Sepenggal Cerita di Jalanan Jakarta


Hari minggu lalu, saya dan istri pulang dari rumah mertua di Pondok Kelapa menuju kontrakan di daerah Pasar Minggu. Seperti biasa, saya melewati jalur Duren Sawit – Tebet untuk nantinya masuk ke jalan Saharjo.

Saya nggak pernah suka jalur ini, terutama malam hari. Selain rawan kejahatan, juga rawan kecelakaan. Trek lurus dengan jalan yang lebar membuat pengemudi (khususnya motor) serasa punya arena akrobat pribadi. Seenaknya memacu kendaraan di atas batas normal (emang ada gitu batas kecepatan normal di Jakarta?) sambil memamerkan keahliannya kebodohannya dalam berzig-zag dan memotong jalur pengendara lain.

Kecelakaan dengan korban meninggal terakhir yang saya ketahui melalui media sosial terjadi bulan lalu saat bulan puasa. Dua pengendara motor yang berboncengan tewas terlindas mobil dari arah berlawanan di daerah pondok bambu. Entah siapa yang salah pada kejadian itu. Tapi tentunya ini terjadi karena kelalaian seseorang di jalan raya.

Di sepanjang perjalanan itu saya terus berpikir, kenapa banyak orang Indonesia yang abai memikirkan konsekuensi tindakannya di jalan raya terhadap keselamatan dirinya dan orang lain? Kenapa selalu terburu-buru?

Kenapa bertindak bodoh dengan mengemudi ugal-ugalan, mengoperasikan ponsel, nggak menyalakan lampu pada malam hari, nggak menggunakan pelindung kepala atau dengan santai dan tanpa rasa bersalah mengambil jalur yang berlawanan arah?

Kenapa nggak bisa menghormati pengguna jalan lain dengan budaya memberi jalan, memberi isyarat yang jelas saat akan belok dan sebagainya?

Dan yang makin membuat saya nggak habis pikir, kenapa dibiarkan oleh polisi? Tiap kali melintas di jalur ini, saya nggak pernah melihat adanya petugas patroli yang bersiaga menindak pengendara-pengendara lalai yang jumlahnya makin bertambah banyak saja ini.

Lucu kalau kemudian pada setiap kecelakaan polisi hanya berlindung di balik argumen “kami sudah berkali-kali memberi himbauan”. Seakan mereka nggak sadar bahwa orang Indonesia nggak akan berubah hanya dengan himbauan tanpa adanya sanksi tegas yang bukan angin-anginan.

Tampaknya saya dan Anda memang nggak bisa mengandalkan peran para “pelindung dan pengayom” ini karena mereka memang terbukti nggak mampu. Tinggalah kita yang harus menjaga diri sendiri agar tidak menjadi korban kebodohan orang lain di jalan.

Sampai di daerah Tebet, lamunan saya dibuyarkan oleh suara seseorang pengendara motor yang sepertinya ditujukan kepada kami. Saya menoleh dan melihat dua orang berboncengan motor tanpa helm mengingatkan istri saya bahwa baju panjangnya yang menjuntai ke bawah berpotensi membuatnya celaka.

Saya tersenyum, mengacungkan jempol tanda terima kasih, dan menepi untuk meminta istri saya membetulkan bajunya.

Sejenak saya tersadar ternyata masih ada orang yang meskipun bodoh (sadar atau tidak) tapi tetap peduli dengan keselamatan orang lain. Ironis, aneh, sekaligus lucu. Tapi, sudah lah. Saya tetap bersyukur dan merasa sangat berterima kasih sudah diingatkan.

Oh, dan dua pengemudi motor yang tidak menggunakan helm tadi, semoga Tuhan melindungi mereka karena sudah menyelamatkan istri saya dari risiko kecelakaan.

11 tanggapan untuk “Sepenggal Cerita di Jalanan Jakarta”

  1. FYI: tenaga Polisi (di Jakarta) yang khusus didedikasikan (maupun diperbantukan) untuk menjaga lalu lintas itu ga terlalu banyak – jika dibandingkan dengan banyaknya kasus dan juga titik yang bisa menyebabkan kecelakaan. ingat ya, ini untuk menjaga lalu lintas, bukan menindak pelanggaran lalu lintas.

    makanya, menurut saya kalimat “kami sudah memberikan himbauan” itu sudah menjadi pilihan terbaik, dari pilihan terbatas yang tidak bisa ditambah pilihannya.

    anyway, soal tertib di jalan raya sendiri, untuk pribadi saya (mau tak mau) mengembalikan semuanya ke diri saya sendiri. yang terpenting saya sudah berusaha untuk taat aturan lalu lintas, (sebisa mungkin) tidak melanggar marka jalan, dan tetap melajukan kendaraan di batas aman (walau terkadang juga lupa :mrgreen: ).

    dan… soal orang bodoh yang masih mengingatkan orang lain agar lebih hati-hati, yang penting ambil sisi positifnya aja.. ^^

    1. Iya, sadar kok bahwa jumlah personelnya kurang. Tapi mereka jadi lebih kreatif untuk mengatasinya juga nggak. Himbauan2nya juga cuma kalimat2 klise gitu. Coba sekali2 bikin himbauan segede billboard dengan tulisan2 yang keras dan menampar macam: JGN NYTR SMBL PAKE HP, GBLK!

      Yang juga bikin sebel karena yang sering ditindak adalah pelanggaran yang itu2 aja: menerobos lampu merah atau salah belok, misalnya. Belum pernah tau atau lihat sendiri ada pengendara berponsel ria yang diberentiin dan ditindak.

      Padahal ngejar pengendara motor yang lagi smsan pasti lebih gampang ketimbang ngejar penerobos lampu merah, secara mereka nggak sadar kalo lagi diincer. Atau mungkin karena dendanya dikit kali ya?

      1. mungkin, kebetulan aja yang keliatan sama mas gum penindakan terhadap pelanggaran adalah yang itu-itu aja.

        kalo saya pribadi, pernah liat sih 1x ada Polisi yang menindak pengendara motor yang menggunakan ponsel sambil berkendara. tapi, itupun dia lepas lagi. sempat saya tanya kenapa dilepas lagi, jawabannya (entah benar atau tidak) adalah dia hendak memberikan peringatan sebelum kemudian diproses hukum (melalui tilang).

        saya juga pernah menceritakan soal peristiwa di atas ke Polisi yang saya temui saat hendak membayar pajak STNK dan juga perpanjangan SIM, jawabannya kurang lebih sama: peringatan baru proses hukum. lebih lanjut petugas Polisi itu bercerita, kalau tugas Polisi adalah mengayomi dan melindungi, dan pengayoman ini banyak sekali penafsirannya.

        anyway, komentar saya ini bukannya membela atau membenarkan semua tindakan Polisi sih. saya cuma sharing pengalaman saya pribadi. karena, kalo saya yang jadi Polisi-nya, mungkin saya udah ngasih surat tilang bejibun buat siapapun yang kegep berkendara sambil menggunakan ponsel. kalo perlu malah, menggunakan ponsel dalam radius tertentu di SPBU (atau pompa BBM) saya usulkan sebagai salah satu bentuk tilang. :D

        1. “anyway, komentar saya ini bukannya membela atau membenarkan semua tindakan Polisi sih”

          Oh, nggak apa2 bil. It’s always good to have another point of view :)

  2. Aku pernah juga diingetin sama pengendara motor tanpa helm kalau jas hujan rawan nyangkut di roda. Aku juga pernah ditawarin bonceng sama orang yang padahal naik motornya udah berdua. Aku sih ngeliat itu sebagai hal yang menarik. Semua orang masih ada sisi sosialnya kok. Walau yang nggak peduli juga banyak. Dan motor2 di jakarta itu emang rupa2 macemnya. Yang tega banget nggak turunin kecepatan padahal ada yg nyeberang jalan, ada. Yang baik banget berhenti cuma buat ngambilin syal orang yg jatuh juga ada.. *pengalaman*

      1. Akoh ngetren dimarih. YAY! #halah

        Harusnya waktu dia balikin syal aku genggam tangannya sambil tanya ukuran eh nomer henponnya ya..

        *mengingat2 kali aja ada kejadian serupa nantinya*

  3. “Sampai di daerah Tebet, lamunan saya dibuyarkan oleh suara seseorang pengendara motor yang sepertinya ditujukan kepada kami. Saya menoleh dan melihat dua orang berboncengan motor tanpa helm mengingatkan istri saya bahwa baju panjangnya yang menjuntai ke bawah berpotensi membuatnya celaka.”

    Lha iya, mereka sendiri sebenarnya juga berpotensi celaka lho ya :( Semoga besok-besok mereka sudah sadar pentingnya pakai helm, yaaaa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s