Kulo Tiyang Sae

Entries tagged as ‘thoughts’

Tulisan Tentang Zakat

September 17, 2008 · 14 Comments

Sesak dada saya menyaksikan rekaman video warga yang berdesakan berebut zakat di Pasuruan tempo hari. Tidak perlu berada di sana untuk ikut merasakan sensasi tidak bisa bernafas, kepala pusing dan mata berkunang2.

http://www.youtube.com/watch?v=E9jTVkQujCs

Bagaimana tidak menyebabkan puluhan korban meninggal dan banyak yang pingsan? Ribuan massa yang datang dari berbagai penjuru Kota Pasuruan itu pada akhirnya terkonsentrasi pada satu titik dengan sangat padat, bottleneck!

Berbagai perdebatan muncul seputar fenomena ini. Sebagian besar menyalahkan pihak penyelenggara. Karena dengan dalih ’sudah berpengalaman’, mereka tidak membuat perhitungan lebih matang tentang resiko2 yang akan terjadi. Sebagian lagi menyalahkan kredibilitas badan pengelola zakat setempat sehingga penyelenggara zakat tidak memanfaatkannya. Tidak sedikit yang menyalahkan keterlambatan penanganan oleh aparat. Bahkan ada juga yang menyalahkan sistem pendidikan di Indonesia yang menghasilkan mental peminta seperti itu. Memang agak OOT, tapi ada benarnya juga.

Pejabat pemerintahan Pasuruan mengaku pihaknya dan aparat tidak diberitahu mengenai rencana pembagian zakat secara massal ini. Konyol, menurut saya. Itu hanya membuktikan bahwa pemerintah tidak jeli melihat pola kehidupan warganya. Padahal pembagian zakat model ini sudah berlangsung bertahun2.

Menurut pendapat saya, apabila semua pihak mau belajar dari pengalaman, peristiwa ini seharusnya tidak perlu terjadi.

Pihak penyelenggara, misalnya. Mereka harusnya mau mempertimbangkan sistem pembagian zakat yang lebih baik, mengingat fakta bahwa tahun sebelumnya sudah ada indikasi kejadian serupa (meskipun tidak sampai ada korban jiwa). Disamping itu, potensi peningkatan jumlah penerima zakat sangat terlihat dari makin tingginya biaya hidup saat ini, kan? Bagaimanapun, pembagian zakat secara massal dengan publikasi dari mulut ke mulut sangat riskan. Bayangkan penduduk miskin dengan mayoritas tingkat pendidikan rendah dan kesehariannya dihimpit kebutuhan hidup mendengar rencana ‘bagi2 duit’. Apa yang terjadi? Berita akan tersebar sangat cepat dan menghasilkan gelombang massa yang luar biasa.

Pemerintah daerah dan/atau lembaga2 zakat harusnya – seperti yang saya sudah singgung di atas – tahu betul potensi kekacauan yang bisa timbul dari pembagian zakat secara massal di tahun2 sebelumnya. Karena itu mereka harus lebih aktif mensosialisasikan sistem penanganan zakat yang lebih tertata, jauh sebelum musim pembagian zakat tiba. Sasarannya, jelas, para pembayar zakat yang masih belum juga mempercayakan zakatnya dikelola dengan lebih baik oleh lembaga yang memang mengurusi hal itu.

Di samping itu, insiden di tahun2 sebelumnya mustahil kalau tidak sampai ke meja aparat, minimal sebagai bahan rasan2. Sebelum itu terjadi lagi, bukankah sebaiknya aparat mengantisipasinya dengan mendirikan posko2 di daerah dimana pembagian zakat langsung sering diselenggarakan? Dengan begitu mereka akan lebih mudah dijangkau saat terjadi musibah. Tidak ada lagi alasan sulit menjangkau lokasi, aparat tidak diberitahu, dsb. Mirip2 posko lebaran di sepanjang jalur mudik, menurut saya.

Kalaupun penyelenggara tetap tidak ingin melibatkan lembaga zakat dan aparat, cara lain masih bisa ditempuh daripada membaginya secara massal. Salah satunya, yang sempat terpikir oleh saya, adalah dengan cara selular.

Sistem kependudukan kita (di bawah kota/kabupaten) terbagi atas wilayah2 mulai dari kecamatan hingga RT/RW. Menerapkan sistem selular berarti bekerja sama dengan unit2 pemerintahan di wilayah2 tersebut. Tujuannya untuk membagi konsentrasi massa dan beban pendistribusian zakat dalam jumlah besar menjadi wilayah2.

Panitia bisa mendatangi tiap kelurahan (misalnya) di wilayahnya untuk mendapatkan data warga penerima zakat. Kelurahan meneruskan request ini ke RT/RW untuk mendapatkan data yang lebih rinci.

Selanjutnya dilakukan sosialisasi yang jelas di tiap wilayah, bahwa penerimaan zakat hanya bisa dilakukan di kelurahan masing2, tidak boleh overlapping. Selain wilayahnya, waktunya juga bisa dibagi apabila menangani semua area sekaligus dianggap memberatkan.

Setelah sosialisasi dilakukan, data2 terkumpul dan koordinasi sudah dilakukan di masing2 wilayah, barulah zakat dibagikan. Warga hanya harus menunjukkan bukti kependudukannya di wilayah tersebut untuk mendapatkan bagian zakatnya.

Ribet? Memang, karena susunan kepanitiaannya tentu akan lebih kompleks, membutuhkan lebih banyak orang. Tapi setidaknya itu lebih cerdas daripada sekedar pasang woro2 yang menarik konsentrasi warga ke satu titik. Di sisi lain, sikap keras kepala mereka yang tidak mau melibatkan badan zakat atau aparat tetap terpenuhi.

Butuh lebih banyak dana untuk operasional? Pastinya. Tapi untuk ukuran orang yang bersedia membagi hartanya ke ribuan warga miskin, biaya yang dia keluarkan untuk ini belum ada apa-apanya.

Itulah yang terpikirkan saat saya melihat kejadian ini. Tentunya masih ada banyak cara lain yang lebih cerdas dan tepat sasaran. Silakan kalau mau membaginya di kolom komentar.

Akhirnya, mari sama2 belajar dari pengalaman ini agar niat baik kita selalu tersalur dengan cara yang baik pula. Banyak cara orang dalam membayar zakat. Tapi menurut saya pribadi, yang terbaik adalah melihat dulu kondisi orang2 terdekat kita (keluarga, saudara, tetangga). Apakah masih ada yang harus dibantu? Kalau ada, dahulukan mereka. Baru pikirkan untuk bikin kegiatan sosial besar-besaran.

Mari kita nantikan wejangan dari Pak Kyai :D

gambar dapat dari internet

Categories: posts
Tagged: , ,

Kepunahan Media

August 21, 2008 · 15 Comments

Hingga saat ini kita mungkin sudah sering menyaksikan kepunahan suatu media, baik cetak maupun elektronik (apapun formatnya). Dampaknya jelas akan sangat terasa bagi audience setianya.

Berheti beroperasinya sebuah media bisa jadi diakibatkan oleh banyak hal. Pemberedelan semena2 oleh penguasa, masalah hukum, terhambat masalah dana, pergantian pemilik, atau mungkin karena pergantian format.

Radio 999 CNJ DJakarta Tamat Riwayatnya

Apapun alasannya, berhenti beroperasinya Radio 999 CNJ DJakarta tentu menyisakan duka mendalam bagi para pecinta jazz, seperti saya. Isu berganti format benar2 susah diterima, di tengah atmosfir jazz yang mulai segar di negeri ini.

Saya mendapat kabar sedih ini dari wartajazz, situs berita jazz indonesia. Kabarnya, hari ini adalah hari terakhir CNJ siaran.

Lebih sedih lagi (hampir menitikkan air mata, beneran!) membaca email perpisahan dari redaksi CNJ, seperti yg saya kutip dari wartajazz berikut ini:

Salam Perpisahan

5 tahun kita bersama…
5 tahun kami telah menemani anda…
5 tahun adalah masa masa indah…
Dimana kemerdekaan jazz dan
indahnya musik klasik coba dibangkitkan

Kini kami mengundurkan diri dari media dengar anda
Akankah kita bersua lagi?
Hanya Tuhan yang tahu…

Terimakasih tak terhingga
Kepada teman teman yang sudah bersama 999FM CNJ Djakarta
untuk segala perhatian, kerjasama,  partisipasi, support
dan kedekatan yang tidak akan mungkin terlupakan…

999 CNJ Djakarta team:

Benny Sofwan
Indrawan Ibonk
Iken Margaretha
Ratna Cahya
Rachmat Basuki (Kiky)
M. Farhan Alam
Shandy Triyana
Sunny

Saya dan CNJ

Cerita perkenalan saya dengan CNJ berawal pertengahan 2005 lalu waktu saya masih kerja di Tangerang. Meskipun sudah nggak kerasan kerja di sana, salah satu alasan saya berat meninggalkan Tangerang ya CNJ itu. Seumur hidup baru sekali itu saya menemukan stasiun radio yang selama 24 jam nonstop menyuguhkan musik2 klasik dan jazz, tanpa iklan. Sedih, karena saya tau persis, di Malang belum ada stasiun yg mengkhususkan eksis di jalur jazz.

Karena itu, tiap kali ada kesempatan ke Jakarta saya selalu menyempatkan diri untuk mampir ke frekuensi CNJ.

Selamatkan CNJ

Anyone, kalau ada apapun yg bisa dilakukan untuk menyelamatkan CNJ dimana saya bisa berpartisipasi (petisi online, misalnya), saya benar2 bersedia ikutan.

Save CNJ, save jazz in this country.

– gum

Categories: musics
Tagged: , , , ,

Insanity

August 11, 2008 · 12 Comments

When you’re in need of someone so bad, you realize that it turns you insane. Nothing seems to be right for you. Everything becomes so suck.

Then this lonely feeling starts to drag you away from your real world. Keeping you in a dark dungeon.

In this state, you’ll take anything — even if it’s a lie — just to make you feel that you’re not left behind.

So, lie to me. Tell me that you miss me too.

—-

update august 12nd :
she misses me.. and that’s not a lie :)

Categories: posts
Tagged: ,

Playing Games All The Time Makes You Stupid

August 3, 2008 · 7 Comments

Baca plurknya Kang Goen hari ini, saya jadi inget kejadian bertahun2 lalu waktu masih SMP. Mau dibilang pikun itu… saya belum tua. Mau dibilang bego… saya ini sebenernya gak bodo2 amat. Mau dibilang lemot… nah, kayaknya ini yang bener. Saya lagi lemot waktu itu.

Ceritanya siang itu saya mau pergi maen ke tempat temen, mau pinjem game super nintendo kalo gak salah. Karena dari bangun tidur belum nyentuh air samasekali, saya mutusin untuk sekalian mandi dulu. Setelah copot semua pakaian, mulailah saya melakukan ritual mandi. Biasanya sih dimulai dari sikat gigi, cuci muka, keramas, baru jebar-jebur. Special case kalo pas kebelet eek, ya mesti eek dulu.

Setelah urusan sikat gigi kelar, saya ambil sabun muka dan mulai mengusapnya ke telapak tangan sambil mikirin rencana ngerampok game temen saya :evil grin:.

Temen saya itu punya koleksi game super nintendo banyak banget. Hampir semua game yang lagi ngetrend saat itu dia punya. Sementara saya, cuma punya console dan satu game bonus bawaannya. Tapi dia rada pelit, sekali minjem nggak boleh lebih dari satu. Karena itu game yang mau dipinjem mesti bener2 dipertimbangkan.

Akhirnya pilihan jatuh ke Dragon Ball, dan acara ngelamunpun berlanjut dengan agenda menghafalkan movelistnya(*).

Nah, sambil ngelamun itulah saya akhirnya mengusap rambut dan mulai… keramas. Meskipun ngerasa ada yg aneh selama keramas, saya cuek aja. Sampai akhirnya saya menemukan botol sabun muka dengan tutupnya yang terbuka di pinggiran bak kamar mandi.

Saya terdiam sebentar…
menghentikan gerakan…
dan memandangi telapak tangan saya…
menciumnya…

…dan berteriak, “TUH KAAN!!! DIBILANGIN JUGA APA??! INI KAN SABUN MUKAAA!!!”

Buru2 saya cuci rambut yang sudah penuh dengan busa sabun muka mengandung butiran-halus-yg-berfungsi-mengangkat-jerawat ituh.

Dan aib memalukan ini tetap tersimpan selama bertahun2, well, sampai hari ini.

Kesimpulan: semakin terbukti bahwa saya lemot by default
Moral: beli game sendiri!!
Judul postingan terinspirasi dari sini
*) movelist : kombinasi tombol joypad untuk mengeluarkan secret move, combo, etc.

Categories: posts
Tagged: ,

Problematika Ndodok di Kantor

June 27, 2008 · 20 Comments

Ini tulisan ke-2 saya tentang nongkrong, ndodok, ndoprok, whatever, di kantor. Tulisan pertama dulu saya posting di blog lama yang sekarang domainnya saja sudah almarhum.

Mohon maaf apabila beberapa dari Anda mungkin menganggap postingan ini nggilani dan saru. Tapi cobalah jujur pada diri Anda sendiri. Bisakah Anda hidup sehari saja tanpa menunaikan ‘panggilan alam ini’? Karena sudah menjadi kebiasaan sehari2, maka sikapilah tulisan ini juga dengan biasa2 saja.

Namun demikian, saya tetap menyarankan buat Anda yang jijikan untuk tidak membaca tulisan ini. Minimal selesaikan dulu makan Anda sebelum membaca paragraf2 selanjutnya.

Semenjak pindah ke kantor baru, kami benar2 dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Mulai ruang kantor yang luas, meeting room yang benar2 terlihat seperti ruang rapat, AC yg bertebaran 3 biji di dinding2 ruang kerja, 2 buah LCD TV entah-berapa-inci, koneksi wireless (bagi pengguna leptop), LCD monitor (bagi pengguna PC), tempat parkir yg luas dan nyaman, dan tentu saja smoking area yang manusiawi bagi para smokers.

Senang? Iya lah.

Senang banget? Umm…

Ada satu hal yg sempat membuat banyak karyawan nggrundel selama beberapa minggu. Kantor ini punya toilet kering ala hotel berbintang, lengkap dengan WC duduk dan semprotan bokong-nya. Walau kelihatannya mewah, hal ini justru menjadi masalah buat sebagian karyawan.

Mayoritas karyawan yang dari lahir procot sampai tua bangkotan dibiasakan untuk jongkok waktu ndodok, jebar-jebur sambil kosok-kosok bokong waktu nyiram, sekarang diharuskan duduk manis di ruangan yang kering dan nyaman.

Oke lah, mereka bisa menerima kenyataan bahwa untuk nyiram hasil karyanya harus dengan mithet tombol di belakang mereka, tidak lagi menggunakan cibuk atau semacamnya. Tapi untuk membersihkan sisa2 yang masih cemong kalau cuma dikasi modal semprotan air, ya bisa shock juga saya rasa.

“Gimana caranya? Apa ya bisa bersih?”, demikian kira2 gejolak batin mereka.

Jadi jangan salahkan mereka juga kalau lantai kamar mandi kering itu seringkali keceh walaupun sudah ada himbauan manajemen berbunyi “keep it dry” terpasang tepat di depan mereka saat masuk ke toilet.

Namun sepertinya pihak kantor merasakan hawa keluh kesah karyawan, hingga akhirnya memugar toilet di belakang kantor dan melengkapinya dengan WC duduk (yaaay!!). Tapi itu juga bukan tanpa masalah. Pemugarannya memakan waktu lumayan lama, padahal mereka mengharapkan keberadaan toilet itu lebih dari apapun. Selesai dipugar, toilet itu juga dibiarkan begitu saja tanpa pintu. Kini setelah pintu itu terpasang, nggak ada tanda2 sabun di situ.

Jadi silakan Anda bayangkan, WC basah, nyiramnya jebar-jebur sambil kosok2 bokong, tanpa sabun? Apa iya saya harus jadi Soap Provider lagi seperti waktu di kantor lama?

Maka nggak ada jalan lain selain membiasakan bokong untuk jadi bokong kutho. Agak kagok memang awalnya. Tapi demi terlaksananya panggilan alam, sepertinya kami sudah mulai terbiasa.

Ah, cukuplah curhat saya mengenai perbokongan dan perndodokan hari ini. Sekali lagi maaf kalau postingan kali ini agak2 saru. Yah, mungkin ini akibat terlalu sering bergaul dengan tukang tambal ban.

Menutup tulisan saya kali ini, berikut petikan obrolan saya siang tadi dengan seorang teman, masih seputar masalah tembelek juga sih :))

Sunandar: ajarin aku php
gum_jazzaddict: wah, ndak bisa.
gum_jazzaddict: itu harus dari niat, bakat, dan keberuntungan :D
Sunandar: telek kambing
gum_jazzaddict: yowis aku kambinge, kon telek-e yo :))
Sunandar: telek SAPI
gum_jazzaddict: gpp, aku sapine
gum_jazzaddict: tapi yo ngono
gum_jazzaddict: kon pancet telek-e
gum_jazzaddict: :))

Sunandar: kon telek e pisan
gum_jazzaddict: gak iso. mana ada telek tanpa sapi?
Sunandar: sakarepmu
gum_jazzaddict: eh, disik endi? telek opo sapi? :))

Ya, ya… saya memang berkata-kata kasar. Tapi setidaknya saya lakukan di rumah saya sendiri, bukan di rumah orang lain.

Categories: posts
Tagged: , ,