Memasyarakatkan Naik Sepeda dan Menaiki Sepeda Masyarakat… eh…


Malang Biking Season. Is it possible?

Terinspirasi dari event yang sama di Toronto, saya memimpikan masyarakat Malang memandang bersepeda sebagai kegiatan yang keren, bukan kere, ndeso atau gak bondo.

Di Toronto, kota metropolitan terbesar di Kanada itu, bersepeda sudah menjadi bagian dari masyarakat. Mereka bahkan mengadakan event2 bersepeda yg bergengsi. Sebut saja beberapa di antaranya :

Bicycle Friendly Business Awards
The Bicycle Friendly Business Awards are given out every year to businesses and organizations across Toronto who are making an effort to encourage their clients and employees to cycle.

Bike Pledge
The Bike Pledge, also known as the Bicycle Friendly Recognition Program, is open to businesses or organisations that are interested in becoming more bicycle-friendly. By becoming part of this program, you can lead by example and actively demonstrate a commitment to cycling as a sustainable form of transportation.

Bicycle Friendly Campuses Project
The Bicycle Friendly Campuses Project is run by the City of Toronto with funding from Environment Canada’s EcoAction Community Funding Program. The goal of the project is to increase the number of bicycle trips made in university communities by 10 per cent in one academic year, and consequently, to reduce the overall presence of greenhouse gases created by automobile emissions.

Membayangkannya saja sudah keren. Mahasiswa bersepeda ke kampus, dengan outfit yang keren, celana kargo, sepatu adidas atau reebok, bagpack. Pekerja kantoran berangkat ke kantor bersepeda, dengan kemeja, celana kain, sepatu pantofel, helm, lengkap dengan sunglassnya. Pelajar SD/SMP bersepeda beriringan ke sekolah tiap pagi.

Setiap jumat malam, klub2 sepeda berkumpul di Jalan Ijen atau warung2 kopi di sepanjang Jalan Sukarno Hatta. Alun2 dan Tugu Kota Malang dipenuhi oleh anak2 gaul dengan sepeda yang nggak kalah kerennya.

Lalu bayangkan ada award dari pemerintah daerah atau perusahaan2 besar di Malang untuk instansi2 pemerintah/non pemerintah yang sukses mengajak karyawannya untuk bersepada. Beasiswa untuk pelajar/mahasiswa yang mengumpulkan karcis parkir sepeda terbanyak di akhir tahun (ok, ini berlebihan). Atau mengirimkan kode karcis parkir melalui SMS premium untuk mendapatkan pulsa seumur hidup (ya, sangat berlebihan).

Yah, intinya, ciptakan kesan ‘Biking is Cool’, ‘Biking is the New Trend in Town’.

Cool, isn’t it?

Malang bisa benar2 jadi teladan untuk masalah kepedulian lingkungan, bahkan mungkin juga trendsetter untuk kota2 sekitarnya!

Ada yang berminat?

Nggak perlu bikin event ceremonial yang ribet dengan mendapuk pejabat daerah untuk berpidato “pentingnya bersepeda” diatas podium dan bersepeda bersama2 keliling kota. Nggak perlu.

Mulai saja bersepada dari sekarang. Trus nyebar selebaran/pinup yang keren tentang Malang Biking Season. Kalo perlu, bikin blognya sekalian. Nggak usah milis, nanti banyak nge-junknya :p

Nah, kalau sudah mulai memasyarakat, baru dipikirkan hari2 tertentu yang dijadikan biking season di Malang. Setiap akhir bulan selama seminggu, misalnya.

Jadi, ayo… Mumpung Malang belum sepanas kota2 metropolitan. Just get outside and ride! :D

*golek bolo*

17 tanggapan untuk “Memasyarakatkan Naik Sepeda dan Menaiki Sepeda Masyarakat… eh…”

  1. Tuh, orang2 malang.. dengerin apa kata mas Gum.. Secara aku anak Jakarta, kota di mana “ASALKAN” menjadi kata wajib.
    Aku mau naik angkot ASALKAN angkotnya bagus.
    Aku mau jalan kaki ASALKAN trotoarnya ada.
    Aku mau naik sepeda ASALKAN gak panas.
    See? ya gitu deh, aku mau pacaran sama mas Gum ASALKAN mas Gum ganteng banget ngelebihin akang ricky subagdja, punya duit lebih dari bill gates, punya bodi lebih oke daripada bret pitt. Wassalam.. *tebar upil ke mana2*

    gum: =))
    ricky aja belon tentuh mauu… apalagih sayaah…
    eek!! :))

  2. jujur gara2 baca posting dan komenmu di blog calon pengantin ituh (males nggawe html) saya ada niat buat bike to work…. sueeeerrrrrrrr……
    hal ini sudah saya bicarakan diatas ranjang dengan sang istri
    :D

    gum: wah, jadi sampeyan pernah ngobrol di atas ranjang sama calon pengantin itu?? ck.. ck.. ck..

  3. asli kalo kantor saya deket saya pengin naik sepeda.. onthel aja… sayang dai Lawang.. bisa gobyos.. :)

    gum: yaa tentunya nggak harus dipaksakan to pak. yang reasonable aja jaraknya. tapi kalo mau ya moonggo :D

  4. klo aktifitas ‘social’ kaya gini mesti berangkat dari hobi dan kesadaran… kalo ga, ya bakal ada banyak ‘excuse’ macam-macam, yg ga punya sepeda lah, yg jalannya jauh lah, yg jalannya naek turun lah, yg ntar lah…
    just my 2 cent :p

    gum: karena itulah dimulai dari yg hobi dulu. asal konsisten dan punya konsep yg bagus, lama2 kan memasyarakat juga. kalo sudah mulai jadi trend dan terlihat keren, orang lain bakal ngikut. kecenderungan masyarakat kan mengikuti tren biar keliatan keren :D
    *that’s my 50cent*

  5. bayangin sukun-araya naek sepeda….. trus pulang araya -sukun naek sepeda lagi…

    * tiap hari gtu keknya salah satu alternatip pelangsingan yg bisa ditrima…(diet mode on)

    gum: dan bisa meminimalisir resiko nabrak pickup dan mikrolet

  6. keliling kota dengan sepeda aduh menyenangkan sekali…

    gum: not only because it’s fun. it’s cool !! :D

    salam kenal

    gum: salam kenal juga :)

  7. wah, ide bagus tuh, bisa ngurangin polusi udara jugak. Ayo semua naik sepeda! Masak kalah sama Lintang di Laskar Pelangi yang bersepeda 80 km hanya untuk sekolah, dah gitu di jalan pake ada acara dicegat buaya lagi, hihihihi……

    Btw, salam kenal yaaa….
    aku tau blog ini dari googling bukan dari misua :P

    gum: ya, jadi kapan itu misuanya diencourage untuk bersepeda? hihihi… salam kenal juga

  8. teman kantor saya ada juga yg tiap hari pp kerja pake sepeda. jadi kalo pagi mandi di kantor. lumayan menyehatkan sambil ngirit air juga kan yak? :P

    gum: ngirit apa kepepet, mbak? :D

  9. Syahdan, mengikuti perkembangan isu pemanasan global yang makin nggegirisi, mbak Kimpling, merasa perlu menentukan sikap. Mengutip pikiran bijak Aa Gym, Harus memulai dari diri sendiri, dari sesuatu yang kecil, harus mulai dari sekarang, mbak Kimplingpun memutuskan untuk segera bersepeda sebagai pilihan gaya hidupnya.

    Dengan bersepeda tiap berangkat dan pulang kerja, mbak Kimpling merasa polusi dari sepeda motor yang biasanya dia ciptakan terkurangi. Bayangkan 2 x 15 menit x 6 hari kepulan asap dan kebutuhan bahan bakar terdelete.
    “Sesederhana itu”, pikir mbak Kimpling sukacita.

    Dari yang hanya berangkat dan pulang kerja, mbak Kimpling mulai mengagendakan “ngepit” ke tempat dan acara acara yang memungkinkan. Apa salahnya? Panas di jalan, dia tutup dengan topi dan saputangan penutup wajah. Lumayan, menghemat bbm, sekalian berolah raga menghilangkan lemak lemak yang mulai rajin bersemayam ditubuhnya.

    Sampai pada suatu hari……………

    Mbak Kimpling dengan santai datang ke suatu acara promosi di sebuah hotel berbintang.
    “Sampai di hotel, aku ganti kostum, cuci muka, lap lap keringat. Beres deh” gumamnya ceria.
    Benar saja, dengan selamat dan sentosa Jeng Kimplingpun menyelesaikan ritual ganti kostumnya, maklumlah, mbak Kimpling ini PR yang mulai punya reputasi. Tentu dia tidak ingin tampil seadanya. Di lobby, mbak Kimpling bertemu dengan serombongan teman temannya yang sudah ketawa ketiwi menunggu acara di mulai. “Halo, mbak Kimpling, lama gak kelihatan” Haha hihi model selebritispun dimainkan dengan sukses.

    Sampai pada pertanyaan……………

    “Jeng Kimpling ke sini sama siapa”
    “Sendiri tu”
    “Naik apa? Mbok aku pulangnya nunut Jeng. Maklum suamiku paling ogah jemput aku kalau urusan kerja gini”
    “Waduh, maaf deh, saya naik sepeda”
    “Wah ya gak apa apa, toh udah malam, kan polisinya gak jaga. Gak pakai helm juga gak apa apa.

    Jeng Kimplingpun mringis.
    “Anu..sepeda……bukan sepeda motor. Maksud saya sepeda onthel…sepeda itu….”

    Sedetik dua detik, wajah mereka mengekspresikan ke-tidakdong-an yang berlebihan.
    Sejurus kemudian berhamburanlah pertanyan dan komentar,

    “Ha ? sepeda ?….”
    “Aduh jeng….emang lu udah miskin banget ya. Kok sampai naik sepeda?”
    “Apa lagi ngurusin badan ya?”
    “Aduh kok semangat sekali? Suami boleh ya? Apa gak hitam itu wajah”
    “Ehh Jeng, biarpun tu sepeda harganya 100 juta, namanya ya tetap saja sepeda. Kena panas, debu…disrempet srempet motor. Dipepet pepet mobil. Nggak punya kehormatan di jalan raya. Kacian deh……….”
    “Kalo ngepitnya di luar negeri, gua percaya deh, lu nikmat dan sejahtera. Nah di sini?bisa tetanus tau !!”

    Jeng Kimplingpun terbengong bengong.

    SALAM KENAL BWT SMW YAK!!!!!!!!!!!!!
    AKU ORANG MALANG YG MERANTAW DI JOGJA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s