Damaikan Aremania dan Bonekmania!


“Mengapa suporter tidak lebih dulu melakukan fair play, misalnya? Mau menerima sekontroversial apapun hasil pertandingan. Tak lagi melepas lemparan botol. Selalu mau membeli tiket masuk stadion. Hanya menyanyikan lagu yang bisa membakar semangat dan bukan memancing emosi kubu rival, terlebih jika lagu itu bernada rasis dan genosida.”

~ Hedi Novianto, blogger dan pemerhati sepak bola

Seharian ini saya mantengin keyword Aremania di Twitter lewat TweetDeck. Maklum, meskipun saya bukan pecinta sepakbola, kabar2 dari Malang pasca kemenangan tim Arema Indonesia di laga ISL kemarin bisa sedikit jadi obat kangen rumah. Sekaligus pingin tau suasana Kota Malang yang biasanya macet total di segala penjuru saat ada pawai kemenangan Aremania.

Dan benar saja, hasil pencarian keyword tersebut mayoritas diisi keluh kesah warga Malang yang terjebak kemacetan akibat konvoi yang tak terkendali. Yang lebih memprihatinkan, banyak juga yang melaporkan perusakan kendaraan plat L oleh beberapa peserta konvoi dan nyanyian2 hujatan yang ditujukan kepada Bonekmania, pendukung klub sepakbola Persebaya Surabaya.

Miris sekaligus malu. Sebegitu besarnya kebencian mereka, bahkan saat merayakan kemenanganpun kebencian terhadap klub supporter lain ditunjukkan secara nyata. Padahal yang mereka lakukan itu mencoreng muka sendiri dan muka warga Malang secara umum.

Saya tidak menutup mata bahwa tindakan mereka ini merupakan balasan dari perlakuan Bonekmania kepada mereka. Tapi mau sampai kapan kondisi seperti ini dibiarkan? Kapan warga Surabaya bisa dengan tenang melintas di jalanan Kota Malang tanpa diganggu tindakan rasis pendukung Aremania, begitu juga sebaliknya? Kapan kedua tim supporter bisa saling mendukung klub kesayangannya tanpa harus menunjukkan kebencial pada tim lain?

Mencari akar permasalahan yang mengawali permusuhan keduanya lalu menuding pelakunya tentu bukan barang mudah. Kedua tim supporter pasti akan punya argumen sendiri2 berdasarkan pengalaman kelamnya masing2. Apalagi perselisihan antar-supporter seperti ini melibatkan massa pendukung yang jumlahnya sangat banyak.

Berdamai

Di tengah2 panasnya gesekan antara kedua kubu supporter ini muncul sebuah gagasan untuk mendamaikan keduanya.

Melalui media situs Supporter Indonesia, seorang perwakilan Bonekmania menyampaikan keinginan mereka untuk berdamai dengan Aremania. Sebuah niat tulus yang didasari oleh rasa persaudaraan sebagai sesama putra Jawa Timur dan keinginan membangun persepakbolaan di Jawa Timur menjadi lebih baik.

“rumput berwarna hijau langit berwarna biru, keduanya begitu selaras & menghasilkan harmoni alam yang menakjubkan, kita pun harus seperti itu!”, begitu tulisnya. Catatan, hijau dan biru adalah warna dominan atribut kedua supporter.

Ajakan ini disambut baik oleh perwakilan Aremania dengan mengajak semua pihak untuk sama2 introspeksi diri demi perbaikan masing2.

“..lingkungan yang selalu mengajak kita ke arah yang salah meskipun nyatanya itu adalah kesalahan, tapi mengapa kesalahan yang tidak baik terus terulang? semua berawal dari fanatisme kebersamaan untuk melawan jika ada yang melawan”, tulis Tyo, seorang perwakilan Aremania.

“kalian adalah sahabat kami, dan kami adalah sahabat kalian, kita sama-sama lahir dari kekosongan dan kita tumbuh karena ada pengisian, jika pengisian itu baik maka akan baik pula kita”, tambahnya.

Tantangan

Sebuah terobosan yang, kalau mau jujur, bukan hal yang mudah dilakukan. Seorang rekan mengingatkan saya bahwa akan selalu ada bagian kelompok yang acuh bahkan menentang usaha perdamian ini.

Saya rasa itulah tantangan yang harus dihadapi. Tidak hanya oleh masing2 kubu, tapi oleh kita semua, masyarakat yang menginginkan perbaikan terhadap dunia persepakbolaan tanah air, khususnya Jawa Timur, untuk menyampaikan pesan damai ini seluas2nya. Menumbuhkan optimisme, bukannya bersikap persimis dan menyurutkan niat baik ini.

Karena itu, mari sama2 dukung Aremania dan Bonekmania untuk berdamai dan menjadi supporter santun kebanggaan Jawa Timur, kebanggan Indonesia.

19 tanggapan untuk “Damaikan Aremania dan Bonekmania!”

  1. – lelah rasanya melihat suporter arema keliling kota selama tujuh hari nonstop.
    – marah rasanya, ketika tadi siang melihat seorang ibu [menangis campur marah] dan dua anaknya melapor ke polresta malang jika mobilnya digebrak gebrak aremania pas melintas di kawasan Rampal. ibu ini bercerita, ia ditarget uang, dan diludahi dan dicaci makian yang tak pantas di tulis di kolom komen blog ini.
    ibu ini mengaku trauma, begitu juga dua anaknya yang masih kecil, takut melihat lautan manusia biru yang terus saja konvoi dengan gaya ugal ugalan.
    -eneg rasanya denger aremania hanya koor lagu menghujat bonek, bikin lagu yang memberi semangat

    saya memimpikan iklim sepakbal endonesa yang damai fair dan harmonis

  2. Ping-balik: Gajah Joglo
  3. mudah2an bisa, kebanyakan malah orang yg memang senengnya rusuh…banyak suporter dari masing2 kedua kubu yg sebenernya baik2 aja. mau cari asap & apinya, udah ga jaman. suporter kedua kubu skrg ini malah ga ngerti apa asal usul musuhannya.

  4. @ Hedi: memangnya anda pernah turun melakukan penelitian apa kok sampe bisa nyimpulkan tidak tahu apa asal muasalnya ? lebih baik diem deh kalo gak ngerti masalah antara Aremania dan Bonek, anda pernah terjun di Aremanianya ? anda pernah terjun di Boneknya? kalau tidak ya sama aja No Action Talk Only…

    1. Mohon maaf kalo saya salah. Itu yang saya lihat selama sewaktu saya masih jadi suporter (aktif), meski bukan peneitian resmi. Saya bicara dengan teman2 pribadi dari Surabaya dan Malang, kesan itu yang saya tangkap.

      Sam Anto Baret pun mengatakan hal yang sama waktu Arema Batavia ultah tahun…sekitar thn 2004 atau 2005. Apa yang saya maksud di komen di atas adalah untuk suporter yg free rider, bukan mereka yg benar2 suporter asli (pendukung dan penggemar sepakbola).

      Syal Arema saya hilang ketika sedang sibuk bolak balik masuk kantor PSSI – tenda Arema Batavia untuk mengurus tiket Aremania. Nah yang seperti itulah free rider karena cuma bermodal kostum replika Arema. Suporter sejati tidak akan berbuat ulah. Atau bagaimana kemarin di Senayan ada sejumlah oknum suporter free rider yang minta air minum dari Arema Batavia tapi kemudian dijual kembali. Dia ternyata pedagang.

      Orang2 dari kelompok inilah yang saya maksud sebagai tak tahu asal usul dan justru kerap menjadi biang kerok.

      Sekali lagi, saya mohon maaf kalo dianggap NATO. Salam 1 jiwa, jes

  5. @Sam Ardi n Herdy: G perlu debat masalah asal usul pertikaian aremania n bonek. G ad gunae, Aq Arema, Di Jkt juga anggota Arema Batavia 2000-2004. Aq yo tau susah senange jd sporter, Dibalangi, misuhi, tawoer kro bonek yo tau.. Tapi Aq pingin damai, dulu ya dulu, sekarang damai, apa masih kurang ta niate? Apa harus diseleksi dulu yg mau damai? Wes tala rek.. Opo se enake Tawoer iku???? Mari Gandengan tangan, bareng2 nang senayan..

    1. suwon kabeh q yow bonek ttep bloh jatim dwe?
      q pngen indonesia damai anti nurdin halid….
      musuh bonek ckrang hanyalah nurdin halid…….
      sampai mati nurdin akan kami kejar…
      q yakin bonek berdamai dengan aremania…
      salam 1 jiwa n’ nyali ” jatim “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s