Kulo Tiyang Sae

Entries tagged as ‘work’

Uncaptured Moments, at a Glance

July 21, 2008 · 19 Comments

Ya2, memang kebiasaan buruk saya meninggalkan blog begitu saja setelah satu-dua postingan, sampai dua kali disentil seperti ini. Abis mau gimana lagi? Karena satu dan lain hal, banyak momen yang terlewat dan nggak terukir di sini. RSS Reader juga udah lama nggak saya buka.

Jadi ceritanya sekarang saya mau nge-rapel momen2 beberapa minggu kemarin.

Gum Goes to Jakarta (GGTJ *halah*)

Pertengahan bulan kemarin saya ke Jakarta buat ketemuan sama Intan, setelah sekian bulan hanya bisa bertukar suara lewat esia yg bermasalah itu. Kebetulan tanggal 11 kemarin adalah hari terakhirnya di kantor lama. Jadi sekalian nemenin dia perpisahan, gitu.

Yang sempat bikin sebel, saya dimanfaatin sama kantor untuk sekalian meeting di Jakarta. Mumpung saya di sana, katanya. Tapi terbayar, kok. Tiket pesawat Jakarta-Malang ditanggung kantor *besok2 lagi ya boss*.

Tapi perjalanan dengan pesawat kali ini sudah nggak bikin saya deg2an lagi. Soalnya saya sekarang lebih trauma naik taksi burung biru. Gimana nggak? Di jalan tol keluar dari bandara, supirnya ketiduran!! Asli ini!! Tidur yang merem gitu. Sampe hampir nabrak sedan Lexus kinyis-kinyis di depan.

Buat yg kebetulan naik taksi ini dengan nomer lambung EB 1773, titip salam buat supirnya ya :D

Mas Goen, ternyata kita kaum senasib yang cuma beda tampang ya. Masih kerenan saya gitu maksudnya *ngumpet*.

Oh iya. Kali ini, thanks to Edwin, kita sempat foto2 dengan kamera yang lebih beradab di tangan yang tepat pula.

Yep, dua mahluk kucel di atas itu Intan dan saya.

Eh, pulang pergi Jakarta-Malang kemarin saya kebarengan orang2 tipi terus. Dari Malang kebarengan Squad Arema. Pulangnya kebarengan Andi Malarangeng dan rombongnya rombongan. Trus di Bandara Abdurrahman Saleh ketemu juga sama Ari Dagink. Ada apa ini? Apakah pertanda saya akan terkenal? :D

*buat simbok: maap belum sempat mampir yaa*

Niece’s First Day At School

“Ooom, aku tadi belajar nyanyiii…”

Hari itu saya baru aja dateng dari Jakarta. Baru aja nyampe rumah dan sedang ngobrol sama Bapak saat tiba2 malaikat kecil ini berteriak girang dan nubruk saya dari belakang, lengkap dengan seragam TK dan tas punggungnya. Ya, itu adalah hari pertamanya di sekolah.

Sambil saya pangku, saya tanya dia, “Adek nyanyi apa tadi?”. “Nggak tau”, jawabnya. Hihihi…

“Aku udah sekolah, jadi udah nggak boleh ngompol lagi kata bu guru”. Yah, semoga ^^;;

Mahluk mungil itu sekarang sudah sekolah :)

Saya Masuk Malem Lagi

Sejak hari ini saya resmi masuk malem lagi, mengulang kehidupan sebagai mahluk nocturnal seperti dulu. Padahal kondisi sedang nggak fit. Flu yang sudah berlangsung lebih dari seminggu menyisakan batuk yang berkepanjangan. Semoga besok sembuh, soalnya mau ada acara nonton bareng sama orang2 kantor. Nggak seru kan kalo saya jadi pengisi suara di bioskop.

Hehe, masuk malem lagi. Apakah kinerja saya akan membaik atau memburuk? Apakah blog ini akan makin sering saya rawat atau justru makin sering sepi? Apakah koleksi jazz saya akan bertambah (*)? Kita liat aja nanti *uhuk*.

Maka sekianlah postingan saya yang banjir link dan miskin bobot kali ini. Buat yang sudah nyentil saya untuk update, terima kasih ya. It’s really nice to know that some people out there still waiting any news from you :)

(*) koleksi jazz saya yang bergiga2 itu saya dapat selama masuk malam dulu :p

Categories: posts
Tagged: , , , ,

Problematika Ndodok di Kantor

June 27, 2008 · 20 Comments

Ini tulisan ke-2 saya tentang nongkrong, ndodok, ndoprok, whatever, di kantor. Tulisan pertama dulu saya posting di blog lama yang sekarang domainnya saja sudah almarhum.

Mohon maaf apabila beberapa dari Anda mungkin menganggap postingan ini nggilani dan saru. Tapi cobalah jujur pada diri Anda sendiri. Bisakah Anda hidup sehari saja tanpa menunaikan ‘panggilan alam ini’? Karena sudah menjadi kebiasaan sehari2, maka sikapilah tulisan ini juga dengan biasa2 saja.

Namun demikian, saya tetap menyarankan buat Anda yang jijikan untuk tidak membaca tulisan ini. Minimal selesaikan dulu makan Anda sebelum membaca paragraf2 selanjutnya.

Semenjak pindah ke kantor baru, kami benar2 dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Mulai ruang kantor yang luas, meeting room yang benar2 terlihat seperti ruang rapat, AC yg bertebaran 3 biji di dinding2 ruang kerja, 2 buah LCD TV entah-berapa-inci, koneksi wireless (bagi pengguna leptop), LCD monitor (bagi pengguna PC), tempat parkir yg luas dan nyaman, dan tentu saja smoking area yang manusiawi bagi para smokers.

Senang? Iya lah.

Senang banget? Umm…

Ada satu hal yg sempat membuat banyak karyawan nggrundel selama beberapa minggu. Kantor ini punya toilet kering ala hotel berbintang, lengkap dengan WC duduk dan semprotan bokong-nya. Walau kelihatannya mewah, hal ini justru menjadi masalah buat sebagian karyawan.

Mayoritas karyawan yang dari lahir procot sampai tua bangkotan dibiasakan untuk jongkok waktu ndodok, jebar-jebur sambil kosok-kosok bokong waktu nyiram, sekarang diharuskan duduk manis di ruangan yang kering dan nyaman.

Oke lah, mereka bisa menerima kenyataan bahwa untuk nyiram hasil karyanya harus dengan mithet tombol di belakang mereka, tidak lagi menggunakan cibuk atau semacamnya. Tapi untuk membersihkan sisa2 yang masih cemong kalau cuma dikasi modal semprotan air, ya bisa shock juga saya rasa.

“Gimana caranya? Apa ya bisa bersih?”, demikian kira2 gejolak batin mereka.

Jadi jangan salahkan mereka juga kalau lantai kamar mandi kering itu seringkali keceh walaupun sudah ada himbauan manajemen berbunyi “keep it dry” terpasang tepat di depan mereka saat masuk ke toilet.

Namun sepertinya pihak kantor merasakan hawa keluh kesah karyawan, hingga akhirnya memugar toilet di belakang kantor dan melengkapinya dengan WC duduk (yaaay!!). Tapi itu juga bukan tanpa masalah. Pemugarannya memakan waktu lumayan lama, padahal mereka mengharapkan keberadaan toilet itu lebih dari apapun. Selesai dipugar, toilet itu juga dibiarkan begitu saja tanpa pintu. Kini setelah pintu itu terpasang, nggak ada tanda2 sabun di situ.

Jadi silakan Anda bayangkan, WC basah, nyiramnya jebar-jebur sambil kosok2 bokong, tanpa sabun? Apa iya saya harus jadi Soap Provider lagi seperti waktu di kantor lama?

Maka nggak ada jalan lain selain membiasakan bokong untuk jadi bokong kutho. Agak kagok memang awalnya. Tapi demi terlaksananya panggilan alam, sepertinya kami sudah mulai terbiasa.

Ah, cukuplah curhat saya mengenai perbokongan dan perndodokan hari ini. Sekali lagi maaf kalau postingan kali ini agak2 saru. Yah, mungkin ini akibat terlalu sering bergaul dengan tukang tambal ban.

Menutup tulisan saya kali ini, berikut petikan obrolan saya siang tadi dengan seorang teman, masih seputar masalah tembelek juga sih :))

Sunandar: ajarin aku php
gum_jazzaddict: wah, ndak bisa.
gum_jazzaddict: itu harus dari niat, bakat, dan keberuntungan :D
Sunandar: telek kambing
gum_jazzaddict: yowis aku kambinge, kon telek-e yo :))
Sunandar: telek SAPI
gum_jazzaddict: gpp, aku sapine
gum_jazzaddict: tapi yo ngono
gum_jazzaddict: kon pancet telek-e
gum_jazzaddict: :))

Sunandar: kon telek e pisan
gum_jazzaddict: gak iso. mana ada telek tanpa sapi?
Sunandar: sakarepmu
gum_jazzaddict: eh, disik endi? telek opo sapi? :))

Ya, ya… saya memang berkata-kata kasar. Tapi setidaknya saya lakukan di rumah saya sendiri, bukan di rumah orang lain.

Categories: posts
Tagged: , ,

I Have My Own Jazzy Night… at the Office

April 5, 2008 · 1 Comment

Setiap Hari Sabtu selalu saja seperti ini.

Hari Sabtu kerjaan saya justru numpuk, dan – sialnya – di saat yang bersamaan mood saya selalu merosot. Ya, ini memang konsekuensi saya karena memilih libur di Hari Minggu dan Senin.

Serba salah. Saya libur hari Senin karena kadang ada saja urusan yang harus diselesaikan pada hari dan jam kerja. Bayar ini, ngurus itu, benerin anu. Satu2nya kesempatan dalam seminggu ya Hari Senin.

Tapi konsekuensi dari hari libur yang nyeleneh seperti ini saya harus rela kerja sendiri Hari Sabtu karena tim saya pada libur.

Nggak jarang saya sampai nginep di kantor. Bukan semata2 karena kerjaan menumpuk, tapi ya itu tadi, mood saya merosot justru di akhir pekan. Dengan semangat kerja yang pas2an seperti itu, saya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan satu pekerjaan.

Dan saya punya dugaan kuat, malam ini sepertinya akan seperti Sabtu2 kemarin.

Well, at least I have my own jazzy night… at the office.

hiks… i miss my social life…

Btw, ada yang punya database HLR operator2 selular di Indonesia? Share ke saya, plis. Karena kalau harus parsing dari dokumen yang dikirim ke saya tempo hari… it’s such a pain in the ass.

Categories: work-related
Tagged: ,

Pergantian Shift

March 6, 2008 · 13 Comments

Di kantor saya, normalnya ada 2 shift kerja, pagi dan malam. Shift pagi (termasuk saya) normalnya dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Jam 5 lebih sedikit, tim malam sudah pada datang.

Sore ini memang nggak seperti biasanya. Dari keseluruhan tim pagi, 2 orang sedang tugas ke jakarta, 1 orang cuti, 2 orang nggak sampai overtime, sementara 1 orang resign beberapa waktu lalu. Wajar kalau ada tim malam yang komentar begini waktu datang ke kantor, “Tumben sore ini sepi”.

Temen saya nyeletuk, “Bakar pohon di depan aja kalo mau rame”

Saya (bisik2 lewat YM), “Ngapain susah2? Sembunyiin aja mousenya pak boss :))”

*cari masalah itu namanya*

Categories: work-related
Tagged:

Silently Shutted Down

February 19, 2008 · 14 Comments

Ini masih ada kaitannya dengan cerita lalu, dimana ’sunyi senyap’ sudah menjadi fitur di lingkungan saya.

Ceritanya saya harus jalanin proses generate data yang nantinya didownload. Proses generate ini lumayan lama karena banyak query bertumpuk. Sempat bikin optimasinya, tapi sepertinya masi berkutu.

Jadilah script lama ini tetap dipakai untuk upload data yang lumayan banyak. Estimasi saya, hasil proses ini baru bisa didownload sekitar 2-3 jam lagi.

Yeah, I know it sucks and really needs to be optimized.

Sambil nunggu proses selesai, saya konsen ke kerjaan lain. Tapi penantian panjang saya ternyata hanya untuk mendapatkan output :

Error: Server shutdown in progress

HIYAAAAAA……

Mbok ya kalo ada jadwal restart server itu diberitakan ke bawah, gitu. Gini caranya, saya mesti bersih2 database untuk nyiapin upload ulang.

3 hours of nothing…

Categories: work-related
Tagged: