Tulisan Tentang Zakat


Sesak dada saya menyaksikan rekaman video warga yang berdesakan berebut zakat di Pasuruan tempo hari. Tidak perlu berada di sana untuk ikut merasakan sensasi tidak bisa bernafas, kepala pusing dan mata berkunang2.

http://www.youtube.com/watch?v=E9jTVkQujCs

Bagaimana tidak menyebabkan puluhan korban meninggal dan banyak yang pingsan? Ribuan massa yang datang dari berbagai penjuru Kota Pasuruan itu pada akhirnya terkonsentrasi pada satu titik dengan sangat padat, bottleneck!

Berbagai perdebatan muncul seputar fenomena ini. Sebagian besar menyalahkan pihak penyelenggara. Karena dengan dalih ‘sudah berpengalaman’, mereka tidak membuat perhitungan lebih matang tentang resiko2 yang akan terjadi. Sebagian lagi menyalahkan kredibilitas badan pengelola zakat setempat sehingga penyelenggara zakat tidak memanfaatkannya. Tidak sedikit yang menyalahkan keterlambatan penanganan oleh aparat. Bahkan ada juga yang menyalahkan sistem pendidikan di Indonesia yang menghasilkan mental peminta seperti itu. Memang agak OOT, tapi ada benarnya juga.

Pejabat pemerintahan Pasuruan mengaku pihaknya dan aparat tidak diberitahu mengenai rencana pembagian zakat secara massal ini. Konyol, menurut saya. Itu hanya membuktikan bahwa pemerintah tidak jeli melihat pola kehidupan warganya. Padahal pembagian zakat model ini sudah berlangsung bertahun2.

Menurut pendapat saya, apabila semua pihak mau belajar dari pengalaman, peristiwa ini seharusnya tidak perlu terjadi.

Pihak penyelenggara, misalnya. Mereka harusnya mau mempertimbangkan sistem pembagian zakat yang lebih baik, mengingat fakta bahwa tahun sebelumnya sudah ada indikasi kejadian serupa (meskipun tidak sampai ada korban jiwa). Disamping itu, potensi peningkatan jumlah penerima zakat sangat terlihat dari makin tingginya biaya hidup saat ini, kan? Bagaimanapun, pembagian zakat secara massal dengan publikasi dari mulut ke mulut sangat riskan. Bayangkan penduduk miskin dengan mayoritas tingkat pendidikan rendah dan kesehariannya dihimpit kebutuhan hidup mendengar rencana ‘bagi2 duit’. Apa yang terjadi? Berita akan tersebar sangat cepat dan menghasilkan gelombang massa yang luar biasa.

Pemerintah daerah dan/atau lembaga2 zakat harusnya – seperti yang saya sudah singgung di atas – tahu betul potensi kekacauan yang bisa timbul dari pembagian zakat secara massal di tahun2 sebelumnya. Karena itu mereka harus lebih aktif mensosialisasikan sistem penanganan zakat yang lebih tertata, jauh sebelum musim pembagian zakat tiba. Sasarannya, jelas, para pembayar zakat yang masih belum juga mempercayakan zakatnya dikelola dengan lebih baik oleh lembaga yang memang mengurusi hal itu.

Di samping itu, insiden di tahun2 sebelumnya mustahil kalau tidak sampai ke meja aparat, minimal sebagai bahan rasan2. Sebelum itu terjadi lagi, bukankah sebaiknya aparat mengantisipasinya dengan mendirikan posko2 di daerah dimana pembagian zakat langsung sering diselenggarakan? Dengan begitu mereka akan lebih mudah dijangkau saat terjadi musibah. Tidak ada lagi alasan sulit menjangkau lokasi, aparat tidak diberitahu, dsb. Mirip2 posko lebaran di sepanjang jalur mudik, menurut saya.

Kalaupun penyelenggara tetap tidak ingin melibatkan lembaga zakat dan aparat, cara lain masih bisa ditempuh daripada membaginya secara massal. Salah satunya, yang sempat terpikir oleh saya, adalah dengan cara selular.

Sistem kependudukan kita (di bawah kota/kabupaten) terbagi atas wilayah2 mulai dari kecamatan hingga RT/RW. Menerapkan sistem selular berarti bekerja sama dengan unit2 pemerintahan di wilayah2 tersebut. Tujuannya untuk membagi konsentrasi massa dan beban pendistribusian zakat dalam jumlah besar menjadi wilayah2.

Panitia bisa mendatangi tiap kelurahan (misalnya) di wilayahnya untuk mendapatkan data warga penerima zakat. Kelurahan meneruskan request ini ke RT/RW untuk mendapatkan data yang lebih rinci.

Selanjutnya dilakukan sosialisasi yang jelas di tiap wilayah, bahwa penerimaan zakat hanya bisa dilakukan di kelurahan masing2, tidak boleh overlapping. Selain wilayahnya, waktunya juga bisa dibagi apabila menangani semua area sekaligus dianggap memberatkan.

Setelah sosialisasi dilakukan, data2 terkumpul dan koordinasi sudah dilakukan di masing2 wilayah, barulah zakat dibagikan. Warga hanya harus menunjukkan bukti kependudukannya di wilayah tersebut untuk mendapatkan bagian zakatnya.

Ribet? Memang, karena susunan kepanitiaannya tentu akan lebih kompleks, membutuhkan lebih banyak orang. Tapi setidaknya itu lebih cerdas daripada sekedar pasang woro2 yang menarik konsentrasi warga ke satu titik. Di sisi lain, sikap keras kepala mereka yang tidak mau melibatkan badan zakat atau aparat tetap terpenuhi.

Butuh lebih banyak dana untuk operasional? Pastinya. Tapi untuk ukuran orang yang bersedia membagi hartanya ke ribuan warga miskin, biaya yang dia keluarkan untuk ini belum ada apa-apanya.

Itulah yang terpikirkan saat saya melihat kejadian ini. Tentunya masih ada banyak cara lain yang lebih cerdas dan tepat sasaran. Silakan kalau mau membaginya di kolom komentar.

Akhirnya, mari sama2 belajar dari pengalaman ini agar niat baik kita selalu tersalur dengan cara yang baik pula. Banyak cara orang dalam membayar zakat. Tapi menurut saya pribadi, yang terbaik adalah melihat dulu kondisi orang2 terdekat kita (keluarga, saudara, tetangga). Apakah masih ada yang harus dibantu? Kalau ada, dahulukan mereka. Baru pikirkan untuk bikin kegiatan sosial besar-besaran.

Mari kita nantikan wejangan dari Pak Kyai :D

gambar dapat dari internet

14 tanggapan untuk “Tulisan Tentang Zakat”

  1. Masalah Mental, yang miskin suka jadi peminta dan yang kaya sok borju.

    gum: meskipun dua2nya memang benar, tapi kalau dikelola dengan baik, ndak akan sefatal ini akibatnya

  2. serius postingan kali ini ya?

    dan serius, aku bukan cuma sedih liat berita ini di tivi tapi terutama MARAH. gak tau marah sama siapa :(

    gum: banyak yg bisa dituding dan disalahkan, mbok. tapi tuding-menuding itu apa ya bisa menyelesaikan masalah? lebih baik sama2 belajar dan berharap kejadian memilukan ini ndak terulang lagi

  3. klo emang ga prcaya ama badan zakat, knapa itu orang2 kaya yg jemput bola, mereka datangi rumah2 warga yg hendak diberi zakat.

    tp apa mungkin yo?

    gum: yang afdol memang jemput bola, mbak. tapi kalau warganya ribuan gitu kan ya ndak mungkin didatengin satu2. makanya pembagiannya per wilayah. kalau contoh di atas, per kelurahan.

  4. Seperti tulisan saya yang lalu, sedekah cara cerdas. Ah pake hp susah bikin link!
    Mari kita berdayakan lembaga amil zakat. Sudah selayaknya zakat bukan saja hanya untuk konsumsi sesaat si miskin tapi lebih dari itu. Zakat harus mampu menggerakkan ekonomi si miskin melalui usaha produktif.
    Jujur saya menyalahkan si haji nan dermawan itu. Jaman modern kok masih memakai cara jahiliah. Begitulah jika ayat dimakan mentah2 tanpa proses berpikir.
    Weik, jam segini komen. Ketok yen ra traweh :D
    Lho kan dah kyai!

  5. 1.Badan Amil Zakat harus malu diri dari kjdian itu. krn BAZ sdh g d prcaya lagi, bs jd hsl pmbgian zkt g jls !,
    2. Bg yg sadar zakat dgn nilai besar, bagusnya buat modal bkin pabrik ato apalah tarik tenaga kerja !
    3. Pemda stmpat g pantes bilang g tau !, kerja apa dia !. tau rasa kalo ad klrgnya yg trinjak2 nnti.
    4. Sadar smuanya bhw UANG bukan TUHAN. !

    slm kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s