Rejeki


Sepulang kerja tadi, karena kelaparan akut, saya dan istri mampir ke warung seafood langganan di Kalimalang. Tapi nggak seperti biasanya, area parkir yang di malam2 sebelumnya selalu penuh sesak, malam ini terlihat sangat lengang. Bahkan motor saya satu2nya yang parkir di situ.

Kondisi di dalam warung juga sama sepinya. Saat kami datang, mas2 penjualnya malah hanya duduk2 karena memang sedang nggak ada pengunjung satupun. Mungkin karena memang sudah agak malam, pikir saya. Saat itu kami sampai di lokasi sekitar jam sembilan.

Kami memilih tempat duduk dan memesan beberapa menu termasuk kerang hijau rebus favorit saya. Tidak sampai menunggu lama, pesanan datang dan kami pun mulai makan.

Sedang asik ngobrol sambil menghabiskan sepiring kerang, datang serombongan pengunjung berjumlah kira2 10 orang. Tampaknya seperti rombongan rekan2 sejawat, sekelompok pria dan wanita dari sebuah kantor, yang menyempatkan mampir makan di warung itu sepulang kerja. Suasana jadi ramai oleh canda tawa mereka. Mas2 penjual juga mulai sibuk hilir-mudik mencatat dan mengantar pesanan.

Nggak lama kemudian, datang serombongan lagi. Kali ini keluarga kecil: sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuan mereka yang berusia sekitar 7 tahun. Mereka memilih meja nggak jauh dari rombongan sebelumnya.

Belum juga lewat limabelas menit, rombongan lain datang. Disusul rombongan lain lagi. Dan lagi. Suasana warung jadi terlihat makin penuh, ramai dan sibuk.

Dengan nada bercanda, saya berbisik ke istri, “Sebelum kita datang tadi, warungnya sepi. Begitu kita datang, langsung ramai pengunjung. Berarti kita ngerejekeni, bawa rejeki. Mestinya kita bisa minta diskon.”

Istri saya hanya senyum sambil menyeruput teh tawar hangat yang dipesannya tadi.

“Terus siapa yang bawain rejeki buat kita ya?”, celetukan mendadak saya itu membuatnya hampir keselek.

Candaan garing, tapi membuat saya merenung.

Saya percaya rejeki memang sudah diatur. Tinggal kejutan seberapa besar, kapan dan lewat mana, itu yang selalu menarik untuk diamati (dan ditunggu, tentunya). Tapi kalau memang belum waktunya, sebesar apapun kita berharap ya belum bisa kita terima.

Mendadak saya jadi teringat rejeki yang belum saatnya kami peroleh bulan puasa kemarin, meskipun kami sudah lama mendambakan dan sempat berbahagia saat merasa akan segera memilikinya. Tapi Tuhan maha adil. Dia tahu kami belum siap menerima rejeki sebesar itu, karena itu ditundaNya. DisuruhNya kami untuk introspeksi dan menyiapkan diri lahir-batin dulu.

Ada juga kejadian saat seorang teman dan seorang mantan rekan sejawat dulu yang mendadak menghubungi saya di saat yang hampir bersamaan, menawarkan sesuatu yang bisa dibilang dapat memperbaiki kondisi finansial saya secara signifikan. Tapi lagi2, dua2nya batal, juga di saat yang hampir bersamaan.

Dinamika hidup. Dinikmati saja proses dan kejutan2nya. Ikhlas saja bekerja dan sukuri yang sudah dimiliki. Karena Tuhan bilang, Dia akan limpahkan rejeki kalau kita pandai bersukur.

Mungkin mas2 penjual di warung tadi juga berpikir demikian. Nikmati saja ngobrol di warung saat sedang menunggu pengunjung datang. Nggak perlu mengeluhkan sepinya pengunjung hingga malam hari. Kalau memang sudah waktunya, rejeki itu akan datang lewat mana saja, termasuk melalui saya yang kebetulan malam ini ikut jadi perantara datangnya rejeki mereka.

Saya menghentikan lamunan dan meneruskan menyantap aneka olahan seafood di hadapan saya.

Rupanya hidangan santap malam yang sedikit demi sedikit mulai memenuhi lambung ini memaksa angin di dalamnya terdesak keluar. Beberapa kali saya buang gas. Efek telat makan ditambah seharian berada di ruang ber-AC memang seperti itu: kembung.

Di kesempatan terakhir saya buang gas, istri saya mendadak nyeletuk, “Jangan2 kentutmu itu yang punya daya tarik bikin mereka kemari.”

Kali ini gantian saya yang hampir menyemburkan teh hangat dari hidung.

*sambit pakai kepala udang*

18 tanggapan untuk “Rejeki”

  1. Gegara Mas Gum nulis begini, jadi teringat rejeki-rejeki yang cuma numpang lewat di telinga. Mungkin belum saatnya, ya.
    *mikir sambil nempelin punggung kayak cecak di dinding kontrakan*

    Semoga rejekinya Mas Gum dan Kei, juga rejeki saya dan keluarga ditumpahruahkan semuanya, dilapangkan jalannya, pada waktunya nanti.

    Amiinn

  2. tulisan yg bagus, gum. betul, rejeki udah ada yg ngatur. yg gak kebagian rejeki cuma orang males atau yg kurang tekun berusaha. menurutku sih gitu :D

  3. hais.. tulisannya dalem bener… :D

    mendadak jadi ingat beberapa kejadian tentang rejeki juga di rumah. selalu yang bisa mengambil hikmahnya sedalam ini ya si Mas :) saya sebagai istri kadang malah ‘cuma’ menjadi teman curhat dan mendengar keluh kesah. kadang saya berpikir kenapa sih saya ndak bisa mengambil hikmah seperti si Mas? kenapa sih saya malah memposisikan diri sebagai ‘cuma teman curhat?’ hehehe
    padahal berada dalam posisi ‘cuma’ itu artinya sangat besar buat si Mas, suami, dan pemimpin rumah tangga :) dukungan sekecil apapun selalu bisa membawa energi besar untuk usaha sekecil apapun.

    ah kok saya malah ngelantur hehehe :p yah semoga masih berhubungan dengan rejeki juga.

  4. tiap kali saya dapat musibah gitu kadang mikir “what have I done wrong?” tapi setelah pikirannya jernih lagi akhirnya bisa mikir mungkin saya gak salah apa-apa. ya memang mungkin belum rejekinya, belum saatnya. mending bersyukur ajalah dikasihnya apa :D thanks mas gum

  5. Mampir mas. kebetulan nemu blog sampean ni. lama bnget g tahu kbrny sejak q menghilang dr peredaran wktu di C7 dl. msh ingat diriku kah?

      1. baik.i’m fulltime mom now,alhmdllh Syifa dh pny adek 2 :).mudah2an dirimu jg sgr menyusul berkembang biak yaa…Btw ap tau kbr mb rita n mb erlin,dh merit kah?

  6. Riyadhoh Surat Alam Nasroh

    Insyaallah sebagai lantaran menjadikan hidup makmur, serba kecukupan, lunas hutang, bisnis lancar.. Riyadhoh ini harus disertai dengan kerja keras dan punya usaha karena rejeki tidak akan datang dengan sendirinya tanpa kita harus bekerja keras lahir dan batin!!

    Mari kembali ke jalan Allah!!Tinggalkan ritual-ritual pesugihan hitam sesat yang meminta bantuan Iblis laknatullah

    Dengan riyadoh ini kita semakin dekat kepada Allah, rejeki lancar dan hajat duniawi insyaalah terwujud sehingga tidak diperlukan lagi ritual-ritual yang tidak masuk akal, sesat apalagi sia-sia.

    Manfaat Riyadhoh Surah Alam Nasroh:

    1. Membuka pintu kerejekian
    2.Melancarkan usaha apapun yang dijalani
    3. Disegani, dimulyakan masyarakat dan semua orang
    4.Ketenangan hati
    5.Percepat karir dan jabatan
    6.Tarik rejeki dari berbagai penjuru
    7.Cepat mendapatkan pekerjaan (cocok diamalkan bagi pengangguran dan siapapun yang butuh karir dan uang yang lebih dengan berpindah ke perusahaan lain)
    8.Memperlancar perpanjangan kontrak kerja
    9.Melanggengkan jabatan
    10.Raih jabatan
    11.Raih tender/kontrak kerja
    12.Panen Berlimpah

    Syarat kesemuanya: YAKIN! SABAR! TAWAKAL!

    Salam
    Padepokan Assalam

    Pengijazahan:
    Hub Kislamet
    Kislamet777@gmail.com

    Terima kasih kepada pengasuh blog tiyangsae

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s