Ndelosor to de Max


Masih sakit hati rasanya kalau ingat kejadian tadi malam, mau potong rambut aja harus pake acara nyium aspal segala.

Malam itu saya minta Hesti, temen kantor, untuk nganter saya ke salon. Ya, saya memang bisa berangkat sendiri. But I really need second opinion, so I took her with me.

Melewati perempatan (nggak tau nama jalannya), saya ambil belokan ke kanan, ke arah kota. Setelah itu langsung ambil jalur kiri karena saya memang mengemudi dalam kecepatan yang lumayan lambat.

Di depan saya ada seorang bapak yang sedang mengayuh sepeda di bahu jalan. Saat jarak kami mulai dekat tiba2 dia banting setir ke kanan memotong jalur saya. Walaupun masih dalam batas kecepatan sangat normal (karena sempat mengurangi kecepatan saat belok di lampu merah tadi), tapi jarak yang cukup dekat dan gerakan mendadak si bapak membuat tabrakan jelas nggak bisa dihindarkan.

Motor saya langsung oleng setelah menabrak sepeda si bapak. Saya jatuh dan mendarat menggunakan siku tangan kiri, sementara kaki kiri sudah terlebih dulu terhempas ke aspal dan tertindih motor. Hesti sendiri nggak lebih beruntung dari saya. Dengkul kakinya memar akibat benturan keras ke aspal jalan. Sementara jari2 tangannya juga lecet, meski nggak terlalu parah.

Setelah keseimbangan sudah pulih, saya bangun dan membawa motor ke pinggir. Sementara si bapak membawa sepedanya ke seberang jalan.

Setelah memastikan saya dan Hesti nggak mengalami cedera serius, saya menghampiri si bapak di seberang jalan yang merintih kesakitan memegangi kakinya. Ban sepedanya hampir berbentuk angka 8. Jelas nggak bisa dikendarai, pikir saya. Setelah saya periksa, kondisi si bapak ternyata sama sekali nggak parah. Dia hanya merintih agar saya berbelas kasihan atas tindakan bodoh yang dia lakukan. Niat mengantarnya pulangpun saya urungkan.

Sebenarnya saya punya hak untuk marah dan memaki dia karena kecerobohannya, tapi lagi2 saya urungkan. Setelah saya beri biaya pengganti kerusakan sepedanya, diapun pergi menuntun sepedanya dengan langkah enteng. SHOOT!!

Saya malah baru sadar kalau ternyata siku tangan kiri saya lecet. Babras, orang jawa bilang. Tau kan? Bentuk luka yang kulitnya terkelupas sehingga keliatan dagingnya. Kami segera mencari apotik terdekat untuk beli peralatan pengobatan luka macam yodium, kapas dan plester.

Karena kondisi yang nggak terlalu parah, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Malam itu untuk pertama kalinya saya potong rambut sambil menahan perih dan ngilu akibat benturan di siku tangan kiri saya.

—–

Moral of the story:
Walaupun sudah berusaha untuk hati2, kecerobohan orang lain tetap saja bisa bikin kita celaka.

11 tanggapan untuk “Ndelosor to de Max”

  1. Pengemudi yang baik itu, yang bisa memperhitungkan manuver yang mungkin dilakukan oleh pengguna jalan lain.

    Kesimpulan: Gum, bukan pengendara yang baik.

    *buru-buru stater KZ*

  2. @rizal : but obviuosly better than before

    @aryo : it’s better now

    @anonymous : saya tau siapa anda… -_-

    @intan : kok akunya nggak ditanyain? T.T

    @titiw : ya nanti ditambal dulu :D

    @venus : kesimpulannya, si bapak bukan pengendara yang baik

    @aku : gimana mau ngelamun kalo ketiduran? *lebih parah :))*

    @ojat : jangan salah, mas. ban sepedanya jadi angka 8 romawi :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s