Anuan Jakarta

Sore tadi Simbok tiba2 sms saya, ngajak ketemuan di Plaza Semanggi bareng Goenrock dan yang lainnya. Kesempatan, pikir saya, untuk bisa ketemuan sama KoJakers.

Baru bisa berangkat jam 7 malam karena nyonya udah keburu pulang waktu saya sms soal ini. Kalau bisa ngasih tau lebih awal, mungkin tadi saya bisa sekalian jemput nyonya sebelum ke Plaza Semanggi.

O iya, perlu dicatat, yang kami lakukan tadi bukan kopdar, tapi anuan. Karena saru tampaknya untuk mengucapkan ‘that K word’ :))

anuan

Jadi inilah peserta anuan tadi (kiri-kanan): Omith, Simbok Venus and Precils, Oki, Suprie, Nyonya, Saya, Goen, Chic (Joey ikutan dateng, tapi pas sedang nggak di situ), Epat.

img_5258_resize_resize

Dan dengan beranuannya kami dengan para KoJakers itu, lengkap sudah persyaratan untuk diterima jadi member milis KoJak. Goen langsung meng-invite saya dan nyonya saat itu juga.

It’s fun to have some new friends, online or offline. Makasih semuanya. Terutama Simbok yang rela bertaksi ria dari/ke lokasi, dan Goen yang udah invite saya dan nyonya ke milis.

Free Java Jazz Ticket, Here I Come!

Bermodalkan hasil print screen google maps yang dikopi ke hape, akhirnya sukses juga saya bawa motor ke kantornya Maveric Indonesia buat ngambil tiket Java Jazz Festival untuk tanggal 7 besok. Jauh ternyata, Pondok Kelapa ke Kebayoran Baru euy. Tiket ini hadiah blog contest yang diadain sama AXIS kemarin. Nggak nyangka sebetulnya postingan dadakan itu kepilih jadi salah satu pemenang.

Saya ketemu dengan Adit, Ney dan Hanny dari Maverick. Ngobrol sejenak tentang awal mula saya suka jazz, sampai akhirnya saya disuruh nyanyi! Tobat, deh. Tapi nggak apa2 deh, demi Java Jazz saya rela diapain aja :))

Jadi inilah yang saya bawa pulang tadi :D

javajazzticket

Tadinya saya mau sekalian bawa koleksi coin di rumah buat dikasihin ke Hanny untuk ikutan program Coin A Chance-nya, karena saya nggak pernah bisa ikutan dateng ke Coin Collecting Day. Cuma karena tadi nggak yakin bisa ketemu dia, jadinya saya batalin. But still she gave me a sticker :D

coinachance

“Thanks. Coinnya besok di venue ya.”

Nice to see you all, guys. Thanks to AXIS for the ticket and the wristband. I’ll see you there tomorrow. (bye)

——

Postingan2 lain yang menjadi pemenang AXIS JAVA JAZZ Blogging Contest
Ichanx
Ladybug
Sementara baru 2 itu yang terendus oleh saya. Updated soon. Kalo inget :p

Oops…

dsc00586_res

Foto ini saya ambil tadi malam waktu menemani nyonya belanja di salah satu swalayan di daerah Jakarta Timur.

Di tengah rasa kantuk, pusing dan sempoyongannya saya karena beberapa malam begadang, pandangan saya tertuju ke sebuah pemandangan unik. Sejurus kemudian kamera hape K800i saya mengabadikannya.

Lucu juga. Seolah2 sebungkus makanan ringan yang jatuh ke lantai itu bilang, “Oops, i fell…”

:D

Katepe oh katepe

Setelah pindah ke Jakarta dan resmi menjadi warga gelap selama beberapa minggu di sini (tanpa KTP dan nggak terdaftar di KK manapun), hari ini saya mulai ngurus KTP ke kelurahan dan kecamatan dengan bekal surat pengantar dari RT/RW di tempat tinggal nyonya.

Di kantor kelurahan cuma diminta nyumbang PMI dua ribu perak. Padahal kalo di Malang, pasti ditodong dengan kata2 “biaya administrasi seikhlasnya, mas.” :))

Gini deh, yang namanya biaya administrasi RESMI, harusnya sudah ada ketentuannya kan? Maksud saya besar biaya dan alokasinya. Jadi kalau ‘seikhlasnya’, ya Anda pikir sendiri ;)

Beres urusan di kelurahan, saya ke kantor kecamatan yang bau pesing itu. Nah, di sini yang bikin saya lumayan jengkel. Ternyata ada dokumen yang harus difotokopi dulu sebelum dibawa ke kecamatan dan petugas di kelurahan tadi sama sekali nggak ngasih tau. Akibatnya, saya mesti cari2 tempat fotokopi yang ternyata lumayan jauh dari kantor kecamatan.

Setelah menyerahkan hasil fotokopian, ibu2 petugas di kecamatan nanya ke saya, “Aslinya mana, mas?”

“Malang, bu”, kata saya sambil cengar-cengir. Ah, petugas kecamatan di sini lumayan baik, masih mau ngajak ngobrol basa-basi. Yah, setidaknya bikin kejengkelan saya terhadap kepesingan tadi lumayan luntur.

Tapi ternyata saya salah. Karena setelah itu si ibu akhirnya bilang, “Bukaaan, itu dokumen aslinya tadi manaa??”

eh… kecut… tengsin, buang muka sejauh2nya.

Urusan di kecamatan akhirnya beres dengan biaya duabelas ribu. Sepuluh ribu adalah denda karena saya terlambat ngurusnya, dan dua ribu lagi(-lagi) untuk dana PMI. Yeah! Dan sayapun disuruh balik ke kelurahan.

Di kelurahan, dokumen masuk, kasih foto selembar, no additional fee. Beres. Keren!

“Oke, mas. Berkasnya sudah lengkap semua”, kata si bapak. Sukurlah, kata saya dalam hati. “Tinggal nunggu sampai katepenya jadi ya”, tambahnya.

“Kapan, pak?”, tanya saya berbinar2.

“Juni 2009”

*pingsan*

skcp_crop

silakan diklik untuk ukuran penuhnya.

Yah, setidaknya saya jadi ikut antusias nunggu pilpress 2009 nanti. Bukan karena saya kegatelan pingin nyoblos. Tapi saat itu katepe saya jadi.

Anda yang punya pengalaman sebagai petugas kelurahan/kecamatan di Jakarta, atau malah yang pernah jadi pendatang kayak saya, mohon seikhlasnya sharing di kolom komen, dong. Enam bulan itu wajar nggak sih untuk sekedar nunggu katepe jadi?