“Sungkemku Nang Bapak”

Itu kalimat yang hampir selalu saya ucapkan di akhir percakapan dengan ibu melalui telepon. Dan ya memang hanya bisa itu, karena pendengaran bapak yang makin menurun nggak memungkinkan saya untuk berbicara langsung dengannya lewat telepon.

Seperti di hari jadi pernikahan mereka yang ke-45 hari ini.

Sejak hampir 20 tahun lalu, saya jadi saksi runtuhnya rasa percaya diri bapak sedikit demi sedikit, seiring menurunnya pendengaran yang makin parah pasca operasi pengangkatan polip dari dalam rongga hidungnya.

Bapak mulai sering memilih menolak hadir di acara pengajian atau pertemuan rutin warga. Bahkan di rumah, kami jadi terbawa untuk berbicara dengan suara keras dengannya. Nggak jarang ini berujung salah paham dan membuatnya tersinggung.

Ke luar rumah atau sekadar menerima tamu pun nggak bisa lagi dilakukannya sendirian. Harus ada yang membantu menyampaikan ulang apa yang diucapkan orang lain.

Sebenarnya bukan karena suara kami yang terdengar pelan olehnya, tapi karena bapak selalu merasa telinganya berdenging cukup kencang sehingga mengganggu pendengaran.

Pernah satu saat bapak meminta saya menempelkan telinga ke telinganya, berharap saya juga bisa mendengar suara denging itu. Tentu saya nggak mendengar apapun.

Anehnya, bapak hampir selalu bisa menangkap apa yang diucapkan cucu2nya walau mereka nggak berteriak. Entahlah, mungkin berbeda dengan orang dewasa, suara anak kecil punya rentang frekuensi tertentu yang bisa didengar bapak.

Tapi bapak tetap bapak. Pendengaran yang menurun nggak lantas membuatnya frustrasi berkepanjangan.

Bapak lebih memilih menyibukkan diri dengan apa saja: berkebun, beternak, merawat tanaman, membetulkan rumah, mengurus cucu, apa saja yang bisa mengalihkan perhatiannya.

Kesibukannya hampir nggak ada yang berubah dibandingkan dengan saat pendengarannya masih normal. Kecuali tentu tenaganya yang sudah nggak lagi seperti dulu, dan kedua matanya yang makin sensitif terhadap cahaya akibat operasi katarak beberapa tahun lalu.

***

“Aku titip pesen,” saya bilang, sebelum menutup pembicaraan dengan ibu di telepon hari ini.

“Lek bapak ora mireng iku mbok yo dicedaki terus dibisiki, cek romantis. Ojo malah dibengoki teko adohan. Padhane tarsan.”

(Kalau bapak nggak denger, dideketin terus dibisikin lah, biar romantis. Jangan malah diteriakin dari jauh. Emang tarsan?)

“Sungkemku nang bapak.”

Iklan

One thought on ““Sungkemku Nang Bapak””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s