Naik Angkot Lagi

Kalau ada satu pelajaran berharga yang harusnya bisa saya petik dari kembali menggunakan angkot setelah 10 tahun meninggalkan kota ini, itu adalah percaya saja sama pak sopir atau sekalian tanya, jangan pernah mengandalkan intuisi.

Hari Senin yang lalu contohnya. Karena selama perjalanan asik dengan ponsel, saya kaget saat melongok ke luar jendela dan menemukan saya berada di wilayah yang menurut saya agak asing.

Nengok ke kaca jendela belakang, jurusan yang tertera adalah ABH (Arjosari-Borobudur-Hamid Rusdi), bukan ABG (Arjosari-Borobudur-Gadang) yang harusnya saya naiki.

Lah? Saya salah naik angkot? Lebih lagi, ini jalur baru? Sejak kapan?

Setelah turun dan membayar ongkos, saya perhatikan angkot yang mulai menjauh itu. Di sisi sampingnya tetap tertera jurusan ABG. Saya melihat sekeliling berusaha mengenali daerah tempat saya turun. Ternyata kawasan Sukarno Hatta, jalan yang memang dilalui angkot jalur ABG. Nggak heran saya hampir nggak mengenalinya. Banyak sekali perubahan di sana-sini.

Karena angkot tadi sudah terlalu jauh untuk dikejar, saya memutuskan menunggu angkot berikutnya.

Belakangan saya baru tahu tentang Hamid Rusdi, terminal pengganti selama terminal Gadang direnovasi. Itu sebabnya di kaca belakang angkot ABG tertera nama jalur baru, ABH.

Hari itu saya naik angkot 2 kali untuk tujuan yang sama.

But, wait! There’s more!

Pagi ini saya kembali naik angkot dengan jalur yang sama. Di Jalan Sukarno Hatta, kali ini di lokasi yg nggak jauh dari kantor (yep, saya harusnya cek Google Maps dulu), pak sopir memutuskan untuk berhenti menunggu penumpang sambil baca koran. Karena sepertinya bakal lama, saya memutuskan untuk turun dan berjalan kaki. Toh sudah nggak terlalu jauh. Ya, kan?

Salah! Ternyata masih jauh. Banget.

Setelah jalan beberapa puluh meter, angkot tadi perlahan mandahului saya. Tentu saja tengsin untuk naik lagi kan?

Saya akhirnya memilih tetap melanjutkan jalan kaki ketimbang naik angkot berikutnya dan mengulangi kesalahan yg sama seperti hari Senin kemarin.

Iklan