Style dan Karakter

Dua hal ini mungkin selalu menjadi masalah bagi semua orang dalam berkarya. Menulis, menggambar, bermusik. Apapun.

Intan pernah bilang ke saya, bahwa hal tersulit dalam menulis cerita fiksi adalah penokohan dan penentuan karakter. Termasuk di dalamnya, pemberian nama. Karena itulah dia lebih sering membuat fanfic, yang tokoh2nya diambil dari kehidupan nyata. Dari sebuah grup band, misalnya. Nama dan karakternya sama. Cuma ceritanya aja yang beda2.

Dalam menggambar hal ini juga terjadi. Sejak pertama kali saya bisa menggambar, sampai akhirnya saya lupa caranya seperti sekarang, kesulitannya juga itu. Style dan Karakter.

gum.jpg

Saya nggak pernah bisa menampilkan style asli saya. Karakter dan goresan saya banyak dipengaruhi sama mangaka komik2 Jepang seperti Akira Toriyama, Masakazu Katsura, atau Hojo Sensei.

Lagipula, siapa sih yang nggak? Murid2 SD, SMP, SMA sampai mahasiswa akutpun saat menggambar sangat terpengaruh dengan karakter2 semacam itu. Nggak semua, memang. Tapi kebanyakan seperti itu, mengingat derasnya gempuran komik2 Jepang di Indonesia. Pekan Komik Indonesia dari tahun ke tahun juga masih dimeriahkan dengan style seperti itu.

Makanya saya salut sama orang2 yang bisa berkarakter dalam menggores pena. Temen saya yang satu ini, contohnya. Awalnya goresan2nya nggak jauh2 dari karakter komik Jepang. Tapi lambat laun karakternya sendiri makin nggak bisa ditebak, artinya, berbeda. Sampai2 kita nggak bisa menemukan kekhasannya.

Beda dengan mangaka2 yang saya sebut di atas, yang style goresannya sama dari komik ke komik. Toriyama sensei, misalnya. Dengan mudah bisa Anda kenali goresannya di Dragon Ball, Dr. Slump, Neko Majin, dan manga2 beliau yang lain. Begitu juga Masakazu Katsura di DNA, Video Girl dan I”s.

Being different is great, but difficult.

Ini saya rasakan juga dalam menulis blog. Saya nggak menampilkan karakter2 fiksi memang. Tapi tetap saja nggak bisa punya gaya menulis yang berbeda dengan dan topik yang khusus. Selalu terlihat seperti orang lain. Sepakat sama yang dibilang Pak Kurtubi, bahwa bikin tulisan bergenre khusus memang nggak mudah.

Ah, tapi jam terbang saya memang rendah kok. Makanya keep on witing aja lah. Apapun hasilnya.

O iya, keep on writing juga ya… ;)
*wink at someone*

From Skin to Skin

Though I really love that ‘Thirteen’ theme, I dont really like the way it handles blockquote tags. That’s rather annoying because I’m gonna put much quotes here.

So I use this one, instead.

But I dont really like the way this theme handles lists T_T

sigh….

Resolution VS Wish list

New Year Resolutions.
Do you have any? well, I do have some too. But I won’t post them here, forget it.

What’s more ridiculous than publishing your own new year resolutions and letting poeple see that you don’t do any progress to achieve them? I prefer to let them left untold.

So for those who haven’t decide to publish your new year resolutions, take my advice : don’t. Keep ’em for yourself. Don’t let anyone knows, because it’s about you and yourself. And for those who had, good luck.

But do publish your wishlist, because wishlists are good, and you don’t have to feel ashamed for finding that next year you still can’t afford them.

Um… whatever.

So, here’s mine :

  1. A RAINCOAT (for God’s sake!!)
  2. Bass guitar, either electric or accoustic, complete with it’s sound system.
  3. Graphire or Intuos3 professional pen tablet
  4. Brand new PC for home use, with LCD monitor.
  5. Semi pro Digital Camera (Canon is preferable)
  6. Better skills.

    —-

    Walaupun

    Seharian ini saya sibuk rapih2in ‘rumah baru’. Bongkar-pasang widget, coba ini-itu, explore kesana-kemari, blablabla…blablabla…

    Tapi punya account di WordPress memang nggak sebebas dibandingkan install enginenya di domain sendiri. Saat Anda mendaftar disini, semua diberikan apa adanya, nggak banyak yang bisa di-customize. Buat saya – yang memang nggak pinter otak-atik halaman web – ini sih udah cukup. Walaupun pilihan themenya terbatas, walaupun widgetnya itu2 aja, walaupun supaya bisa edit css harus bayar, walaupun… *halah*. Jadi ya itu yang saya lakukan. Customize the customizables (ada ya istilah ini?).

    Waktu lagi nyari2 template yang pas, akhirnya dapet theme ini. Thirteen namanya, buatan mbak ini (hi, mbak ^^). Nggak tau kenapa, saya langsung ‘clicked’ sama theme ini. Mungkin karena tanggal lahir saya juga thirteen. Atau karena thirteen dekat dengan fourteen. Tapi yang jelas, pernik eksotis di sebelah kiri atas itu yang bikin saya kesengsem. Warna dominannya juga teduh di mata, walaupun tag line blog ini nggak muncul, walaupun style untuk title widget ‘Recent Posts’ kadang agak aneh, walaupun ada gambar kupu2nya, walaupun… (hum, jadi deja vu).

    Lanjut ke urusan blogroll. Untuk nambah link ke blogroll di wordpress, Anda harus masukin satu per satu. Buat saya yang sudah muak dengan pekerjaan2 manual yang seharusnya bisa diotomatisasi, hal ini jelas ‘not an option’. Saya nggak mau buang hidup cuma2 hanya buat masukin link satu per satu. Untungnya wordpress punya fasilitas untuk import link dari file OPML. Tapi sialnya, blogspot nggak mendukung export link ke file ini. Jadi ngambil link dari blogspot juga ‘not an option’. Lucky me, feeds dari link2 tersebut ada di google reader dan dia menyediakan fasilitas exportnya. Maka bertenggerlah ‘The Outsiders’ di sidebar. Walaupun saya harus konvert OPML-nya google reader supaya fit buat WP, walaupun script buat konvertnya modif dari hasil googling, walaupun saya buta regex, walaupun…. ah, sudahlah.

    Rumahnya sudah baru. Themenya juga baru.
    Tinggal ngumpulin semangat buat bikin postingan2 baru.