghubungi dan mengkonfirmasi berita yang disampaikan pelaku.

Sebenarnya tidak sulit untuk menghindar dari modus penipuan macam ini. Berikut beberapa tips dari saya.

  • Jangan terlalu mudah percaya pada orang asing yang berusaha meyakinkan anda lewat telpon tentang anggota keluarga yang mengalami kecelakaan, bahwa anda mendapatkan hadiah dan sebagainya. Acuhkan peringatan mematikan ponsel dengan alasan virus, mengganggu penyelidikan polisi dan semacamnya.
  • Kalau anda memang harus mematikan ponsel, beritahukan hal ini kepada pihak keluarga. Sebisa mungkin berikan juga nomer alternatif yang bisa dihubungi.
  • Saat mengalami kejadian seperti ini, gali sebanyak2nya informasi yang bisa didapatkan dari pelaku seperti nomer ponsel yang digunakan, darimana dia mendapatkan nomer anda dan semacamnya. Kalau mengaku dari sebuah instansi, tanyakan nama, pangkat, jabatan dan tempat dia bekerja. Lakukan cross-check berdasarkan data2 tersebut.
  • Selalu pamit dan kabarkan posisi anda saat di luar rumah kepada pihak keluarga. Jangan biarkan mereka cemas karena tidak ada kabar dari anda.

Mudah2an menjadi pelajaran buat kita semua. Tetap waspada!

Categories: posts
Tagged: ,

Mengatur Tata Ruang Kamar

March 25, 2009 · 17 Comments

Perhatian: postingan ini lumayan panjang, sebagian berisi curcol, sebagian berisi tips. Anda sudah diperingatkan.

Saya tipe orang yang suka dengan kamar luas dan rapi tanpa ada barang2 berceceran di sana-sini. Karena itu sebisa mungkin saya mengoptimalkan media penyimpanan seperti lemari, rak, kardus, bahkan tas.

Masalah mulai muncul saat barang2 di kamar bertambah banyak, sementara media penyimpanannya tetap. Itulah yang saat ini sedang saya dan istri alami. Sejak kepindahan saya ke Jakarta, praktis barang2 di kamar istri bertambah. Sebuah lemari baju sudah tidak lagi muat menyimpan pakaian kami berdua. Gantungan baju yang terbuat dari alumunium juga sudah semakin sesak. Dua buah rak sudah penuh dengan berbagai macam barang.

Hasilnya, kami mulai semena2 meletakkan sesuatu. Tas di belakang pintu, charger HP di dalam tas, toples camilan di kolong meja, pakaian di pojok tempat tidur, dan sebagainya.

Sepertinya hanya ada satu solusi untuk menangani semua ini: beli lemari baru yang lebih besar dan mulai memikirkan tata ruangnya.

Maka saya ambil meteran baju punya mertua, membuat catatan hasil pengukuran sana-sini, dan membuat visualisasinya di photoshop. Setelah utak-atik tata letak kamar, maka beginilah hasilnya (semua satuan dalam sentimeter).

denah-kamar1

Keterangan:

  • Luas kamar = 338 x 287
  • Luas lemari = 150 x 50
  • Lebar pintu = 86
  • Posisi stop kontak = dekat TV dan rak buku

Tata letak ini sudah lumayan sesuai dengan keinginan kami karena pintu dapat dibuka sepenuhnya. Tumpukan tas di belakang pintu nantinya masuk ke lemari. Gantungan baju alumunium (yang tadinya ada di sebelah pintu, tempat meja 1/4 lingkaran) dikeluarkan dan baju2nya dipindahkan ke gantungan baju di dalam lemari. Meja kecil 1/4 lingkaran digunakan untuk meletakkan HP (termasuk saat sedang di-charge) karena tempatnya juga dekat dengan stop kontak. Kardus digunakan untuk menyimpan barang2 yang masih juga belum bisa masuk ke dalam lemari.

There, nice and clean :D.

Tapi kemudian saya membayangkan sebuah tata ruang lain yang jauh lebih simple, dengan beberapa lemari yang seragam. Lemari2 ini terdiri dari 3 lemari pendek dengan ukuran P=150, L=50, T=60 untuk menyimpan baju yang dilipat dan barang lainnya, serta 1 lemari gantungan dengan ukuran P=150, L=50, T=150.

Penggunaan lemari2 pendek sengaja saya pilih dengan alasan utama: bagian atasnya bisa digunakan sebagai meja TV, meja rias, meja lampu, juga untuk meletakkan hiasan2. Selain itu, kamar akan terkesan lebih luas karena banyak area dinding yang tidak tertutup.

Maka, inilah hasilnya.

denah-kamar2

Keterangan:

  • A, C, D adalah lemari pendek.
  • A berfungsi sebagai meja TV, lemarinya bisa digunakan untuk menyimpan barang2 non-pakaian.
  • B adalah lemari gantungan baju. Dengan tinggi 150cm, masih ada space di bawahnya untuk menyimpan tas2 istri.
  • C dan D khusus untuk pakaian. Percayalah, 2 lemari pendek ini setara dengan rak penyimpanan pakaian yang dilipat dalam lemari 3 pintu. Berfungsi juga sebagai meja untuk meletakkan peralatan rias, lampu meja, hiasan, dan mungkin juga sebuah rak buku untuk menampung koleksi komik dan novel istri.

note: lupa menambahkan meja kecil 1/4 lingkaran di sebelah lemari C untuk tempat HP. Silakan dibayangkan saja.

Penasaran bentuk lemari2 itu? Ini dia.

lemari-pendek

lemari-gantungan-baju

Bersih, rapi, luas, dan seragam. Tipe saya sekali :D.

Sekarang tinggal memikirkan berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk keempat lemari tersebut. Ada yang bisa memberitahu? Atau anda punya pengalaman lain tentang tata ruang kamar anda? Sudilah membaginya di kolom komentar.

Update

Setelah saya pertimbangkan lagi, posisi A sepertinya akan lebih baik diisi dengan lemari seperti ini:

lemari-pendek2

Lemari pendek dengan 1 pintu dan 3 laci. Bagian kiri (apa to istilahnya?) bisa digunakan untuk menyimpan dokumen2, sementara lacinya untuk menyimpan alat2 tulis/kantor atau barang2 kecil lainnya.

Categories: posts
Tagged:

Problematika Ndodok di Kantor

June 27, 2008 · 20 Comments

Ini tulisan ke-2 saya tentang nongkrong, ndodok, ndoprok, whatever, di kantor. Tulisan pertama dulu saya posting di blog lama yang sekarang domainnya saja sudah almarhum.

Mohon maaf apabila beberapa dari Anda mungkin menganggap postingan ini nggilani dan saru. Tapi cobalah jujur pada diri Anda sendiri. Bisakah Anda hidup sehari saja tanpa menunaikan ‘panggilan alam ini’? Karena sudah menjadi kebiasaan sehari2, maka sikapilah tulisan ini juga dengan biasa2 saja.

Namun demikian, saya tetap menyarankan buat Anda yang jijikan untuk tidak membaca tulisan ini. Minimal selesaikan dulu makan Anda sebelum membaca paragraf2 selanjutnya.

Semenjak pindah ke kantor baru, kami benar2 dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Mulai ruang kantor yang luas, meeting room yang benar2 terlihat seperti ruang rapat, AC yg bertebaran 3 biji di dinding2 ruang kerja, 2 buah LCD TV entah-berapa-inci, koneksi wireless (bagi pengguna leptop), LCD monitor (bagi pengguna PC), tempat parkir yg luas dan nyaman, dan tentu saja smoking area yang manusiawi bagi para smokers.

Senang? Iya lah.

Senang banget? Umm…

Ada satu hal yg sempat membuat banyak karyawan nggrundel selama beberapa minggu. Kantor ini punya toilet kering ala hotel berbintang, lengkap dengan WC duduk dan semprotan bokong-nya. Walau kelihatannya mewah, hal ini justru menjadi masalah buat sebagian karyawan.

Mayoritas karyawan yang dari lahir procot sampai tua bangkotan dibiasakan untuk jongkok waktu ndodok, jebar-jebur sambil kosok-kosok bokong waktu nyiram, sekarang diharuskan duduk manis di ruangan yang kering dan nyaman.

Oke lah, mereka bisa menerima kenyataan bahwa untuk nyiram hasil karyanya harus dengan mithet tombol di belakang mereka, tidak lagi menggunakan cibuk atau semacamnya. Tapi untuk membersihkan sisa2 yang masih cemong kalau cuma dikasi modal semprotan air, ya bisa shock juga saya rasa.

“Gimana caranya? Apa ya bisa bersih?”, demikian kira2 gejolak batin mereka.

Jadi jangan salahkan mereka juga kalau lantai kamar mandi kering itu seringkali keceh walaupun sudah ada himbauan manajemen berbunyi “keep it dry” terpasang tepat di depan mereka saat masuk ke toilet.

Namun sepertinya pihak kantor merasakan hawa keluh kesah karyawan, hingga akhirnya memugar toilet di belakang kantor dan melengkapinya dengan WC duduk (yaaay!!). Tapi itu juga bukan tanpa masalah. Pemugarannya memakan waktu lumayan lama, padahal mereka mengharapkan keberadaan toilet itu lebih dari apapun. Selesai dipugar, toilet itu juga dibiarkan begitu saja tanpa pintu. Kini setelah pintu itu terpasang, nggak ada tanda2 sabun di situ.

Jadi silakan Anda bayangkan, WC basah, nyiramnya jebar-jebur sambil kosok2 bokong, tanpa sabun? Apa iya saya harus jadi Soap Provider lagi seperti waktu di kantor lama?

Maka nggak ada jalan lain selain membiasakan bokong untuk jadi bokong kutho. Agak kagok memang awalnya. Tapi demi terlaksananya panggilan alam, sepertinya kami sudah mulai terbiasa.

Ah, cukuplah curhat saya mengenai perbokongan dan perndodokan hari ini. Sekali lagi maaf kalau postingan kali ini agak2 saru. Yah, mungkin ini akibat terlalu sering bergaul dengan tukang tambal ban.

Menutup tulisan saya kali ini, berikut petikan obrolan saya siang tadi dengan seorang teman, masih seputar masalah tembelek juga sih :))

Sunandar: ajarin aku php
gum_jazzaddict: wah, ndak bisa.
gum_jazzaddict: itu harus dari niat, bakat, dan keberuntungan :D
Sunandar: telek kambing
gum_jazzaddict: yowis aku kambinge, kon telek-e yo :))
Sunandar: telek SAPI
gum_jazzaddict: gpp, aku sapine
gum_jazzaddict: tapi yo ngono
gum_jazzaddict: kon pancet telek-e
gum_jazzaddict: :))

Sunandar: kon telek e pisan
gum_jazzaddict: gak iso. mana ada telek tanpa sapi?
Sunandar: sakarepmu
gum_jazzaddict: eh, disik endi? telek opo sapi? :))

Ya, ya… saya memang berkata-kata kasar. Tapi setidaknya saya lakukan di rumah saya sendiri, bukan di rumah orang lain.

Categories: posts
Tagged: , ,