Budi


Saya akui bahwa dari segi judul, postingan kali ini ada kemiripan dengan salah satu postingannya mas ini, tapi walaupun demikian sama sekali tidak berusaha beranalogi seperti postingan tersebut.Masih ingat jaman SD dulu, kan? Di hampir semua text book, yang jadi tokoh utamanya adalah si Budi ini (Amir juga, kalau Anda masih ingat). Beberapa memorable quote yang saya yakin Anda pasti sangat familiar adalah :
– Ini Budi;
– Ini ibu Budi;
– Ini ayah Budi;
– Ini Wati, adik Budi;
– dan so on…
Seingat saya, ibunya si Budi namanya Ani, ayahnya adalah Hasan (CMIIW). Iwan adalah adik Budi yang paling kecil. Sedangkan Amir adalah figuran yang cukup sering muncul di cerita si Budi.

Dari dulu hingga sekarang banyak pertanyaan (yang mungkin seharusnya tidak perlu dipertanyakan) muncul dalam benak saya mengenai fenomena si Budi ini. Salah satunya adalah : Kenapa harus ‘Budi’? Berusaha memilih nama yang ‘Indonesia banget’?

Dan seakan-akan si Budi menjadi tokoh imajiner idola saat itu, dia tidak hanya muncul pada pelajaran Bahasa Indonesia, tapi juga pada pelajaran lain yang memiliki soal cerita. Lengkap dengan tokoh keluarga dan (kadang juga) figurannya.

Pelajaran matematika, misalnya.
“Budi mempunyai 3 buah apel. Ani dan Iwan masing-masing mempunyai 2 buah apel. Berapa total buah apel yang mereka miliki?”
(Jawaban saya sih, nol. Karena eh karena, mereka lari gara-gara ketahuan nyolong apel, dan apelnya lupa mereka bawa.)

Saya jadi curiga bahwa keluarga ini bukan sekedar imajiner. Bisa jadi ada orang Balai Pustaka (penerbit buku-buku wajib saat itu) yang sengaja memunculkan keluarganya di sini. Karena saya pasti akan melakukan hal yang sama apabila saya jadi orang itu. (kapan lagi nama ‘GuM’ bisa muncul di text book?)

Lucunya, saat itu saya selalu berpikir bahwa si Budi ini seumuran dengan saya. Karena saat saya kelas 1 SD, Budi juga kelas 1 SD. Saat saya kelas 2 SD, Budi juga kelas 2 SD. Begitu seterusnya. Namun si Budi masih juga muncul di buku-buku adik kelas saya. Dan saat itu muncul pertanyaan bodoh khas anak kecil, “Si Budi ini sebenernya kelas berapa sih? Apa sempat nggak naik kelas?”

Sekarang pamor si Budi sepertinya sudah luntur, digantikan oleh Amir, Evi, Nina, Wiwin, Yayuk, Tini, Kartolo…. *halah*

Kalimat contoh yang digunakan saat ini pun sudah mengandung unsur-unsur SPOK, dan memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik. Kalimat-kalimat prematur semacam ‘Ini Budi’ atau ‘Ini ibu Budi’ sudah mulai ditinggalkan. Begitu juga dengan nama-nama yang sudah over-exposed macam si Budi.

Ah, kasihan si Budi….

Ngomon-ngomong, si Budi kuliah di mana ya?

2 tanggapan untuk “Budi”

  1. Budi itu temennya Bobo, dari aku sekolah dasar sampe sarjana mereka masih belum lulus juga.

    Eh betewe, BUDI itu ada kepanjangannya lhoh, yaitu … errr… perlu gak ya…

  2. hebatnya buku jadul, dipake sampe bbrp angkatan, selain hemat, efeknya saat ini kita bisa nostalgia bareng2 soal nama Budi, Wati dan Iwan :D

    Oh iya, Ani tu nama ibunya ya? gue pikir temennya si Wati. Ayahnya sih kayaknya bener Hasan, berkumis yaa… wahahahahahh :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s