2012-04-29_09-23-52_52

Wisata Alam: Air Terjun Cibeureum, Cibodas


Lama tinggal di Jakarta, saya kangen juga dengan suasana alam. Di Malang, saya masih bisa hiking ke Panderman atau kalau mau yang agak dekat ya bawa motor ke Gunung Banyak, lokasi paralayang di Batu. Maka hari Sabtu kemarin saya dan tiga orang teman lainnya sepakat berangkat ke Cibodas untuk hiking ke Air Terjun Cibeureum, Cibodas.

Cibodas sendiri sebenarnya adalah jalur awal pendakian menuju Gunung Pangrango dan Gunung Gede, tapi kali ini kami hanya berniat ke air terjunnya. Mungkin satu saat kami memutuskan untuk benar2 hiking hingga ke puncak.

Menuju Cibodas

Dengan mengendarai motor, kami berempat berangkat malam hari dari Jakarta. Walaupun diterpa hawa dingin dan beberapa kali sempat berhenti di kawasan puncak karena hujan, sekitar tengah malam sampai juga kami di Kawasan Wisata Cibodas.

Di gerbang masuk kawasan tersebut kami membayar biaya retribusi sebesar Rp 3000 per orang dan Rp 2000 per kendaraan. Totalnya Rp 16000. Tapi anehnya kami hanya dapat 2 karcis perorangan (bukannya 4) dan 1 karcis motor (bukannya 2). Itupun setelah teman saya memaksa meminta karcisnya.

Karcis masuk yang sebagian diembat petugas.
Karcis masuk yang sebagian diembat petugas.

Mungkin hal ini jadi “pemasukan tambahan” bagi para petugas di sana. Karcis yang nggak diberikan ke pengunjung, tentu uangnya masuk kantong sendiri.

Menginap Semalam

Kami menumpang di salah satu dari sekian banyak warung yang ada di lokasi tersebut. Sebuah warung nasi sederhana yang letaknya di ujung jalan, tepat sebelum jalan menuju ke lokasi air terjun.

Setelah menghangatkan diri dengan semangkuk mie rebus dan secangkir kopi, kami beristirahat semalam di situ. Yang spesial tentu saja karena ada colokan listrik yang bisa kami pakai untuk mengisi ulang baterai ponsel masing2. Dasar orang kota.

Bu Nar dan keluarganya (pemilik warung tersebut) menyediakan kasur dan bantal seadanya di ruang tengah yang memang diperuntukkan bagi para pengunjung yang menginap. Lebih dari cukup bagi kami untuk melepas lelah, meskipun tidur saya kurang nyenyak karena kedinginan. Bahkan jaket yang saya pakai dan selimut yang disediakan pun nggak mampu menghalau dinginnya udara malam itu.

Tapi sepertinya saya terlalu lelah merutuk. Perjalanan dari Jakarta menggunakan motor benar2 membuat pinggang saya serasa copot. Ditambah lagi jok motor yang saya tumpangi nggak manusiawi bentuknya.

Pendakian

Esok paginya, sekitar pukul 7, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi Air Terjun Cibeureum. Sepeda motor dan tas kami titipkan di warung Bu Nar. Hanya tas dengan isi barang2 penting yang kami bawa ke atas, seperti bekal makanan dan minuman, peralatan P3K, jaket dan telepon genggam.

Bobo, pemilik motor yang joknya nggak manusiawi itu.
Bobo, pemilik motor yang joknya nggak manusiawi itu.
Menuju lokasi air terjun
Menuju lokasi air terjun

Di pos setelah pintu masuk, kami membayar lagi biaya retribusi pengunjung sebesar Rp 3000 per orang, termasuk donasi Rp 500. Banyak bener tarikannya ya?

Karcis retribusi pengunjung (lagi)
Karcis retribusi pengunjung (lagi)

Perjalanan ke lokasi air terjun sejauh hampir 3 km dengan medan yang mayoritas menanjak kami tempuh dengan berjalan kaki melalui undakan bebatuan yang basah dan sedikit licin akibat hujan semalam.

Selamat datang di jalur interpretasi CIBODAS
Selamat datang di jalur interpretasi CIBODAS
Undakan bebatuan yang basah dan licin.
Undakan bebatuan yang basah dan licin.

Sepanjang perjalanan kami menikmati hutan hujan di kanan-kiri serta kicauan berbagai macam burung. Sesekali kami juga mendengar dan melihat kera2 yang bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya.

Monyet
Monyet

Telaga Biru

Dalam perjalanan, kami berhenti di sebuah telaga untuk beristirahat. Telaga biru namanya. Diberi nama seperti ini karena telaga yang dikeliling hutan itu memang airnya berwarna biru. Entah apa yang membuatnya seperti itu.

Telaga Biru
Telaga Biru

Di sekitar tempat kami berhenti, pohon2 tua menjulang ke atas dengan sulur2 panjang dan lumut yang membungkusnya. Saya kembali merasakan kedekatan dengan alam.

Majestic!
Majestic!

Rawa Panyangcangan

Beberapa ratus meter dari telaga, kami melintasi rawa di atas jembatan yang tersusun dari balok2 batu buatan. Berbeda dengan jalur sebelumnya, di sini kami dengan bebas melihat ke kejauhan karena nggak banyak pohon2 besar di sekitar jembatan. Hanya beberapa tanaman rawa dan pepohonan pisang setinggi orang dewasa.

Menuju Rawa Panyangcangan.
Menuju Rawa Panyangcangan.
Jembatan yang membelah rawa itu.
Jembatan yang membelah rawa itu.

Air Terjun Cibeureum

Setelah kembali melanjutkan perjalanan melewati undakan bebatuan, air terjun mulai tampak dari kejauhan. Gemuruhnya juga makin terdengar. Semangat kami yang dari awal sudah terkikis akibat jalan yang terus menanjak akhirnya pulih lagi.

Air terjun mulai tampak di kejauhan.
Air terjun mulai tampak di kejauhan.

Tiba di lokasi air terjun, saya bersyukur. Ternyata persiapan fisik dengan jalan kaki pulang pergi ke kantor selama 3 hari berturut-turut nggak sia2.

Air Terjun Cibeureum!
Air Terjun Cibeureum!

Ada tiga buah air terjun di lokasi ini. Air terjun utama ada di paling kiri, sementara makin ke kanan melewati rerimbunan, air terjunnya makin kecil. Saya lalu membanding2kan dengan Coban Rondo, air terjun di Batu, Jawa Timur. Sepertinya memang nggak setinggi itu. Kolamnyapun nggak seluas Coban Rondo. Tapi di sini ada tiga air terjun. Di Coban Rondo hanya ada satu (bener nggak sih?).

Nevermind. Intinya kami sudah sampai di tujuan dan ritual foto2 di sekitar air terjun bisa segera dilangsungkan.

Bukan boyband
Bukan boyband

Untuk bisa berfoto dengan pemandangan air terjun sebagai latar belakang kami harus menunggu hingga agak sepi karena banyak pengunjung yang mandi di kolam air terjun. Nggak asik kan kalau di background foto keren kami ada pria2 tak layak pandang sedang mandi bertelanjang dada.

Mas2 yang di belakang itu posenya...
Mas2 yang di belakang itu posenya…

Di sekitar air terjun ada beberapa gazebo yang bisa digunakan untuk duduk2, sebuah bangunan toilet yang sepertinya berfungsi juga sebagai kamar ganti, dan sebuah tempat sholat outdoor. Keren.

Perjalanan Turun

Puas bersenang2 di air terjun, kami memutuskan untuk turun. Perjalanan turun nggak kalah sengsaranya dengan naik, karena kami harus menyangga berat badan tiap kali menuruni anak tangga. Lumayan membuat kaki pegal2.

Tiba kembali di pos awal, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di dalam pondok sambil melihat foto2 dan informasi mengenai Air Terjun Cibeureum dan jalur pendakian hingga ke Gunung Gede.

Dalam hati saya berkata, “Satu saat, satu saat saya akan naik hingga ke puncak”. Amin!

Beberapa Tips

Bagi Anda yang berencana ke sini, beberapa tips ini semoga berguna.

Kalau Anda berancana menginap malam harinya seperti saya, saya sarankan Anda untuk menginap di warung Bu Nar. Lokasinya tepat sebelum jalan naik ke lokasi air terjun. Letaknya persis di sebelah toilet umum, jadi Anda nggak repot kalo kebelet. Tapi harap diingat, warung Bu Nar hanya buka saat hari2 libur aja.

Warung Bu Nar
Warung Bu Nar
Bu Nar dan putrinya
Bu Nar dan putrinya

Bu Nar ini orangnya ramah. Harga makanannya pun sangat wajar. Tempat istirahatnya, seperti yang saya ceritakan di atas, nyaman meskipun seadanya. Anda juga bisa menitipkan kendaraan dan barang bawaan Anda di sini.

Bicara soal makanan, lebih baik Anda beli di warung2 seperti ini ketimbang warung2 di tengah area parkir. Beneran deh. Ada pengalaman buruk saat saya dan seorang teman mencoba membeli mie ayam di salah satu warung tenda di area parkir ini. Sudahlah harganya mahal (15ribu per mangkok), rasanya pun nggak jelas.

Rasa kuahnya aneh. Taburan ayamnya saya rasa hanya potongan kulit dan tulang leher yang warnanya menghancurkan selera. Yang paling parah adalah baksonya. Dalam satu mangkok Anda akan mendapat 2 bakso: besar dan kecil. Bakso yang kecil nggak lain hanyalah kanji yang diberi perasa sekedarnya. Sedangkan yang besar hanya gajih yang dibungkus kanji.

Dan bukannya mau memfitnah, tapi menurut teman saya, bakso yang besar rasanya seperti B2. Wallaahu ‘alam. Maka sebaiknya Anda hindari. Hitung2 penghematan.

Warung mie ayam abal2
Warung mie ayam abal2
Hati2 dengan warung2 mie ayam abal2 seperti ini. 
Hati2 dengan warung2 mie ayam abal2 seperti ini. 

Kami berdua sama2 nggak menghabiskan mie yang sudah kami beli mahal2 itu dan memutuskan untuk makan siang di warung Bu Nar saja.

Masih soal makanan, sebaiknya Anda bawa bekal makanan ringan dari rumah. Terutama untuk dimakan dalam perjalanan menuju air terjun. Saya menyarankan makanan yang bisa menambah energi Anda. Tempo hari saya bawa beberapa batang Snickers, cukup mengganjal perut dan mengembalikan tenaga.

Air minum bawa saja secukupnya. Minum sedikit2 selama perjalanan. Jangan menenggaknya sekaligus. Karena selain akan cepat habis, bikin kebelet pipis, biasanya juga akan membuat Anda makin malas melanjutkan perjalanan.

Cukup tentang makanan dan minuman, sekarang mari kita bicara pakaian. Kaos oblong sudah lebih dari cukup digunakan selama perjalanan ke lokasi air terjun. Tapi jangan lupakan juga jaket dan kaos kaki untuk menghangatkan diri pada malam/pagi hari sebelum naik ke atas. Jika punya kupluk, sebaiknya bawa juga. Lumayan menghangatkan kepala dan telinga.

Tak ada salahnya juga membawa pakaian basahan kalau nantinya berniat main air di lokasi air terjun.

Selama perjalanan ke atas, usahakan berpakaian simple yang membuat anda bebas bergerak. Beberapa kali saya menemukan rombongan yang berpakaian dan berdandan layaknya akan pergi ke mall. Selain akan merepotkan Anda sendiri, kasihan juga yang ngeliat.

Alas kaki pun demikian. Sandal jepit sebenarnya cukup. Tapi tentunya akan lebih nyaman menggunakan sandal/sepatu hiking. Nyeker pun tak masalah. Wedges, high heels, pantofel sangat nggak disarankan.

Selanjutnya, nikmati perjalanan Anda. Jangan terlalu memikirkan jarak yang makin lama makin terasa jauh. Nikmati pemandangan di kiri dan kanan. Hirup udara segara yang berlimpah, mumpung sedang di sini. Foto2. Nikmati saja. Nggak usah melangkah terlalu terburu2. Karena selain melelahkan dan menghabiskan nafas, Anda bakal melewatkan keindahan alam yang belum tentu tiap hari bisa ditemui ini.

Yang terakhir dan nggak kalah penting, jagalah kebersihan. Jangan membuang sampah sembarangan. Sediakan plastik untuk menampung sampah2 Anda. Ingat, kalau tiap2 kita ikut menjaga kebersihan dan kelestariannya, maka satu saat datang lagi, kita masih mendapati Cibodas yang bersih dan asri.

20 tanggapan untuk “Wisata Alam: Air Terjun Cibeureum, Cibodas”

    1. Air terjun Cibeureum Cibodas memang sangat fantastis,,, indah, sejuk, bersih, nyaman, pokoknya puas dechhhh…… kebetulan saya juga dah pernah kesana. Mantap Mas,,,,,,

  1. wah.. sayang nih air terjun waktu saya muncak ke gunung gede ngak sekalian disamperin :(
    padahal tinggal belok dikit aja dari jaluk pendakian.
    btw, kalau mau muncak dikit lagi ada air terjun air panas kalau ngak salah :p
    ngak sekalian kemaren mas?

  2. Walaupun saya udah berkali2 ke cibodas tapi ga ada bosen’a pergi kesana..n masalah parkir emank banyak pungli’a..
    D pintu masuk bayar parkir motor 11 ribu n d dalam parkir d tagih lagi 3 ribu..padahal cuma 1 motor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s