Kulo Tiyang Sae

Tentang Kaidah Bahasa

March 19, 2009 · 6 Comments

Ada sebuah kaidah dalam Bahasa Indonesia yang mentransformasi 2 huruf vokal menjadi 1. Terjadi pada huruf vokal terakhir kata dasar dengan huruf vokal awal sebuah akhiran. Berikut contohnya:

keraton = ke-ratu-an (ua menjadi o)
sesajen = se-saji-an (ia menjadi e)

Nampaknya kaidah ini memang diserap dari bahasa daerah, khususnya jawa. Ada yang tau istilah untuk kaidah ini? Akan lebih baik kalau ada yang bisa memberikan referensi kaidah-kaidah Bahasa Indonesia lainnya.

Nah, tentang kaidah ini, selama ini saya selalu beranggapan bahwa kata ‘buron’ berasal dari kata ‘buru’ dengan akhiran ‘an’. Tapi ternyata di KBBI Daring ‘buron’ dianggap sebagai sebuah kata dasar karena bisa mendapat akhiran.

bu-ron n orang yg (sedang) diburu (oleh polisi); orang yg melarikan diri (krn dicari polisi);
bu-ron-an n buron

Ada yang bisa memberi pencerahan?

Categories: posts

6 responses so far ↓

  • mantan kyai // March 19, 2009 at 9:23 pm | Reply

    doh. maaf mas. saya sama sekali nggak paham soal bahasa. kecuali bahasa tubuh … ugh yes :D

  • Abdee // March 19, 2009 at 10:37 pm | Reply

    Keraton bukannya berasal dari kata Karaton. Dari situlah kemudian muncul pengucapan yang berubah sehingga menjadi kata Kraton.

    gum: tentang bagaimana variasi kata jadiannya, bisa jadi memang seperti itu. tapi menurut saya unsur2nya tetap sama, kata dasar ‘ratu’ diberi awalan ‘ke’ dan akhiran ‘an’

  • Novianto // March 20, 2009 at 2:02 am | Reply

    Garwo = Sigaring Nyowo alias pasangan hidup

  • titiw // March 20, 2009 at 4:42 pm | Reply

    Wah.. situ harus baca bukunya Remy Sylado alias alif danya munsyi mas.. yang judulnya “9 Dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing”. Pasti situ akan terkaget2.. eh kalo kata “KONDANGAN” tuh dari “ke undangan” gak sih..?

    gum: bisa jadi, tiw. tapi di kbbi daring ‘kondangan’ dianggap satu kata. kasusnya sama kayak buron di atas.

  • Sawali Tuhusetya // March 22, 2009 at 5:20 am | Reply

    ah, postingan yang menarik ini, mas. bisa menjadi kajian linguistik. sepanjang yang saya tahu, memang ada kecenderungan bagi pengguna bahasa dari kultue etnikjawa utk mempersingkat akhiran -an yang melekat pada kata yang berakhir fonem vokal. saya sendiri kok belum juga menemukan istilah yang tepat utk menyebut gejala ini. mungkin bisa dilacak lebih jauh melalui blog ini http://muslich-m.blogspot.com/

    gum: rekomendasi yang menarik, pak. bakal jadi referensi saya ke depan untuk masalah2 linguistik. terima kasih :)

  • lyra // March 23, 2009 at 2:43 am | Reply

    Kalo : buron = buru-an,
    Berarti : buronan = buru-an-an

    Aneh gak sih ? Hihihi… ^-^

Leave a Comment