Kulo Tiyang Sae

Fitur Anti-theft di HP Samsung

June 18, 2009 · 13 Comments

Hi, everyone. It’s me again :)

Udah lama nggak update blog. Tapi kejadian barusan bikin saya tergelitik buat nulis lagi.

Ini tentang fitur pelacak di hp Samsung. Entah seri apa saja yang mendukung fitur ini, tapi yang jelas hp CDMA saya terdahulu  (SCH-S299) sudah mendukungnya.

Tentang bagaimana saya bisa tau fitur ini, sebenarnya lebih karena nggak sengaja. Tadi pagi saya dapet SMS dari nomer yang nggak saya kenal dengan isi:

“Mobile Tracker”
Please keep this message.
Sender: Gum

Jelas saya bingung. Hp ini saya kirim ke malang beberapa hari yang lalu karena mau dibeli sama mbak saya. Tapi sepertinya dia nggak akan iseng ngirim sms nggak jelas begitu. Penasaran, saya coba telpon ke nomer GSMnya.

Turns out, hape itu memang udah nyampe ke malang dan dia barusan masang SIM Card baru. Nomernya juga sama dengan pengirim SMS tadi. Tapi dia nggak ngerasa ngirim SMS ke siapapun.

Setelah googling, saya baru ngerti kalau Samsung punya fitur pelacak yang akan aktif saat hp berganti SIM Card. Namanya Mobile Tracker.

Cara kerjanya, user ‘mendaftarkan’ nomer hp alternatif di hp tersebut. Saat hp berganti tangan dan SIM Cardnya diganti, dia akan mengirimkan notifikasi ke nomer alternatif user tadi. Dengan begitu pemegang hp nggak akan sadar kalau nomernya sudah diketahui oleh pemilik asli hp tersebut.

Kalau kasusnya adalah kehilangan atau pencurian, pilihan selanjutnya terserah anda. Call/text the thief/founder and politely asking the phone back (with/without reward), atau melaporkannya ke operator seluler dan polisi.

Fitur ini sederhana tapi menurut saya cukup cerdik, karena hanya memanfaatkan teknologi SMS. Sepertinya sampai sekarang saya belum menemukan fitur serupa di hp lain. Kalaupun ada, mungkin sudah kelewat canggih dengan teknologi yang lebih baru.

Kalau anda pemakai hp Samsung, saya menyarankan untuk segera mengaktifkan fitur ini sebelum anda menyesal saat hp anda raib. Kalau bukan, mungkin anda bisa bagi2 tips anti-theft di kolom komentar :)

→ 13 CommentsCategories: posts
Tagged: , , , ,

Google’s Lost in Translation

April 15, 2009 · 15 Comments

googletranslate_logoWalaupun belum 100% akurat dan bahkan cenderung ngawur, kemampuan semantik Google Translate patut diacungi jempol. Mampu mengenali banyak kata dan ungkapan dalam banyak bahasa, itu bukan main2.

Kesulitannya menurut saya lebih disebabkan karena penggunaan dialek kedaerahan, singkatan2, istilah2 yang nggak baku kayak gini, susunan kalimat yang nggak mengikuti kaidah bahasa, ato bahasa2 gawol. Dan sepertinya karena itulah hasil terjemahan Bahasa Indonesia-Inggris dengan Google Translate jadi sering ngawur.

Iseng2 saya coba masukin url postingan saya tentang penipuan lewat telepon kemarin ke dalam Google Translate. Buat yang belum pernah baca versi aslinya (dalam Bahasa Indonesia nggak baku), mungkin akan kesulitan memahami hasil terjemahan ini.

googletranslate

Ini adalah beberapa potongan hasil terjemahan postingan tersebut.

“This afternoon I get a call from the mother in Malang that the story himself almost become victims of fraud via phone.”

Mungkin karena saya nggak secara eksplisit menyebut ‘ibu saya’, jadinya Google menerjemahkannya menjadi ‘the mother’. Oke lah, tapi gimana ceritanya ada ‘himself’ di situ?

“Like this kira2 pecakapan between mother (who at that time in the house I accompanied the two brothers) and actors who diceritakannya earlier.”

Pengulangan kata yang disingkat dengan angka 2 dan sebuah typo telah sukses membingungkan mesin penterjemahnya dan meninggalkan bentuk aslinya “as is” :D

“Son of a mother at home who?”, A perpetrator.

Kalimat aslinya sendiri memang sudah nggak baku, jadi nggak heran kalo terjemahannya juga aneh begini :D

“Nggak may pack, these children are at home make cakes.”

‘Nggak mungkin pak’ jadi ‘Nggak may pack’?? No komen deh =)).

Saya sih yakin Google akan tetap mengembangkan kemampuan semantiknya hingga dapat mengatasi masalah2 di atas. Tapi untuk sementara terima sajalah hasil terjemahan Google apa adanya, walaupun kadang membuat perut geli :D

Sisanya bisa anda baca sendiri. Masih banyak terjadi salah interpretasi yang disebabkan oleh penggunaan kata atau susunan kalimat yang nggak baku, bahkan karena ada beberapa kata yang memang belum dikenali.

Coba baca2 juga hasil terjemahan komen2nya. Ada yang kayak gini segala:

Hopefully the fraudster fraudster-safe world akherat deh.. :|

=))

→ 15 CommentsCategories: posts
Tagged: , ,

Tiyang Sae’s 2nd Anniversary

April 10, 2009 · 6 Comments

No special events, no special celebrations.

Semoga saya bisa jadi blogger yang kaffah di tahun2 mendatang.

Amin.

related:
Hey, It’s Been a Year Already

→ 6 CommentsCategories: posts
Tagged: ,

mending ngobrol sama…

April 4, 2009 · 5 Comments

ngobrol_sama_tai1

→ 5 CommentsCategories: posts
Tagged:

Hati-hati Penipuan Lewat Telepon

March 30, 2009 · 32 Comments

Pengalaman pahit yang pernah dialami keluarga Aryo terjadi juga di keluarga saya.

Sore ini saya mendapat telpon dari Ibu di Malang yang cerita bahwa dirinya hampir saja menjadi korban penipuan lewat telepon.

Seseorang yang mengaku petugas polisi lalu lintas menelpon ke rumah dan mengabarkan bahwa salah satu anggota keluarga saya mengalami kecelakaan dan sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit. Ibu yang nggak pernah dapat pengalaman seperti ini langsung percaya, padahal dari awal sudah muncul kejanggalan.

Seperti ini kira2 pecakapan antara ibu (yang saat itu berada di rumah ditemani kakak kedua saya) dan pelaku  yang diceritakannya tadi.

“Anak ibu yang di rumah siapa?”, tanya pelaku.

“Pipit, pak”, jawab Ibu saya.

“Anak ibu kecelakaan dan saat ini kondisinya kritis di rumah sakit Saiful Anwar”, pelaku mencoba meyakinkan ibu.

“Nggak mungkin pak, ini anaknya sedang bikin kue di rumah.”

Saya yakin saat itu si pelaku (yang nggak ngerti betul kondisi keluarga saya) sebetulnya sudah lumayan keder karena hampir ketahuan. Tapi sayangnya ibu lantas mengira yang kecelakaan adalah Mbak Lusi, kakak pertama saya.

Dalam keadaan panik dan kalut, ibu disuruh mencatat informasi dimana kakak saya dirawat, siapa dokter yang menangani, berikut nomer ponsel dokter tersebut.

Mbak Pipit sempat mengingatkan ibu tentang modus penipuan semacam ini. Dia lantas mengambil alih telpon dan mulai berbicara dengan pelaku yang kembali menegaskan untuk menghubungi nomer ponsel yang tadi diberikan, lalu menutup telepon.

Masih dalam kondisi kalut, ibu mencoba menghubungi suadara yang bekerja di rumah sakit tersebut untuk melihat kondisi Mbak Lusi (saat itu ibu masih percaya bahwa Mbak Lusi memang jadi korban kecelakaan), sementara Mbak Pipit mencoba menguhubungi Mbak Lusi lewat ponsel.

Tahu bahwa dua nomer Mbak Lusi nggak bisa dihubungi, ibu makin panik. Sampai akhirnya Mbak Pipit bisa menghubungi nomer ke tiga.

“Bu, iki lho Mbak Lusi”, kata Mbak Pipit sambil menyerahkan ponsel ke ibu.

Karena masih percaya bahwa kakak saya sedang dirawat di rumah sakit, ibu mengira yang berbicara di telpon adalah teman dekat Mbak Lusi yang kebetulan namanya juga Lusi.

“Lusi… Lusi yo’opo kondisine?!”, tanya ibu sambil menangis histeris.

“Iki aku, bu’e!”, Mbak Lusi meyakinkan ibu lewat telpon dan akhirnya ibu tersadar.

Saat itu juga Mbak Lusi yang sedang rapat dengan atasannya disuruh pulang ke rumah. Meski sudah jelas bahwa dirinya ditipu, ibu tetap bersikeras ingin melihat langsung bahwa kakak saya baik2 saja.

Nomer yang diberikan pelaku ternyata nggak bisa dihubungi. Kemungkinan besar dia mendengar saat Mbak Pipit memperingatkan ibu tentang modus penipuan semacam ini. Kalau saja pancingannya berhasil, bisa jadi pelaku akan membiarkan dirinya dihubungi via ponsel dan meminta sejumlah uang untuk ditransfer sebagai biaya pengobatan, atau semacamnya.

Sayangnya kakak saya sudah nggak menyimpan nomer itu. Padahal tadinya, entah gimana caranya, mau saya coba laporkan ke operator seluler atau bahkan polisi.

Tapi kami tetap bersyukur karena ternyata nggak ada anggota keluarga yang mengalami musibah. Dan hal ini jadi pelajaran berharga buat ibu yang memang terlalu mudah percaya kepada orang asing.

***

Penipuan semacam ini biasanya dilakukan dengan sebelumnya melakukan riset untuk mendapatkan nomer2 ponsel para anggota keluarga. Pada kejadian lain, seperti yang dialami keluarganya Aryo, pelaku berusaha meyakinkan salah satu anggota keluarga calon korban untuk mematikan ponselnya. Tujuannya agar pihak keluarga kesulitan menghubungi dan mengkonfirmasi berita yang disampaikan pelaku.

Sebenarnya tidak sulit untuk menghindar dari modus penipuan macam ini. Berikut beberapa tips dari saya.

  • Jangan terlalu mudah percaya pada orang asing yang berusaha meyakinkan anda lewat telpon tentang anggota keluarga yang mengalami kecelakaan, bahwa anda mendapatkan hadiah dan sebagainya. Acuhkan peringatan mematikan ponsel dengan alasan virus, mengganggu penyelidikan polisi dan semacamnya.
  • Kalau anda memang harus mematikan ponsel, beritahukan hal ini kepada pihak keluarga. Sebisa mungkin berikan juga nomer alternatif yang bisa dihubungi.
  • Saat mengalami kejadian seperti ini, gali sebanyak2nya informasi yang bisa didapatkan dari pelaku seperti nomer ponsel yang digunakan, darimana dia mendapatkan nomer anda dan semacamnya. Kalau mengaku dari sebuah instansi, tanyakan nama, pangkat, jabatan dan tempat dia bekerja. Lakukan cross-check berdasarkan data2 tersebut.
  • Selalu pamit dan kabarkan posisi anda saat di luar rumah kepada pihak keluarga. Jangan biarkan mereka cemas karena tidak ada kabar dari anda.

Mudah2an menjadi pelajaran buat kita semua. Tetap waspada!

→ 32 CommentsCategories: posts
Tagged: ,