Guyonan Nggak Mutu Figur Publik di Televisi


“Publik figur dan pejabat publik adalah orang-orang yang ketika mengeluarkan pernyataan akan menggiring opini publik. Dan itu akan sangat membahayakan karena ujung-ujungnya orang nanti akan menganggap perkosaan itu masalah sepele, bukan kejahatan.”

~ Helga Worotitjan, aktivis Lentera Indonesia seperti dikutip oleh detik.com.

Pernyataannya ini terkait reaksi masyarakat (sebagian besar yang saya tau, di twitter) terhadap guyonan Olga Syahputra di acara Dekade yang ditayangkan langsung oleh Trans7 dan TransTV tadi malam. Di acara itu, Olga membuat masalah perkosaan menjadi bahan guyonan. Beritanya bisa Anda ikuti sendiri di sini.

Dengan spontan dan tanpa sedikitpun punya rasa, guyonan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Ironis ya. Di saat kasus pemerkosaan membutuhkan banyak perhatian dan tindakan, seorang figur publik justru membuatnya sebagai bahan candaan nggak bermutu di acara TV yang disiarkan langsung dan ditonton jutaan penonton pula.

Tapi meskipun sudah dikecam banyak orang, dia bukannya minta maaf, malah bikin statement yang bikin gemes.

Lebih parahnya lagi, Olga dibela para fansnya. Terus terang saya kasihan sama mereka, karena nggak (mau) tau kalau idolanya yang mereka bela mati-matian itu salah. Mereka sama mati rasanya dengan Olga. Padahal seperti pernyataan Helga yang saya kutip di atas tadi, apa yang diucapkan Olga bisa membentuk opini bagi para fansnya. Akibatnya, mereka juga bakal menganggap masalah perkosaan sebagai sesuatu yang sepele dan bisa dibecandain.

Dari awal, banyak yang nggak suka gaya lawakan Olga. Saya juga. Alasannya ya itu tadi, mulutnya nggak difilter. Di ranah publik macam Twitter saya melihat banyak yang mengeluhkan ini. Tapi entah kenapa masih sering saja dia muncul di televisi. Mungkin memang beginilah selera penonton televisi di Indonesia. Dan stasiun televisi melihatnya sebagai pasar yang potensial. Miris ya.

Saya setuju dengan pernyataan pihak Komisi Penyiaran Indonesia yang dikutip oleh detik, bahwa “publik punya hak untuk dihormati”. Sudah seharusnya stasiun televisi wajib memberikan hak itu. Salah satunya saya pikir adalah dengan melakukan seleksi figur publik yang mereka libatkan pada acara2 yang mereka tayangkan. Artinya, figur publik yang tidak sejalan dengan misi menghormati hak publik tidak sepatutnya mereka libatkan.

Update:

Ini rekaman tayangan Dekade yang dimaksud. Olga melontarkan guyonannya itu di menit 4:40. Geser saja langsung ke menit tersebut.

Update 18 Desember 2011:

Perkembangan kasus ini semakin bikin saya geleng-geleng. Simak twit rekan saya di bawah ini:

16 tanggapan untuk “Guyonan Nggak Mutu Figur Publik di Televisi”

  1. Saya malah kasian sama Olga yang hatinya sudah mati dan tidak peka lagi terhadap perasaan publik tentang masalah yang dia jadikan guyonan itu. Duh, mbok ya jaga omongan to kalo udah jadi publik figur. Masyarakat tu gak butuh banyolan kamu Om Olga. Mending ngomong yang bermanfaat aja ..lebih banyak ngajak kpd kebaikan lebih enak lho =))

    Oh ya, this post is really a nice post. Keep working on it! Sangat bermanfaat =D

  2. Sejak pagi saya bingung harus menanggapi bagaimana soal kasus ini. Di satu sisi memang nyebelin sih itu komentarnya Olga. Pinginnya marah juga.

    Tapi jadi inget kalo saya juga seneng nonton video komedi yang malah bawa-bawa agama. Agama saya di-“canda”-kan dan saya malah ngakak. Akhirnya ga jadi marah, gara-gara takut nanti dianggap ga konsisten.

    #komentarababil

  3. …Olga kan ga laki-laki amat, bisa dikategorikan waria lah, (mungkin saja) ato malah bukan mungkin (tapi pasti) kalo dia waria, bencong ato apalah yg lebih suka kepada cowok, laki-laki… Dari banyolan itu dapat ditarik kesimpulan kalo Olga tu pernah diperkosa dan dia malah senenng, bahkan minta tambah. Saya dan mungkin teman-teman yang menyayangkan banyolan itu berharap agar dia ga dipakai lagi di stasiun televisi manapun…

    1. Saya berharap pihak televisi swasta manapun sadar,bahwa tayangan yang menampilkan Olga selama ini tak lebih dari sampah! orang sudah muak dengan lawakan tak lucu dan kasar dan sering SARA, selama ini sudah banyak perlakuan kasar dipertontonkan di televisi mulai menghina Waljinah, Klantink, Iwan Fals dan umpatan-umpatan di acara dahsyat (gembel, dasar mlarat, anak kampung, udik, dasar miskin, yatim piatu elo, dasar kaum duafa dan masih banyak lagi), Olga sudah lupa pada masa lalunya yang juga hina, mengapa ia tak sadar juga? inilah dunia infotainment, kemalangan orang selalu dijadikan lawakan dan candaan !

  4. Karena figur yang memunculkan guyonan ini adalah Olga. Saya jadi tergelitik lebihnya lagi adalah, karena dia Olga. Figur Olga sendiri rasanya sudah menjadi guyon, yang enggak bagus juga, dengan pembawaannya yang melambai tersebut. Seolah menjadi melambai adalah sesuatu yang lucu. Saya enggak tau kalau dia beneran melambai atau enggak di kesehariannya, saya rasa itu masalah lain :D

    Tapi yah, guyonan terhadap perkosaan ini memang blunder. Terlebih lagi Olga yang pembawaan melambainya buat saya itu udah kekurangan tersendiri dalam penampilannya dia. Mungkin di sini saya jadi merasa bersalah juga kayak Nazieb, dulu saya ketawa juga kok nonton Aming jadi Pinky Boy.

    Cuma ya sekarang saya rasa emang udah perlu ada pertimbangan lagi soal peguyon macam mana yang sehat dan macam mana yang enggak sehat. Boleh saja yang enggak sehat tetap tampil, tapi penonton harus tahu kalau si peguyon itu ngasih guyonan yang enggak sehat.

  5. memang seharusnya ada filterisasi atau seleksi publik fugur yang akan jadi konsumsi publik. karena tanpa disadari kebiasaan2 mereka akan merubah karakter masyarakat, khususnya dimulai dari kalangan remaja.

  6. Jadi public figur itu nggak gampang. Sekalinya keseleo tingkah laku dan nggak ada penyesalan atau permintaan maaf ya akan merusak image-nya sendiri. Lama-lama orang akan males juga pakai jasa dia…

  7. Ada banyak kandidat juga yang kayaknya akan menyusul Olga soal “banci kasar” ini. Itu termasuk Ivan Gunawan dan siapa itu si botak di acara The Hits-nya Trans TV. Heran saja, memangnya presenter Indonesia sekarang banci semua ya? Atau syarat jadi presenter bagus itu ada kolom bertulis: Apakah ada banci? (jika tidak, silakan mundur)” ??

  8. Dengan Ini Kami Menyatakan :
    Olga Banci Kaleng yg TIDAK BERMUTU SAMA SEKALI.
    Olga Banci OKB yg Tidak Punya Empati Sama Sekali Terhadap PENDERITAAN Orang Lain.
    Olga Banci Rombeng yg Hanya CarMuk & JilPan terhadap Orang yg Status Sosialnya di atas dia.
    Olga Banci Kampung yg Kacang Lupa Kulitnya dan Hobby MENGHINA ORANG LAIN.
    Olga Banci Kaleng yg MULUTNYA SEPERTI KALENG ROMBENG.
    Olga Banci Kaleng yg Wajahnya Membuat GUE and Temen2 Gue Mau MUNTAH.
    Olga Banci Kaleng yg Menjual Cerita Masalalunya yg Miskin Tuk Mencari Simpati & Menjadi Kaya.
    Berhati2lah Karna MASA KEJAYAAN MU AKAN SEGERA BERAKHIR.
    MULUT MU ADALAH HARIMAU MU.

  9. olga-olga ingat dulu nasib lu ga sebagus ini, skrg ketika sudah banyak duit malah jadi kurang ajar, tuhan itu adil olga.. yang lu lakuin itu dosa.. tingkah laku anak2 sudah banyak yang niru kelakuan lu yang ga bener itu.. mudah2an lu diberi balasan yang setimpal,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s