Problematika Ndodok di Kantor


Ini tulisan ke-2 saya tentang nongkrong, ndodok, ndoprok, whatever, di kantor. Tulisan pertama dulu saya posting di blog lama yang sekarang domainnya saja sudah almarhum.

Mohon maaf apabila beberapa dari Anda mungkin menganggap postingan ini nggilani dan saru. Tapi cobalah jujur pada diri Anda sendiri. Bisakah Anda hidup sehari saja tanpa menunaikan ‘panggilan alam ini’? Karena sudah menjadi kebiasaan sehari2, maka sikapilah tulisan ini juga dengan biasa2 saja.

Namun demikian, saya tetap menyarankan buat Anda yang jijikan untuk tidak membaca tulisan ini. Minimal selesaikan dulu makan Anda sebelum membaca paragraf2 selanjutnya.

Semenjak pindah ke kantor baru, kami benar2 dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Mulai ruang kantor yang luas, meeting room yang benar2 terlihat seperti ruang rapat, AC yg bertebaran 3 biji di dinding2 ruang kerja, 2 buah LCD TV entah-berapa-inci, koneksi wireless (bagi pengguna leptop), LCD monitor (bagi pengguna PC), tempat parkir yg luas dan nyaman, dan tentu saja smoking area yang manusiawi bagi para smokers.

Senang? Iya lah.

Senang banget? Umm…

Ada satu hal yg sempat membuat banyak karyawan nggrundel selama beberapa minggu. Kantor ini punya toilet kering ala hotel berbintang, lengkap dengan WC duduk dan semprotan bokong-nya. Walau kelihatannya mewah, hal ini justru menjadi masalah buat sebagian karyawan.

Mayoritas karyawan yang dari lahir procot sampai tua bangkotan dibiasakan untuk jongkok waktu ndodok, jebar-jebur sambil kosok-kosok bokong waktu nyiram, sekarang diharuskan duduk manis di ruangan yang kering dan nyaman.

Oke lah, mereka bisa menerima kenyataan bahwa untuk nyiram hasil karyanya harus dengan mithet tombol di belakang mereka, tidak lagi menggunakan cibuk atau semacamnya. Tapi untuk membersihkan sisa2 yang masih cemong kalau cuma dikasi modal semprotan air, ya bisa shock juga saya rasa.

“Gimana caranya? Apa ya bisa bersih?”, demikian kira2 gejolak batin mereka.

Jadi jangan salahkan mereka juga kalau lantai kamar mandi kering itu seringkali keceh walaupun sudah ada himbauan manajemen berbunyi “keep it dry” terpasang tepat di depan mereka saat masuk ke toilet.

Namun sepertinya pihak kantor merasakan hawa keluh kesah karyawan, hingga akhirnya memugar toilet di belakang kantor dan melengkapinya dengan WC duduk (yaaay!!). Tapi itu juga bukan tanpa masalah. Pemugarannya memakan waktu lumayan lama, padahal mereka mengharapkan keberadaan toilet itu lebih dari apapun. Selesai dipugar, toilet itu juga dibiarkan begitu saja tanpa pintu. Kini setelah pintu itu terpasang, nggak ada tanda2 sabun di situ.

Jadi silakan Anda bayangkan, WC basah, nyiramnya jebar-jebur sambil kosok2 bokong, tanpa sabun? Apa iya saya harus jadi Soap Provider lagi seperti waktu di kantor lama?

Maka nggak ada jalan lain selain membiasakan bokong untuk jadi bokong kutho. Agak kagok memang awalnya. Tapi demi terlaksananya panggilan alam, sepertinya kami sudah mulai terbiasa.

Ah, cukuplah curhat saya mengenai perbokongan dan perndodokan hari ini. Sekali lagi maaf kalau postingan kali ini agak2 saru. Yah, mungkin ini akibat terlalu sering bergaul dengan tukang tambal ban.

Menutup tulisan saya kali ini, berikut petikan obrolan saya siang tadi dengan seorang teman, masih seputar masalah tembelek juga sih :))

Sunandar: ajarin aku php
gum_jazzaddict: wah, ndak bisa.
gum_jazzaddict: itu harus dari niat, bakat, dan keberuntungan :D
Sunandar: telek kambing
gum_jazzaddict: yowis aku kambinge, kon telek-e yo :))
Sunandar: telek SAPI
gum_jazzaddict: gpp, aku sapine
gum_jazzaddict: tapi yo ngono
gum_jazzaddict: kon pancet telek-e
gum_jazzaddict: :))

Sunandar: kon telek e pisan
gum_jazzaddict: gak iso. mana ada telek tanpa sapi?
Sunandar: sakarepmu
gum_jazzaddict: eh, disik endi? telek opo sapi? :))

Ya, ya… saya memang berkata-kata kasar. Tapi setidaknya saya lakukan di rumah saya sendiri, bukan di rumah orang lain.

20 tanggapan untuk “Problematika Ndodok di Kantor”

  1. jadi ingat syuting mbah marijan di jakarta..pertama kali dia ke Jakarta, trus di taruh di hotel Borobudur – suite room. Tetap saja kalau ngising harus di WC satpam dekat tempat parkir….biar bisa ndodok

  2. anu mbah… jadi inget saiyah ,…. pas waktu itu anu… ehmm…. itu lo mbah….

    pas anu… *maap

    perut konslet sehari sampe 4kali ke masjid sampe dikenalin sama mas nya yg jaga masjid alhasil y kenalan sama mas nya ^^

    *curhat

  3. Saya ga ngerti bahasa jawa dan baru ngerti postingan ini adalah tentang ‘itu’ setelah lewat setengahnya… Haha… Saya kira nongkrong itu ya nongkrong2 ala anak gaul gtu.. Makanya bingung pas baca kebawah2nya.. ;D *Maaf sedikit oot yo mas…*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s