Kulo Tiyang Sae

mimpi. firasat, kah?

October 26, 2009 · 6 Comments

buat sebagian orang, mimpi bisa jadi cuma sekedar bunga tidur, visualisasi apa yang pernah terjadi dan tersimpan di memori yang tanpa sadar muncul di alam bawah sadar. buat sebagian lagi, yang gifted, mimpi bisa jadi sebuah early warning tentang hal2 yang akan terjadi. baik atau buruk.

untuk yang terakhir ini, sebagian orang mungkin ada yang menyikapinya dengan parno, meskipun seharusnya berhati2 saja sudah cukup.

ibu saya, contohnya. sejak saya kecil, setiap kali habis bermimpi tentang hal2 yang dinilainya sebagai ‘firasat buruk’, beliau selalu berpesan kepada anak2nya untuk extra hati2 seharian itu, banyak2 istighfar dan lebih waspada.

bukannya menginginkan firasatnya terbukti, tapi alhamdulillah hingga saat ini seingat saya belum ada hal buruk yang terjadi mengikuti mimpi buruk beliau.

saya? wah, terus terang saya juga nggak tau bagaimana seharusnya menyikapi sebuah firasat lewat mimpi. walaupun beberapa kali pernah mengalami melihat sesuatu lewat mimpi sebelum akhinya benar2 terjadi.

ngeri juga sebetulnya.

akhir bulan lalu saya mimpi tentang sesuatu yang benar2 bikin saya ketakutan setengah mati. mungkin sebagian dari anda pernah mimpi melihat sesuatu yang besar, sangat besar, dan anda mendadak merasa amat kerdil dan nggak berdaya. ketakutan. sangat ketakutan.

malam itu saya mimpi melihat langit di atas saya terutup awan tebal yang bergolak, seperti sedang diaduk2 dan seakan2 bakal jatuh seluruhnya ke bumi. angin bertiup sangat kencang, seperti badai.

di kejauhan saya melihat sesuatu yang amat besar muncul dari dalam tanah. benda itu terlihat sangat jauh dari tempat saya berdiri dan tampak samar tertutup kabut dan debu. tapi tetap terlihat sangat besar dan memandangnya perlahan2 keluar dari dalam bumi membuat saya kaku dan lemas pada saat yang bersamaan. ketakutan.

makin lama benda itu makin terlihat jelas seiring dengan makin tipisnya kabut yang sedari tadi menyelimutinya. makin jelas hingga saya yakin bahwa saya sedang melihat kubah sebuah masjid yang amat besar, keluar dari dalam bumi, diikuti dengan menara2nya. bayangkan saja kubah Taj Mahal yang besarnya ribuan kali lipat.

langit masih gelap, awan masih bergolak, angin masih kencang. saya nggak ingat lagi gimana kelanjutannya.

…dua hari kemudian, tanah sumatera diguncang gempa hebat.

saya nggak mau dan nggak berani menghubung2kan mimpi saya dengan bencana dahsyat yang mengguncang padang dan sekitarnya itu. tapi entah kenapa, rasa takutnya begitu mirip.

pagi ini, saya bangun lagi dengan rasa takut yang sama. melihat sesuatu yang berbeda di dalam mimpi, tapi sama menakutkannya. istri saya bahkan perlu beberapa saat untuk bisa benar2 menyadarkan saya. sampai saat berangkat ke kantor tadi saya bahkan masih sempat refleks menutup mata ketika mendadak bayangan mimpi tadi muncul di pikiran saya.

sekali lagi, saya nggak mau dan nggak berani menghubung2kan apa yang muncul dalam mimpi saya dengan bencana apapun yang sudah, sedang atau akan terjadi.

mungkin saya aja yang sedang kecapekan setelah semaleman begadang. atau mungkin itu potongan scene sebuah film yang tanpa sadar muncul dalam mimpi saya. cuma Tuhan yang tau.

semoga memang hanya bunga tidur yang nggak berarti apa2.

amin.

→ 6 CommentsCategories: posts
Tagged:

font-style

October 26, 2009 · 7 Comments

disclaimer: postingan ini mengandung cerita dalam bahasa jawa yang, terus terang, lagi males saya translet :D

lagi utak-atik css, mendadak inget kejadian lucu waktu sma di malang dulu.

saya dan beberapa teman sekelas memutuskan untuk berlibur ke jogja. berangkat menggunakan kereta menjadi pilihan karena selain murah, tampaknya asik juga.

salah satu temen saya, sebut saja namanya sutris (bukan nama sebenarnya), selalu membutuhkan effort yang lebih untuk minta ijin ke orang tuanya tiap kali mau bepergian. apalagi sampai ke jogja segala.

“dalem badhe dhateng jogja kalihan rencang sak kelas, bu”, begitu dia menirukan saat dia minta ijin ke ibunya. ibunya membolehkan.

dan akhirnya memang diijinkan. kami berlima berlibur di jogja selama beberapa hari.

masalah muncul justru sepulang dari sana. saat orangtuanya mendapati sutris ternyata tidak berangkat dengan rombongan teman sekelas, seperti pengakuannya saat berangkat. nah lho…

“ibu wingenane ngecek nang sekolahan. jare sak kelas, lha kok mek arek limo?!”, ibunya menginterogasinya tepat saat sutris menginjakkan kaki pulang dari jogja.

temen saya spontan jawab, “lho lha nggih, bu. maksud dalem, lare gangsal niku sak kelas kalihan dalem…”

merasa dibohongi, ibunya tambah marah, “kowe sing temen lek ngomong karo ibu, tris. lek a, yo ngomong a. lek b, yo ngomong b!”

“lha kulo sampun temen kok, bu. lek a nggih kulo matur a. lek b nggih kulo matur b. tapi niki kan a-ne gedrik, b-ne cetak miring”, temen saya nggak mau kalah.

arek gendheng!! :))

kurang lebih begitulah yang dituturkan teman saya itu bertahun2 yang lalu. entah kenapa cerita ini masih melekat di otak saya dan (mungkin juga) 4 teman saya yang lain :D

→ 7 CommentsCategories: java · posts
Tagged: , ,

29

October 13, 2009 · 14 Comments

Tambah satuu mumurkuu… bukan keciil lagiiii… :D

Tahun lalu saya masih ngerayain ulang tahun sendirian, di kamar, telponan, bikin ‘kue ulang taun’ seadanya, tanpa ada tiup lilin, dan berbisik pada diri sendiri, ‘happy birthday, gum’.

IMG_4340

Tahun ini juga nggak ada kue ulang taun tepat saat tadi malam jam menunjukkan pukul 00.01. Tapi ada peluk dan cium sayang dari istri saya. Kado paling indah yang Tuhan pernah berikan :)

Alhamdulillah.

Mohon doanya supaya saya bisa jadi manusia, anak, lelaki, suami, teman yang lebih baik lagi :)

→ 14 CommentsCategories: posts
Tagged:

Bonus ala INDOSAT

October 8, 2009 · 8 Comments

Salah satu strategi perusahaan untuk menarik konsumen baru atau mempertahankan konsumen lama adalah dengan memberikan bonus. Bentuknya macam2, mulai dari potongan harga sampai pemberian hadiah (syarat dan ketentuan berlaku, tentunya).

Tapi namanya juga gratisan, konsumen nggak bisa berharap terlalu banyak. Ya suka2 yang ngasih lah. Kadang dapet yang lumayan, kadang malah useless.

Tadi pagi, misalnya. Saya dapet free 1 SMS ke sesama nomer INDOSAT karena telah menerima telepon dari operator lain lebih dari semenit.

Iya. INDOSAT. Free 1 SMS. Cuma 1. Ke sesama nomer INDOSAT pula.

OK lah, seperti yang saya bilang barusan, namanya juga bonus, ya suka2 yang ngasih. Tapi kalo SMS cuma sebiji doang ke sesama operator apa ya pantes dijadiin bonus?

*tepok jidat*

→ 8 CommentsCategories: posts

Melindungi, Mengayomi dan Melayani Masyarakat

September 16, 2009 · 10 Comments

Familiar dengan semboyan di atas? Betul, itu saya ambil dari semboyan kepolisian negeri ini.

Tapi sayang sekali semboyan yang mulia ini kadang dinodai oleh oknum2 polisi sendiri. Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat kepada lembaga kepolisian, ijinkan saya berbagi pengalaman nggak menyenangkan dengan sebagian oknum tersebut.

Hari Sabtu kemarin, selesai menghadiri acara Coin Collecting Day di Kedai Kopitiam Jalan Sabang, saya dan istri pulang menuju Pondok Kelapa melewati Jalan Sutan Syahrir (antara Bundaran HI dan Taman Menteng). Karena lampu lalulintas di perempatan sedang menyala hijau dan kendaraan di kiri-kanan masih berhenti, saya yang kebetulan saat itu adalah satu2nya pengguna jalan yang menuju ke arah taman mentengpun terus jalan.

Nggak lama setelah melewati perempatan, dari pinggir jalan yang gelap muncul seorang anggota polisi lalulintas menghentikan motor saya. Seorang lagi hanya duduk di sepeda motor dan memperhatikan.

Polisi yang menghentikan saya tadi menghampiri dan tiba2 menuduh, “Kalau lampu merah ya berhenti, mas”.

Kaget dengan tuduhan itu, sayapun menolak dikatakan demikian. Gimana nggak menolak, sampai saat saya berhenti di situ kendaraan dari arah kiri dan kanan bahkan masih belum jalan.

Sempat terjadi adu argumen antara saya dan polisi itu karena kami dianggap berbohong, sampai akhirnya istri saya ikut nggak terima dituduh seperti itu dan spontan berkata, “Astaghfirullah… bulan puasa, pak!”.

Merasa gertakannya nggak mempan, polisi tadi meminta saya menunjukkan surat2 sambil memeriksa kelengkapan motor saya. Karena tidak merasa menemukan hal2 yang bisa menjerat saya dengan pasal pelanggaran lalulitas apapun, polisi itu membiarkan saya meneruskan perjalanan, tanpa sedikitpun meminta maaf karena telah salah tuduh dan mengganggu perjalanan saya.

Dengan apa yang baru saja saya alami, rasanya sulit sekali untuk tidak berpikiran negatif. Termasuk pikiran negatif bahwa oknum polisi tersebut sengaja menjebak pengguna jalan dengan mencari2 alasan untuk menghentikan kendaraan dan akhirnya mencari2 kesalahan. Maafkan saya. Saya hanya berharap tidak ada lagi oknum polisi lalu lintas yang dengan seenaknya main tuduh terhadap pengguna jalan demi tujuan apapun.

Tentunya kita semua berharap agar setiap anggota kepolisian mampu mengemban semboyannya dengan sepenuh hati dengan nggak menunjukan sikap2 yang nggak terpuji.

→ 10 CommentsCategories: jakarta
Tagged: , ,