Studio Bakso: Restoran Bakso Buat Pecinta Fotografi

Dari sudut pandang konsumen kita mengamati tren bisnis kuliner yang makin bergeser, nggak hanya sekadar menjual produk tapi juga “menjual” tempat dan suasana.

Sepuluh tahun lalu rasanya nggak banyak tempat ngopi dan rumah makan di Malang yang memberikan perhatian lebih pada tampilan bangunannya. Selain kafe dan resto yang memang menyasar konsumen berduit tebal, warung kopi dan kedai bakso biasanya ya begitu-begitu saja bentuknya: sekadar ada meja dan kursi untuk pelanggan yang makan-minum di tempat.

Belakangan ini penampilan interior dan eksterior sepertinya mulai menjadi hal utama yang dipertimbangkan saat akan membuka tempat berjualan makanan dan minuman. Saya rasa ini berkat peran internet juga. Para pengusaha mulai melihat potensi eksposur foto dan video di jejaring sosial, misalnya, sebagai alat pemasaran yang sangat efektif, apalagi jika datang dari sesama pengunjung yang biasanya jadi rujukan utama calon pengunjung lainnya.

Kesan itulah yang saya dapat saat mengunjungi Studio Bakso di Jalan Sukarno Hatta Malang pertengahan Oktober kemarin. Setiap sudut ruangannya dipenuhi instalasi seni yang mengundang pengunjung untuk mengarahkan kamera ponsel dan mengabadikannya. Kesan bersih, modern, dan artsy bisa dijumpai di mana-mana. Bahkan sudut teras lantai duanya juga nggak luput dari sentuhan seni.

Tampilan interiornya yang apik juga didukung dengan penataan cahaya yang bagus. Rasanya nggak berlebihan kalau saya bilang pecinta food photography, atau bahkan fotografi secara umum, akan menemukan secuil surganya di sini.

Nggak hanya mempercantik penampilan, Studio Bakso juga berinovasi melalui menunya. Selain sajian bakso dan somay yang lazim kita temui di kedai-kedai bakso pada umumnya, mereka juga punya menu unik seperti Bakso Gantung Cocolan Kekinian dengan Pilihan Saos (yang juga) Kekinian.

Selain masalah istilah “kekinian” yang menurut saya overused (seriously, c’mon) dan kuah yang kurang cocok buat saya, saya nggak punya komplain lain.

Oh iya, kuah. Mari kita bahas kuahnya. Tadinya saya pikir cuma saya yang kurang sreg sama kuahnya. Ternyata beberapa teman yang saat itu makan bareng juga punya komentar serupa. Agak disayangkan mengingat hal pertama yang dicicipi orang ketika mulai menyantap semangkuk bakso adalah kuahnya karena di situlah soul-nya. Maka kesan dari sesapan kuah pertama itu sangat menentukan penilaian terhadap keseluruhan hidangan, bahkan bisa mempengaruhi kesan terhadap kedainya.

Tapi saya masih punya harapan mereka akan memperbaiki rasa kuahnya. Lagipula restoran ini masih tergolong baru. Masih banyak ruang yang bisa dibenahi. Sangat berharap ketika datang lagi satu hari nanti, saya akan menemukan kuah yang lebih nikmat, melengkapi rasa baksonya.

Nah, sekarang baksonya. Meski rasa kuahnya agak meleset dari ekspektasi, tapi segera termaafkan dengan rasa baksonya yang punya tingkat chewy yang pas. Nggak terlalu keras, juga nggak terlalu lunak, dan rasanya juga enak. Terlebih ketika baksonya dilumuri keju American Cheese yang berlimpah. Saya pribadi bukan penggemar keju, tapi melihat reaksi seorang teman saat menyantapnya, saya bisa bayangkan bahagianya para pecinta keju mencoba menu ini.

Tapi jangan terlalu percaya apa kata saya, datang dan nilai sendiri saja. Mumpung mereka juga sedang mengadakan kontes fotografi berhadiah voucher dan hadiah hiburan lainnya. Kabar-kabar kalau Anda menang kompetisi berkat informasi di blog ini ya. Nggak, saya nggak minta jatah kok. Pingin tau aja.